Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Cinta yang hangat


__ADS_3

Pukul 21.25


Dua mobil baru saja sampai di halaman rumah kediaman Nugroho.


" Nino.. Apa kau tau, kenapa Nona memanggil kita? " tanya pak Sam ketika baru keluar dari mobil dan melihat Nino juga datang.


" Aku tidak tau, mengganggu kencan ku saja. " gerutu Nino. Pasalnya Nino sedang bersama kekasihnya mengingat malam ini adalah malam minggu, malam yang spesial bagi kaum lajang.


" Semoga saja bukan hal buruk. " gumam pak Sam.


Nino dan pak Sam masuk kedalam rumah, di ruang tamu ternyata Jia telah menunggu kedatangan mereka berdua.


" Malam Nona, ada perlu apa memanggil kami berdua? " tanya pak Sam sedikit menundukan kepalanya.


" Pak Sam, Nino.. kalian harus lembur malam ini. Sekarang, cepatlah masuk ke ruang kerja Brian. Dia sudah menunggu kalian. " ucap Jia.


" Tapi Nona, pak Briano tidak memberitahu untuk lembur sebelumnya. " Nino.


" Kalian tidak percaya padaku? Brian sendiri yang memintaku agar kalian segera datang. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada bos mu itu. " Jia.


" Baik Nona.. " ucap pak Sam dan Nino bersamaan.


Jia berniat melangkah menuju kamarnya, tapi baru satu langkah Jia berbalik lagi. " Nino kenapa wajahmu cemberut seperti itu, kau tidak suka aku memintamu datang kesini? "


" Sebenarnya aku sangat kesal, aku meninggalkan kekasihku begitu saja saat kencan. Tapi, mau bagaimana lagi, ini permintaan Nona kalau aku tidak menurutinya bisa kena marah sama bos." batin Nino.


" Tidak Nona, " jawab Nino.


" Tenang saja, nanti aku akan memberi kalian bonus.. " ucap Jia sambil mengedupkan sebelah matanya.


" Benarkah? " ucap Nino kegirangan.


" Tidak perlu Nona, " pak Sam.


" Aku pergi dulu, kalian cepatlah keruangan Brian. " Jia.


" Pak Sam ini kenapa menolak bonus dari Nona, " bisik Nino setelah kepergian Jia.


Pak Sam tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya lalu meninggalkan Nino menuju ruang kerja Brian.


~


Tok.. tok.. tok..


" Masuk. " Suara Brian dari dalam ruangan.


" Kalian! kanapa kesini? " tanya Dinda begitu tau yang baru masuk adalah Nino dan Pak Sam.


" Tuan yang memanggil kami untuk lembur. " jawab pak Sam.


Brian mengernyitkan keningnya, " Aku tidak menyuruh mereka untuk datang. " batin Brian.


Brian menggerakkan kepalanya seakan meminta penjelasan tanpa mengeluarkan suaranya.


Pak Sam yang mengerti maksud tuannya segera memberi jawaban. " Mungkin Tuan lupa, tadi siang anda meminta saya untuk datang dengan Nino. "


" Oh.. iya.. " jawab Brian memanggut - manggutkan kepalanya." Kau pintar sekali Jia, " batin Brian tersenyum menyadari jika istri nya tidak rela hanya berduaan dengan Dinda.


" Akh!!!! Sial!!! rencana ku gagal! kenapa mereka tiba - tiba kesini. " batin Dinda.


~


Pukul 23.45


Mereka menyelesaikan pekerjaannya, karena sudah terlalu malam, pak Sam dan Nino di minta untuk menginap.

__ADS_1


Dinda menuju kamar Sean untuk beristirahat, tetapi Dinda mendapati Jia tertidur disana.


" Bagus, kau tidur lah nyenyak disini. Aku akan menemani suamimu. Aku sungguh sangat beruntung malam ini. " gumam Dinda lalu kembali menutup pintu kamar Sean.


Di lihat Brian belum keluar dari ruangannya. " Oke, aku akan menunggumu di kamar. " Dinda dengan semangat menuju kamar Brian dan Jia.


Sesampainya di kamar, Dinda segera mematikan semua lampu yang ada di kamar untuk melancarkan niat buruknya. Dinda duduk di sofa untuk menunggu kedatangan Brian.


" Sebentar lagi kau akan menjadi milikku Brian. " ucap Dinda dengan penuh percaya diri.


Sementara itu, Brian baru saja keluar dari ruang kerjanya, ingin langsung ke kamar menemui istrinya tapi niatnya terurung Mengingat dirinya hari ini belum menemui Sean.


Dibuka pintu kamar Sean, Brian melebarkan senyuman melihat Jia yang tengah tertidur dengan anaknya.


Dielus, dikecup pipi Sean dengan sayang, setelah itu Brian membangunkan isinya.


" Sayang.. " Brian mengelus - elus pipi Jia. Melihat Jia tertidur sangat nyenyak, Brian bersiap untuk menggendong nya.


Jia yang merasa terganggu dalam tidurnya, segera mengercapkan kedua matanya.


" Kapten.. kau sudah selesai? " ucap Jia ketika Brian besiap mengangkatnya.


" Iya sayang, kita lanjutkan tidur di kamar. " Brian.


" Gendong... " rengek Jia meminta gendong sambil mengaitkan kedua tangannya di leher Brian.


" Dengan senang hati. " ucap Brian.


Jia di gendong seperti koala, sehingga bisa mengamati wajah suaminya sangat dekat.


" Kapten.. " ucap Jia di tengah perjalanan menuju kamar mereka.


" Hem.. " Brian.


" Apa? katakanlah. "


" Tapi kau jangan marah padaku. "


" Tidak akan, katakan saja. "


" Mantan istri mu sangat menyebalkan sekali. Aku tidak suka dengannya, kenapa dia selalu ingin menempel denganmu. " gerutu Jia.


Brian terkekeh mendengar nya. " Abaikan saja dia, tidak perlu memikirkan nya. Apa kau cemburu? "


" Sudah tau kenapa masih bertanya. "


" Sayang, jangan cemberut, kau terlihat jelek. Aku hanya mencintaimu. " ucap Brian sambil berjalan menyusuri anak tangga.


" Tapi tetap saja, selalu membuatku jengkel. " Jia.


" Kapten, bisakah kita tinggal di rumah kayu itu, yang ada di perbatasan. Sepertinya menyenangkan sekali, jadi mantan istri mu tidak menggangu kita lagi. "


" Kau mau tinggal di sana? " Brian.


" Hem.. " Jia menganggukkan kepalanya.


" Kau yakin? di sana tidak ada apa - apa, tidak ada kendaraan, tidak ada pelayanan. Harus memasak, mencuci baju dan pekerjaan rumah di lakukan semua sendiri. " Brian.


" Apa kau masih yakin tinggal disana. " tanya Brian sekali lagi.


" Tentu, jika itu bersama mu. " Jia.


Brian tersenyum mendengarnya. " Kau yakin mengerjakan semua itu? " tanya Brian.


" Mengerjakan apa? " tanya Jia dengan wajah polosnya.

__ADS_1


" Pekerjaan rumah, seperti yang tadi aku katakan. " jelas Brian.


" Kenapa harus aku, jika kau ada disana. "


" Maksudmu? " Brian.


" Iya, kau yang akan memasak untuk ku, kau juga yang mengurusi pekerjaan rumah. Tenang saja aku akan menemanimu. " Jia.


" Astaga, aku malah berpikir sebaliknya. " batin Brian.


" Kenapa kau diam saja. Apa kau tidak mau? " wajah Jia berubah menjadi masam.


" Lalu apa yang kau kerjakan jika aku yang melakukannya semua. " tanya Brian.


" Tentu saja aku akan membantumu dengan memberikan cintaku dan kehangatan untukmu. " ucap Jia.


" Apa kau sungguh tidak mau? " Jia menundukkan kepalanya. " Kau tega melihatku kelelahan? " Jia.


" Tentu saja aku tidak akan membiarkan mu kelelahan untuk bekerja. Aku hanya akan membuatmu bahagia. " Brian.


" Sungguh? awas saja kau berbohong, aku akan adukan pada papa. " ancam Jia.


" Iya.. iya.. aku takut dengan papa Jody. "


" Jadi? bisa kita tinggal disana? "


" Sayangnya..... tidak bisa, tempat itu sudah milik orang lain. Tapi tugasmu masih berlaku.. " seringai Brian.


" Tugas apa? "


" Tugas memberiku cinta dan kehangatan.. " Brian.


" Apa maksudmu? " Jia.


Brian dengan cepat menyambar bibir Jia dan melummatnya dengan sangat lembut.


" Brian kau sangat mesum!! " ucap Jia ketika ciumannya terlepas.


" Tidak peduli, aku menginginkanmu. " Brian.


Ceklek... pintu kamar terbuka,


Brian dan Jia masuk masih dalam berciuman dengan posisi Jia yang masih di gendong seperti koala.


" Sial!!!" umpat Dinda dalam hati.


Dinda yang sedari tadi menunggu kedatangan Brian, dikejutkan dengan kedatangan sepasang suami istri yang sedang memadu kasih.


Dengan cepat Dinda bersembunyi di balik lemari agar keberadaan nya tidak ketahuan.


Brian menyalakan lampu tidurnya karena terasa sangat gelap, tanpa melepaskan aktivitas nya.


Dinda pun terjebak dalam kondisi yang sama sekali tidak pernah dibayangkan. Niat hati ingin menggoda Brian, justru mendapatkan tontonan adegan erotis secara Live.


" Bri... annnn... " lenguhan keluar dari mulut Jia.


" Iya sayang, I love you.. " ucap Brian di sela - sela kegiatannya.


" I love you to, Brian. " Jia.


Mereka bercinta sepanjang malam, entah berapa ronde yang Brian ciptakan. Desahan Jia begitu menggoda bagi Brian, hingga Brian dengan senang hati memamerkan ke perkasaannya.


Sedangkan Dinda, sama sekali tidak menyangka jika Brian sekuat itu. Bagaimana bisa Brian selama menikah dengan Dinda menahan hasratnya walau Dinda sering kali menggodanya, melihat Brian seorang pria yang benar - benar perkasa.


( gimana rasanya ya kalo jadi Dinda? gk kebayang, mau keluar takut ketauan, diem disitu sendirinya tersiksa 🤣🤣🤣 Author jahat yak..)

__ADS_1


__ADS_2