
Dua bulan setelah kelahiran Arnaf.
" Sayang... " Brian mendekati Jia yang baru saja memberikan ASI pada putranya.
" Iya, kapten. " Jia menaruh Arnaf yang sudah tertidur ke dalam box bayi tepat di samping ranjangnya.
" Arnaf sudah tidur? " Brian mengecup pipi Jia dengan penuh sayang.
" Seperti yang kau lihat, dia bangun karena merasa haus, dan tidur kembali setelah kenyang. " Jia membalikan tubuhnya ke arah Brian.
" Sayang, aku menginginkan mu, apa sudah boleh? " Brian mulai menciumi wajah Jia, menyusuri leher jenjang istri nya.
Selama dua bulan pasca melahirkan, Brian belum menyentuh Jia, membuat Brian menimbun hasrat yang mendalam.
" Kapten.. hentikan aku geli.. " Jia mendorong tubuh Brian agar sedikit menjauh.
" Sayang, apa kau tidak merindukan ku? hem? " Brian masih berusaha menggapai leher Jia untuk menyesap aroma tubuh yang sangat di rindukan.
" Aku tidak tahan Jia, boleh ya? " Brian.
Jia pun yang tidak tega melihat Brian akhirnya menganggukan kepalanya.
Dengan senang hati Brian memulai ritual nya, tidak terlewat sedikit pun tubuh Jia dari sentuhannya.
Tatapan Brian yang sudah di penuhi oleh kabut gairah membuatnya hilang kendali menyentuh sedikit kasar namun nikmat bagi Jia.
Lenguhan Jia membuat Brian semakin menggila, deru nafas mereka saling bertautan memenuhi setiap sudut kamar mereka.
" Ooekkk... Ooekkk... " tangisan Arnaf mengakhiri kegiatan panas mereka.
" Kapten hentikan, Arnaf menangis. " Jia mendorong Brian yang masih mengungkungnya.
Brian hanya bisa mendengus kesal, mau marah pun tak bisa, Brian hanya pasrah dan berbaring di ranjang sembari memperhatikan Jia.
" Sayang, berikan Arnaf pada mama, sebentar saja. " ucap Brian.
" Ini sudah malam, nanti mengganggu. "
" Lalu bagaimana dengan ku? " Brian mengusap wajahnya dengan kasar.
" Bisa di lanjutkan nanti atau besok. "
" Kau tega sekali, membiarkannya menganggur lagi. " ucap Brian dengan raut wajah masam.
Karena Arnaf tak kunjung tidur kembali, Brian pun memutuskan menenangkan diri dengan mandi air dingin di tengah malam agar meredakan hasrat nya.
( Sorry abang kapten... Jangan marah ama Author ya 😄 )
***
Keesokan harinya, Valent dan Tiara datang menjenguk baby Arnaf tidak lupa membawa kedua buah hati mereka.
" Hallo baby Arnaf... " Tiara segera menggendong Arnaf, dan menghujani ciuman.
__ADS_1
" Ka Tia, mana baby Kendra dan Kenny? " Jia menanyakan keberadaan bayi kembar kakanya.
" Mereka ada di depan bersama mas Valent. "
" Kenapa tidak masuk? "
" Sepertinya Valent sedang berbicara dengan pak Sam.
" Oh.. "
~
" Wah cantik sekali baby Kenny... " Rafi yang sudah berumur Lima tahun tak henti memandangi wajah baby Kenny.
" Rafi.. kau masih kecil sudah bisa merayu baby Kenny. " Valent tergelak.
" Tapi memang benar om, baby Kenny sangat cantik. "
" Rafi, sebaiknya kau bermain di taman bersama bi Santi, ayah harus menyelesaikan pekerjaan dulu. " pak Sam.
" Baik ayah. " Rafi pun berlari ke arah bi Santi yang sedang membersihkan di sekitar taman.
" Pak Valent.. saya permisi dulu. "
" Iya Pak, jika pak Sam berubah fikiran datang lah pada ku. " Valent sangat berharap pak Sam menerima tawaran nya untuk berkerja dengannya menggantikan pak Dio.
" Baik Pak, terimakasih atas tawaran pak Valent. " pak Sam.
~
Malam harinya, Brian masih merajuk pada Jia karena belum mendapatkan apa yang dia inginkan sebagai suami.
" Kapten.. apa kau masih marah pada ku? "
Brian hanya diam tidak menanggapi pertanyaan istrinya.
Jia pun keluar dari kamarnya dengan membawa Arnaf, meninggalkan Brian yang masih sibuk dengan macbook nya.
Beberapa menit kemudian, Jia kembali ke kamar tanpa membawa Arnaf.
Jia tanpa sungkan atau malu, mendaratkan dirinya duduk di pangkuan Brian.
" Kapten.. " jari telunjuk Jia menyelusuri setiap lekuk wajah tampan suaminya.
" Kau masih marah pada ku? " ucap Jia dengan nada yang sengaja di buat sesensual mungkin.
" Hem, " Brian.
" Maafkan aku.. " Jia mulai mengecup leher Brian untuk menggugah hasrat suaminya.
" Apa yang kau lakukan? " tanya Brian dengan wajah datarnya.
" Menurut mu. ? "
__ADS_1
" Hentikan, jika kau hanya membangunkan tanpa menyelesaikannya. "
" Tenang saja kapten.. baby Arnaf sudah bersama mama. Kau bisa sepuasnya meluapkan rasa rindumu itu. "
Terlihat seringai di wajah tampan Brian, " Benarkah? "
" Hem.. "
" Kalau begitu jangan pernah menghentikan ku. "
" Siapa takut. "
" Kau menantang ku? "
" Kita lihat saja siapa yang menang. "
" Baiklah.. "
Brian memulai dengan mencium bibir Jia, melummat dengan rakus dan penuh nafsu. Tidak tinggal diam, tangannya telah beralih untuk melucuti pakaian istrinya dan membuangnya ke sembarang tempat.
Jia mendesah dengan nikmat, tidak di pungkiri Jia pun sangat merindukan sentuhan Brian.
Brian tak hentinya mempermainkan kedua benda sintal dengan memberikan tanda kepemilikannya.
" Kapten.. ingat, itu bukan hanya milik mu, jangan lupakan baby Arnaf. " ucap Jia memperingatkan Brian.
" Iya, aku mengerti. "
Brian pun beralih dari benda itu, kali ini inti Jia yang menjadi pusat permainannya.
" Briannn.... " Jia mendesah dan meremmas rambut Brian. Kenikmatan yang di berikan oleh Brian, benar - benar membuat Jia melayang ke langit ketujuh.
Keduanya saling bersautan dengan irama yang begitu erotis. Seakan tidak ada hari esok, Brian berkali - kali menghujamkan miliknya, memberikan kenikmatan yang haqiqi.
" I love you... " Brian.
" I love you to.. " Jia.
" I love you more more more.... " Brian.
*
*
*
Baca juga karya ku yang lain.
Cinta pertama Ceo 2 judul awal Sassy girl Milly.
Adrian Haidar on going
Cinta Istri kedua on going
__ADS_1