
Sudah tiga hari berlalu, Brian masih dalam kesedihannya. Morgan telah membawa Sean pada hari itu juga, tidak memberikan waktu sedikit pun untuk Brian dan keluarga menghabiskan waktu terakhir bersama Sean.
Jia selalu di sisi Brian memberi dukungan agar tetap tegar dan mengikhlaskan kepergian Sean.
Sedangkan Dinda menyesali perbuatannya, oleh karena itu ia ikut pergi bersama Sean sesuai permintaan Brian.
" Jika kau menyesali perbuatan mu dan menginginkan maaf dari ku, pergilah bersamanya. Jaga Sean, didiklah dia dengan kelembutan, jauhkan dia dari dunia gelap agar tidak mengikuti jejak ayahnya."
Itulah pesan Brian kepada Dinda.
***
" Pak Sam, bolehkah aku minta tolong? " ucap Jia.
" Dengan senang hati nona. " jawab pak Sam.
" Pak Sam, belikan aku makanan di restoran cepat saji, beli semua menu yang tersedia. " Jia berbisik kepada pak Sam.
Pak Sam mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan tingkah Jia yang akhir - akhir ini sangat lah aneh. Selama beberapa hari ini Nino dan pak Sam sangat di repot kan oleh Jia dengan permintaan.
" Baik Nona.. " ucap pak Sam.
" Tunggu pak Sam. " cegah Jia ketika pak Sam ingin pergi. " Jangan sampai Brian tau, kau mengerti! dan segera antar makanan itu di balkon atas. Oke! " titah Jia.
Selama Brian tidak ke kantor, pak Sam lebih sering mengerjakan pekerjaan nya di rumah Brian, agar mudah jika membutuhkan tanda tangan Brian.
" Iya Nona.. " ucap pak Sam.
Satu jam Jia menunggu kedatangan pak Sam. " Lama sekali.. " gerutu Jia.
" Permisi Nona, ini pesanan Nona.. " pak Sam.
" Kenapa lama sekali! aku sangat lapar! " Jia segera mengambil bingkisan yang berisi beberapa makanan.
" Maaf Nona.. "
" Baiklah tidak apa. Terimakasih pak Sam, kau boleh pergi. " Jia.
Pak Sam menundukan kepalanya sebelum melangkah pergi.
" Tunggu pak Sam, jika ada yang mencari ku, jangan beri tau aku disini. Mengerti! " perintah Jia.
" Baik Nona. "
Karena sangat lapar, Jia segera mengeksekusi makanan yang ada di hadapannya, melahapnya tanpa sisa.
***
" Sayang, kau dari mana? aku mencarimu. " ucap Brian yang mendapati Jia menuruni anak tangga.
" Aa... aaku.. " ucap Jia dengan gugup. " Mati aku kalau aku ketahuan memakan makanan junkfood, aku kan sudah janji tidak akan memakannya lagi. " batin Jia.
" Kau kenapa? " Brian merasa heran dengan istrinya yang terlihat gugup.
" Tidak apa kapten.. apa kau sudah baikan? " tanya Jia mengalihkan pembicaraan.
" Aku baik - baik saja, maaf kan aku beberapa hari ini mengacuhkan mu. " ucap Brian seraya memeluk tubuh istrinya.
" Aku senang, melihatmu ceria kembali. " Jia membalas pelukan Brian.
" Sayang, apa kau bosan di rumah? " tanya Brian.
" Tentu saja, sudah beberapa hari ini aku tidak keluar rumah. " Jia mencebikan bibirnya.
" Kau mau berkencan dengan ku? " tanya Brian.
" Berkencan? " ulang Jia dengan wajah yang berbinar ceria.
" Hemm.. " Brian.
" Dengan senang hati. " Jia mengecup pipi Brian. " Aku akan ganti pakaian ku dulu. " Jia segera ke kamar dan mengganti pakaiannya.
" Oke, aku tunggu di depan. " Brian.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Jia menjumpai Brian yang tengah menunggunya di teras rumah.
Jia mengenakan blouse dan celana Jeans, rambutnya di biarkan tergerai, tidak lupa memakai jaket denim. Penampilannya sungguh terlihat cute.
" Ayo! " ajak Jia.
Brian pun menganggukan kepalanya. Brian menghampiri sebuah mobil sport yang terparkir di halaman rumahnya.
" Kapten, aku ingin berkencan memakai motor seperti Hache and Baabi. Itu akan romantis sekali. " tutur Jia.
Brian mengernyitkan keningnya, " Hache and Baabi? siapa itu? " batin Brian.
" Apa kau tidak punya motor? " tanya Jia.
" Kau yakin mau naik motor? " Brian.
" Tentu.. "
Brian menuju garasi, tidak lama Brian keluar dengan mengendarai moge.
" Waahhhhh... keren sekali.... " Jia berteriak histeris meliahat suaminya yang nampak gagah dengan moge nya.
Brian hanya terkekeh melihat Jia.
" Tunggu dulu, kau harus memakai jaket kulit hitam agar bertambah keren." tambah Jia.
Brian pun mengikuti saran Jia dan meminta tolong pada bibi untuk mengambil kan jaketnya.
" Sayang, apa kau senang? " tanya Brian namun tetap fokus ke arah depan sambil mengendarai motornya.
" Aku senang sekali kapten.. " ucap Jia sambil merentang kan kedua tangannya.
" Sayang hati - hati, turunkan tanganmu, itu berbahaya. " ucap Brian yang melihat Jia merentang kan tangannya dari kaca spionnya.
" Tidak kapten, ini sangat menyenangkan.. "
Brian pun membiarkan Jia melakukan nya, karena dilihat jalanan memang sepi.
" Siapa itu Baabi? " tanya Brian yang penasaran. Sedari tadi Jia membicarakan Hache and Baabi.
" Kau sangat kuno. Mereka adalah pasangan yang sangat romantis. " jawab Jia.
" Aku tidak mengenalnya. "
" Ck, mereka pasangan di sebuah film, bukan nyata. " Jia mencebikan bibirnya.
" Kita pasangan yang romantis seperti mereka, aku yang sangat cantik dan kau pria yang keren, walau kau tidak sekeren Hache. " ucap Jia terlalu percaya diri memuji dirinya.
Brian yang mendengar nya, tiba - tiba menghentikan laju motor nya.
" Jadi aku tidak keren? " ucap Brian dengan wajah masam nya.
" Aku kan sudah bilang kau itu keren. " jawab Jia.
" Ck, tapi kau bilang aku tidak sekeren dia.. Siapa tadi? coba katakan lagi? "
" Tentu saja Hache yang paling keren, kau itu kan sudah tua. " ucap Jia tanpa sadar.
" Uupssttt... sorry. " Jia meminta maaf setelah menyadari kekesalan di wajah Brian. " Tapi kau yang paling tampan. " Jia mencoba merayu suaminya dan memberikan kecupan di bibir Brian.
" Pintar sekali kau merayuku. " Brian.
***
Hari ini Jia mengunjungi butik miliknya, Jia memang jarang sekali ke butik, karena Jia mempercayakan butik nya pada asisten nya. Jia hanya mendesain pakaian, selebihnya akan di tangani oleh para pekerja nya.
Pakaian yang ada di butik milik Jia hanya di buat beberapa saja. Sedangkan gaun pengantin atau beberapa kebaya sudah tersedia, itu pun di jamin limit,tidak ada yang menyamainya. Jia tidak menerima client, jika ada yang perlu di rubah untuk ukuran dan lainnya, Jia serahkan sepenuhnya pada karyawan nya.
Siang itu Jia disibukan dengan meninjau karyawan nya. Namun, entah kenapa Jia merasa kepalanya begitu berat dan badanya terasa lemah. Penglihatan yang berangsur memburam membuat Jia jatuh tak sadarkan diri.
Dengan sigap karyawan nya membawa Jia kerumah sakit terdekat, tidak lupa memberi kabar pada Brian.
" Bagaimana dok, keadaan istri saya? " tanya Brian yang baru saja sampai dan mendapati doker keluar dari ruangan di mana Jia berada.
__ADS_1
" Istri bapak baik - baik saja hanya kelelahan dan janin yang ada di kanduang nya pun sangat sehat. " ucap doker.
" Apa? jadi... istri saya hamil?? " tanya Brian memastikan pendengarnya.
" Iya, apa anda belum tau? " tanya dokter.
Brian sangat bahagia mendengar kabar gembira itu, tanpa menghiraukan pertanyaan dari dokter, Brian segera menghampiri Jia yang masih terbaring.
" Sayang, terimakasih... " Brian memberi kecupan di seluruh wajah istri nya.
" Kapten, hentikan... aku geli. " Jia.
" Aku sangat bahagia, terimakasih kau sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa untuk ku. " Brian kembali mengecup punggung tangan Jia.
" Apa maksud mu? "
" Sayang.. " Brian membelai sayang puncak kepala istrinya. " Kau sendang mengandung anak kita, terimakasih. " Brian mengelus perut istri nya yang masih rata.
"Jadi... aku hamil? " Jia.
Brian menganggukan kepalanya. Jia sangat bahagia mendengar dirinya mengandung buah cinta mereka.
Kebahagiaan tidak hanya di rasakan mereka berdua, kedua orang tua mereka pun ikut senang. Terlebih Renatta yang sangat berterimakasih, akhirnya Brian bisa merasakan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya, Menjadi ayah untuk anak kandung nya.
Kehamilan Jia tidak semudah yang dibayangkan, bukan hanya Brian yang direpotkan oleh Jia yang ingin ini, ingin itu, tetapi orang yang dekat di sekitarnya. Tetapi Brian berusaha memenuhi apa yang Jia inginkan.
" Sayang pelan - pelan makannya. " ucap Brian yang sedang menemani Jia menonton drama sambil memakan berbagai cemilan.
" Kapten, apa kau akan mengabulkan permintaan ku? " tanya Jia merasa ragu.
" Tentu, apa pun yang kau dan anak kita inginkan " Brian menjawab dengan yakin. " Kau ingin makan apa lagi? nanti akan aku belikan. " Brian kembali bertanya.
" Bukan makanan. " Jia.
" Lalu apa? "
" Tapi kau jangan marah, "
" Iya, tidak akan. " Brian. " Pasti kau ingin memakan junkfood lagi kan? tidak masalah. " batin Brian.
" Aku ingin... ingin... cium.. " jawab Jia terbata.
" Cium? dengan senang hati. " Brian segera mengecup bibir Jia.
" Bukan itu... aku ingin.. "
Brian semakin penasaran, " Jia, katakan saja.. "
" Aku ingin mencium pipi Alex.. "
" Apa!!!! " Brian sangat terkejut dengan permintaan istrinya, sungguh di luar dugaan.
" Ayolah kapten, hanya cium pipi saja. " Jia berusaha membujuk Brian. Entah kenapa Jia ingin sekali mencium mantan serta sahabatnya itu.
" Tidak boleh!!! " kekeh Brian. Bagaimana mungkin mengijinkan istrinya mencium pria lain meskipun hanya di pipi.
" Kapten.. aku mohon.. please, hanya di pipi... " Jia.
Brian hanya diam, sungguh permintaan nya membuat Brian diam dalam amarah.
" Alex sebentar lagi akan pergi ke Amerika... Ah sudahlah, kau memang menyebalkan!!!! aku membencimu!!" Jia meninggalkan Brian yang masih mematung di tempat.
" Sungguh konyol!! " batin Brian.
*
*
*
Kira-kira Brian mengijinkan tidak yah...???? Jia ngidamnya aneh2🤣🤣🤣
Sorry babang Brian.... maafkan author 😂😂
__ADS_1