
" Mas.. dia siapa? bukankah dia gadis yang di ruang meeting tadi? " tanya Dinda seraya menunjuk ke arah Jia yang sedang duduk.
" Saya Jiandra dari divisi keuangan. " jawab Jia.
" Ooh, sedang apa kamu disini? apa kamu tidak memiliki pekerjaan sehingga duduk manis di ruangan ini! " ucap Dinda sambil melipatkan kedua tangannya.
" Aku masih ada urusan dengan Nona Jiandra, Jika kau tidak ada kepentingan, tolong tinggalkan ruangan ku! " sela Brian.
Dinda mengalihkan pandangannya ke arah Brian. " Tentu aku masih ada urusan denganmu." ucap Dinda sambil duduk berhadapan dengan Brian.
" Bagaimana kabar Sean mas, aku sangat merindukannya. "
" Maaf Pak, jika tidak ada yang di perlukan lagi, saya undur diri. " ucap Nino. Brian mengangguk untuk mengijinkan Nino keluar dari ruangannya.
Tatapan Brian beralih kepada Dinda." Dia baik - baik saja, dan sejak kapan kau peduli dengannya. " Brian.
" Aku ini ibunya, bagaimana mungkin aku tidak peduli dengannya. " kali ini Dinda berbicara dan berusaha meraih tangan Brian, tetapi segera di tepis oleh Brian.
" Jaga batasan mu! " ucap Brian sambil menampik tangan Dinda.
Jia masih dalam diam, melihat apa yang terjadi di depannya.
" Kamu tidak berubah mas! mau sampai kapan kamu acuh padaku! " lirih Dinda dengan tatapan sendu. " Mas, Sean butuh kita mas, beri aku kesempatan, aku yakin perlahan kamu pasti bisa mencintaiku. " Dinda tidak patah semangat membujuk Brian untuk kembali bersamanya.
Jia yang mendengarkan kicauan Dinda terasa perih bagai mendengar sepasang kekasih yang sedang dalam perselisihan. Jia bangkit dari duduknya seraya berkata. " Permisi, saya harus kembali ke meja kerja saya. " lalu pergi dari ruangan Brian.
Brian menatap tajam mengarah kepada Dinda, tetapi tidak berpengaruh pada Dinda yang masih kekeh mengharapkan cinta Brian.
" Apa kau sudah gila! aku sudah menikah! dan perlu kau ingat dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah mencintaimu! lebih baik kau pergi dari ruangan ku sebelum kesabaran ku habis! " Brian benar - benar di buat kesal Dinda.
Wanita yang tidak pernah lelah mengejar Brian.
" Aku tau mas, kamu sudah menikah kembali tetapi aku juga tau kamu pasti tidak mencintainya, dan aku yakin dia tidak akan bertahan lama dengan sikapmu yang seperti ini. Hanya aku yang mengerti dirimu mas! " ucap Dinda dengan penuh percaya diri.
" Sudahlah mas, aku tidak mau berdebat denganmu. Dari dulu kamu memang seperti itu! dan aku akan sabar menanti mu, " Dinda meninggalkan Brian yang masih dipenuhi dengan amarahnya.
******
Di meja kerja, Jia tidak konsetrasi dengan pekerjaannya, Jia masih terngiang dengan perkataan Dinda mantan istri dari suaminya.
" Wanita tidak tau malu! bisa - bisanya dia merayu pria yang sudah beristri! sama sekali tidak punya harga diri! " gumamnya.
" Jiandra.. apa kau tidak lapar? ini sudah jam makan siang dan kau masih diam disini " Ucap Siska.
" ah iya. Aku sampai lupa." Jia.
" Tunggu apalagi, ayo kita pergi ke kantin! " ajak Siska dan menggandeng tangan Jia untuk segera pergi mengikutinya.
" Iya Siska... kau jangan menarik tangan ku, aku bisa jalan sendiri " pekik Jia.
drettt. drettt.. ponsel Jia bergetar.
Isi pesan.
Kapten Brian❤
__ADS_1
" Sayang, sudah makan siang? Kita makan siang bersama.. "
My wife ❤
" Tidak perlu, aku makan siang dengan temanku! "
Kapten Brian❤
" Apa kau marah pada ku? "
Jia hanya membaca pesan Brian tidak membalasnya.
Siska dan Jia menghampiri kedua temannya yang sudah duduk di meja kantin.
" Lama sekali, jam istirahat sebentar lagi akan habis, kau malah baru datang! " ucap Mona yang telah menghabiskan makanannya di piring.
" Tadi aku menyelesaikan pekerjaan ku, hingga lupa waktu. " jawab Siska yang kini duduk di samping Doni, sedangkan Jia duduk di sebelah Mona.
" iya, kalian lama sekali. Aku dan Mona sudah selesai, sebaiknya cepatlah kalian pesan makanannya jangan sampai terlambat masuk, jika tidak ingin terkena marah oleh bu Livia. " ucap Doni memperingatkan Siska dan Jia.
" Iya, aku juga sudah sangat lapar! " kali ini Jia ikut bersuara, dengan cepat dia memanggil pelayan untuk memesan menu makanan yang diinginkan.
" Aku harus cepat kembali, masih banyak pekerjaan yang tertunda. Maaf tidak bisa menemani kalian makan. " ucap Doni.
" iya Don, tidak apa.Kamu duluan saja! " Siska.
" Aku ikut Don, aku juga sudah selesai makannya." Mona mengikuti langkah Doni yang sudah sedikit jauh darinya. " Bye Siska, Jia.. " ucap Mona di sela langkahnya.
Siska dan Mona melambaikan tangannya pada Mona. Mereka melanjutkan makan siangnya.
******
Tidak ingin menunggu lama, Brian dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya, dan segera bertemu dengan Jia. Setelah pekerjaan nya selesai Brian mencoba menghubungi Jia lewat ponselnya, tetapi tidak mendapat jawaban dari Jia, berulang kali mencoba menghubungi istrinya namun hasilnya tetap sama.
*****
" Sayang.. " Brian memanggil Jia yang akan masuk ke dalam mobil dan akan pulang karena jam kerja telah usai.
Jia menghentikan langkahnya, membalikan badanya ke arah suara itu, tentu saja Jia sudah bisa menebak siapa yang memanggil nya.
" Ada apa lagi? " saut Jia.
" Kenapa kau tidak membalas pesanku. Kau juga mengabaikan telfon dariku! apa kau marah padaku? " ucap Brian yang kini berada di hadapan Jia.
" Menurut mu? "
" Maaf, jika tadi yang membuatmu marah." Brian memberikan sebuket bunga tulip sebagai tanda permintaan maaf.
" Aku tidak marah. Aku hanya kesal saja! kau jangan mensalah artikan! aku tidak suka kau terlalu dekat dengan wanita itu! " ucap Jia sambil menerima bunga pemberian Brian. " Dan aku tidak suka bunga tulip, aku lebih suka mawar merah! "
" iya, lain kali aku akan memberi mu bunga mawar. " Brian tersenyum.
" Ya sudah, aku mau pulang. "
" Kita pulang bersama, aku saja yang menyetir " ucap Brian sembari meraih kunci mobil yang di ada di genggaman Jia.
__ADS_1
" Brian.. malam ini boleh kah aku menginap di rumah mama? aku sangat merindukannya. " tanya Jia.
" Boleh, tapi aku ikut! " Brian menjawab tanpa mengalihkan pandangannya yang fokus menyetir.
" Baiklah. Tapi bisa kah kita pulang langsung ke rumah mama? aku lelah jika harus pulang dulu kerumahmu. "
" Oke! tapi aku harus pulang ke rumah. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan pak Sam sudah menungguku dirumah. Jadi aku akan mengantarmu kerumah mama, malamnya aku akan menyusulmu! "
" Jika sibuk, kau tidak usah repot menyusulku! "
" Aku tidak akan melewati malam ini tanpamu! aku akan menagih janjimu. " Brian tersenyum penuh arti.
" Janji? " Jia mengernyitkan keningnya.
" Iya, janji.. "
" Janji apa maksudmu? sepertinya aku tidak pernah berjanji apapun! "
" Kau masih muda tapi sungguh pelupa! apa kau tidak ingat yang siang ini kau katakan padaku. Jika kau akan memberikan hak ku walau sebatas ini. " Brian menjelaskan janji yang iya maksud dan mengulurkan tangannya menyentuh batasan yang menjadi miliknya. Sedangkan tangan satunya fokus memegang kemudi.
Jia membulatkan matanya ketika Brian tidak sungkan lagi menyentuh bagiannya tanpa merasa bersalah. " BRIAN...!!!!!! " Jia berteriak dan memukul pundak Brian tetapi tidak terasa sakit bagi Brian.
Brian terkekeh melihat Jia yang marah, tetapi bagi Brian, Jia sangat menggemaskan jika sedang marah.
" Kenapa harus malu! tidak usah malu padaku karena aku akan sering memintanya dan akan sering juga aku melihatnya. Meskipun aku akan merasa pusing setelah itu. Tapi tidak akan aku sia - siakan kesempatan yang kau berikan! "
" BRIAN!!! semenjak kapan kau jadi mesum seperti ini! kau sungguh tidak punya malu! " Jia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, menutupi pipi yang sudah merona karena malu.
" Aku mesum hanya denganmu! dan aku tidak akan malu jika bersama mu karena kau istriku."
" Hentikan! jangan membicarakan itu lagi."
Brian mengusap - usap kepala istrinya. " Sudah ku bilang jangan malu seperti itu. Kau bahkan sangat menikmatinya. Aku tau itu! " Brian kembali menggoda istrinya.
" Stop! aku tidak mau mendengarkan lagi! "
" iya. iya. Istriku yang paling cantik dan sangat menggemaskan. "
" sial! aku menghindarinya tapi dia mengikutiku. " batin Jia.
*
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan vote nya.
maaf jika masih banyak typo
bye.. bye..
__ADS_1