
Jia datang ke Diamon group siang ini, kedatangan nya bertujuan untuk bertemu dengan Mona dan Siska.
Jia terlihat sangat cute dengan penampilannya yang menggunakan rok di atas lutut dan kaos berwarna putih, dilengkapi dengan sepatu kets berwarna senada dengan kaosnya.
Karena sudah jam makan siang, Jia mencari Mona dan Siska di area kantin. Ketika Jia berjalan menuju kantin, langkah nya terhenti.
" Hei kau!!! " teriak Dinda yang membuat langkah Jia terhenti. Dinda yang tidak sengaja melihat Jia, dengan segera menghentikan gadis itu lalu menghampirinya.
" Mau apa kau disini! " tukas Dinda yang tidak suka dengan keberadaan Jia.
" Bukan urusan mu! " Jia.
" Cih, " Dinda berdecak kesal. " Bagaimana perjalanan bulan madu mu? " tanya Dinda dengan nada yang mengejek.
" Sangat menyenangkan. " jawab Jia.
" Benarkah? seharusnya kalian belum pulang, tapi kenapa cepat sekali, bahkan mas Brian sudah kembali bekerja. " ucap Dinda dengan senyum sinis.
" Sudah jelas ini semua karena mu, mengadu yang tidak benar tentang Sean. " batin Jia.
" Ah, aku tau kau pasti tidak bisa menyenangkan suamimu itu, permainan ranjang mu sangat payah, pantas saja mas Brian ingin cepat pulang. " Dinda kembali menyulutkan api dengan perkataannya.
" Apa maksudmu? " Jia masih ambigu dengan apa yang Dinda ucapkan.
" Ck, ck, Kasian sekali mas Brian mempunyai istri yang tidak bisa memberikan kepuasan, aku yakin jika mas Brian bermain dengan ku, dia akan merasa sangat puas dengan permainan yang aku berikan. " ucap Dinda dengan penuh percaya diri.
" Jangan bermimpi! Brian tidak akan pernah mau menyentuhmu! " Jia berkata dengan penekanan.
" Kau!! " Dinda geram mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Jia.
" Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan mu, " Jia ingin melanjutkan langkahnya, tapi terhenti ketika Dinda kembali bersuara.
" Berapa banyak uang yang kau inginkan? aku akan memberikannya untuk mu asal kau pergi menjauhi mas Brian. " ucapan Dinda.
" Kau pikir aku menikah dengan Brian hanya karena uang? " Jia menggelengkan kepalanya, tidak percaya apa yang baru saja Dinda katakan.
" Lalu apa lagi jika bukan uang? jangan munafik! " ucap Dinda Seraya tersenyum meremehkan.
" Aku tidak seperti mu! " Jia menjawabnya dengan santai.
" Ada apa ini? kau jangan membuat ulah disini. " ucap Valent pada Jia, Valent yang baru keluar dari ruangan meeting melihat Jia dan Dinda sedang berbicara serius.
" Pak Valent, apa ada yang perlu saya bantu? " ucap Dinda dengan ramah mengingat Valent adalah rekan bisnis Brian.
" Tidak, aku hanya ingin mengambil sesuatu di mobil. " jawabnya.
Jia yang masih merasa kesal dengan Dinda, segera pergi tanpa menyapa kedatangan kakanya.
" Baik, kalau begitu saya kembali dulu ke ruang meeting. " ucap Dinda dan di angguki oleh Valent.
" Apa pak Valent mengenal Jiandra? atau mungkin pak Valent salah satu target Jiandra sebelum mendapatkan mas Brian. " batin Dinda.
Hari ini Valent dan Jody berkunjung ke Diamon group untuk membahas kerja sama mereka. Sebenarnya Valent bisa menanganinya sendiri, tetapi Jody ingin ikut serta, mengingat rekan bisnisnya adalah menantunya.
Setelah bertemu dengan Mona dan Siska, Jia ingin segera pulang tanpa menemui Brian dan Valent.
__ADS_1
" Nona Jia.. " sapa pak Dio yang berpapasan dengan Jia di lobby.
" Pak Dio.. " Jia mengembangkan senyum nya.
" Lama tidak bertemu Nona, " pak Dio.
" Iya, bagaimana kabar pak Dio? apa kaka masih merepotkan mu? " tanya Jia.
" Seperti yang Nona lihat, saya baik - baik saja. Tuan sama sekali tidak merepotkan saya. " jelas pak Dio.
" Baguslah, bilang pada ku kalau kak Valent menyusahkan mu. " Jia.
" Bukannya Nona yang selalu merepotkan ku, untung lah Nona sudah menikah, aku sedikit terbebas dari ulah mu, entah siapa yang menggantikan posisi ku, aku harap dia bersabar menghadapi Nona. " batin pak Dio.
" Terimakasih atas perhatian Nona. " pak Dio.
" Ada apa kak Valent datang kesini? " tanya Jia ingin tau apa yang di lakukan kaka nya datang ke kantor suaminya.
" Tuan muda dan tuan besar menjalin kerjasama dengan suami anda Nona. " jelas pak Dio.
" Papa ada disini? " Jia.
" Iya Nona, "
" Baiklah aku akan menemuinya, terimakasih pak Dio. " Jia mengurungkan niat nya untuk pulang, dengan langkah cepat Jia menuju ke ruangan meeting tanpa memperdulikan situasi yang ada. Mereka sedang meeting bukan bertemu kangen dengan keluarga.
" Tapi Nona ----" belum selesai bicara, Jia dengan cepat sudah meninggalkan pak Dio.
" Salah lagi, aku harap Nona tidak membuat keributan. " batin pak Dio.
Ceklek... Pintu terbuka, Jia yang tanpa malu menunjukan dirinya dengan melukiskan senyuman di wajah cantiknya. Seketika pandangan semua orang tertuju padanya.
" Apa aku mengganggu? " ucap Jia.
" Kenapa kau kesini? ini rapat penting, pergilah. " ucap Dinda dengan nada yang lirih namun memperlihatkan sorot mata yang tajam.
Jia tak menggubris perkataan Dinda. Valent dan Brian hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Sayang, ada apa? kau mencari ku? " tanya Brian sambil mendekat ke arah Jia.
Belum saja Jia menjawab, Dinda kembali bersuara. " Gadis manja, bisakah kau keluar, kami sedang rapat! " tukas Dinda yang tidak suka dengan kehadiran Jia yang akan menggangu client pentingnya.
" Ekhem... " Jody berdehem, terlihat di wajahnya tidak suka jika putri tersayang nya di marahi oleh Dinda yang notabene nya adalah mantan istri dari suami anaknya.
" Emm, maaf Pak jika kedatangan Nona ini mengganggu anda, saya akan mengusirnya pergi. " ucap Dinda yang sama sekali tidak tau jika yang sedang di bicarakan adalah putrinya.
" Mengusir? " Jody mengulang dengan nada yang sedikit di tekankan.
" Iya.. " Dinda segera menarik lengan Jia untuk meninggalkan ruangan meeting.
" Lepaskan! aku tidak mau! " Jia meronta untuk dilepaskan tangannya.
" Dinda. Cukup! hentikan! " tukas Brian menghentikan Dinda.
" Jia, sudah ku bilang jangan membuat kekacauan. " seru Valent.
__ADS_1
" Valent! " Jody meninggikan suaranya.
" Maaf pah, " ucap Valent.
" Sayang kemarilah, ada apa? " ucap Jody.
Di ruangan itu, hanya Dinda dan Livia yang di buat heran. Sedangkan pak Sam dan Nino sudah mengerti jika Jiandra adalah bagian keluarga Mahess.
" Sayang? apa maksudnya. " batin Dinda.
Jia menghampiri Jody tak lupa mencium pipi kanan dan kirinya. " Papa, ayo kita makan siang.. " ucap Jia yang begitu manja.
" Whatt!!! papa!!! jadi... Jiandra putri dari Jody mahess? adik dari Valentino? Jiandra seorang putri konglomerat dari keluarga Mahess?? astaga......tunggu, jika dia adik dari Valent maka dia juga adik ipar Tiara, bisa gawat! aku harus segera menemui Tiara secepatnya. " batin Dinda.
" Kamu belum makan siang? " Jody.
Jia menganggukan kepalanya.
" Oke, kita makan siang dulu, pekerjaan nanti kita lanjutkan kembali setelah makan siang. " ucap Jody.
" Menganggu saja! " gerutu Valent.
Mereka semua membubarkan diri untuk makan siang terlebih dahulu.
Jody dan Jia melangkah bersama dengan Jia bergelayut manja di lengan papa nya. Sedangkan Brian dan Valent mengikuti nya dari belakang.
" Valent, apa aku tidak salah lihat? kau memakai dasi berwarna merah muda. menyilaukan mataku saja. " ucap Brian di sela langkahnya menuju restoran terdekat.
" Ck, ini kemauan istri ku yang sedang hamil. Mau tidak mau aku harus menurutinya. " jawab Valent.
Brian terkekeh mendengar ucapan Valent.
" Tidak usah tertawa, kau akan mengalaminya nanti jika istri mu hamil. " ucap Valent yang kesal melihat Brian menertawakan nya.
" Aku tidak sabar melihat mu tersiksa menuruti keinginan adik ku jika sedang hamil. Melihat Tiara wanita yang dewasa saja membuat ku seperti ini, apalagi Jia? hahaha. " Valent.
Brian yang mendengar ucapan Valent hanya bisa menelan salivanya. " Benar juga apa yang di katakan Valent. " batin Brian.
*
*
*
*
Hai reader's jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terimakasih sudah setia membaca karyaku ini.
Maaf jika masih banyak typo.
Sampai jumpa lagi di episode berikutnya....
bye.. bye..
__ADS_1