Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Karena Titanic


__ADS_3

Usia kandungan Jia kini sudah berjalan tiga bulan. Brian selalu meluangkan banyak waktu jika Jia membutuhkannya.


Jia benar - benar menjadi prioritas utama bagi orang di sekitarnya. Apapun yang Jia inginkan, dengan senang hati menurutinya.


Tapi tidak bagi Nino dan pak Sam, meski mereka menurutinya tapi di dalam hati sana mereka berteriak untuk menolaknya.


Jia semakin hari tubuhnya terlihat membulat meski usia kandungannya masih terbilang muda, bagaimana tidak berisi? selama kehamilannya Jia gemar makanan yang dulu sangat di hindarinya.


Hari ini entah kenapa Jia ingin berkutat di dapur untuk memasak beberapa menu makanan, tentu dengan di bantu pelayan yang biasa memasak untuk keluarga itu.


Jia dengan semangat meracik bumbu bumbu dan mulai memasaknya, sedangkan pelayan yang ingin membantunya tidak di perbolehkan, pelayan hanya boleh memberi tahu bumbu apa saja yang di perlukan, selebihnya Jia yang mengerjakannya sendiri.


Setelah matang, Jia segera menaruhnya di beberapa kotak dan disusun dengan rapih lalu di masukkan ke dalam paper bag.


Pelayan hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah kepergian Jia. Dapur yang semula sangat bersih mengkilat kini terlihat seperti kapal pecah di buat oleh Jia.


" Sayang, mau kemana nak? " sapa Renatta yang mendapati Jia ingin keluar rumah.


" Mama aku ingin memberikan makan siang untuk Brian. " jawab Jia dengan senyum sumringah nya.


Renatta hanya mengangguki nya dan tidak lupa berucap agar berhati hati.


Setelah sampai di perusahaan yang di pimpin suaminya, Jia dengan semangat melangkahkan kakinya.


Baru melangkah di area lobby Jia melihat Brian dan juga kedua asistennya yang baru saja keluar dari lift.


" Kapten.. " Jia mempercepat jalannya untuk menghampiri Jia.


" Sayang hati-hati, jangan berlari. " Brian melebarkan langkahnya agar jia tidak terlalu jauh untuk menghampirinya. Sedangkan Nino dan pak Sam mematung di tempat setelah melihat keberadaan Jia.


Jika boleh memilih, Nino dan pak Sam ingin segera lari meninggalkan Brian dan Jia.


" Sepertinya hari ini kita akan sial lagi.. " ucap Nino pada pak Sam.


" Kau benar sekali, kita akan sial hari ini. " pak Sam ikut menimpali ucapan Nino.


Sedangkan Brian sangat senang dengan kedatangan istri nya. Semenjak hari itu Jia lebih Agresif dan selalu ingin berdekatan dengan Brian. Entah itu karena hormon kehamilannya atau Jia memang sudah pandai dalam merajut kehangatan. Yang pasti Brian di buat senang dengan perubahan Jia.


" Kapten.. kau mau kemana? " tanya Jia pada Brian yang kini telah di depannya.


" Kita akan makan siang di luar, kau ingin ikut? " Brian.


" Tidak usah kapten, aku sudah membawakan makanan untuk kalian. " ucap Jia sambil menunjukan paper bag yang ada di tangannya.


" Benarkah? Yasudah ayo kita makan.. aku sudah sangat lapar. " ucap Brian yang mengira makanan yang di bawa Jia adalah masakan yang di buat oleh pelayannya di rumah.


Brian menggiring Jia menuju lift dimana Nino dan pak Sam masih berdiri tidak jauh dari lift.


" Kita tidak jadi makan di luar, Jia membawa makan siang untuk kita. " Brian.


" Baik tuan.. " pak Sam, sedangkan Nino hanya menganggukan kepalanya.


Mereka makan siang di ruang meeting yang jarang di gunakan supaya lebih leluasa dari pada di ruangan Brian.


" Hemm... masakannya terlihat enak sekali. " ucap Brian ketika Jia membuka satu persatu kotaknya dan mempersiapkannya di piring.


" Benarkah? " tanya Jia.


" Tentu saja pasti enak, bi santi tidak perlu di ragukan lagi. " Brian.


" Tapi ini buka masakan bi Santi, aku yang memasaknya... " jelas Jia.


" Uhuk.. uhukk... " Brian terbatuk mendengarnya.


" Ck, tidak usah takut, kata bi santi masakan ku ini enak, walau tak seenak masakan bi Santi. " Jia.


Nino dan pak Sam saling melirik mengisyaratkan bahwa kesialannya benar terjadi seperti dugaan mereka.

__ADS_1


Wajah Brian berubah pucat mengetahui bahwa makanan yang di hadapan nya adalah masakan istrinya. Dan dia tau, pujian bi santi hanya tidak ingin mengecewakan Jia.


Dengan ragu Brian memulai menyuapkan ke mulutnya, benar saja rasanya tidak karuan. Tapi sebisa mungkin Brian menutupinya.


" Kapten.. enak kan masakan ku? " tanya Jia.


Brian hanya tersenyum dan menelan paksa makanannya ke dalam tenggorokan.


" Nino, pak Sam.. bagaimana? enak tidak? " kali ini Jia bertanya pada kedua asisten suaminya.


Dengan berat hati Pak Sam mengatakan. " Enak Nona.. "


Jia tersenyum puas dengan hasil kerjanya. " Baguslah, tidak sia sia aku memasaknya. Kau boleh menghabiskan nya, kalian terlihat sangat kelaparan. "


" *Astaga, bagaimana aku menghabiskan makanan tidak enak ini. " batin pak Sam.


" Sial lagi hari ini.. " Nino.


" Kalau bukan masakan istri ku sudah aku buang ke tong sampah! " batin Brian*.


" Sayang, aku baru ingat, aku ingin mengajak mu pergi ke suatu tempat. " Brian mencoba menghindar dari makanan yang ada di depannya.


" Kemana? " tanya Jia.


" Ikut saja, nanti kau akan tau. " Brian berdiri dan menggandeng lengan Jia.


" Tapi kau belum menghabiskan makananya.. " Jia.


" Biar Nino dan Pak Sam yang menghabiskan nya, kau tidak lihat mereka sangat kelaparan? " kilah Brian.


" Oke.. " Jia pun mengiyakan ajakan Brian dan segera pergi meninggalkan kedua asistennya.


" Selamat.... " Ucap Nino dan pak Sam setelah kepergian bosnya.


**


" Siapa kapten? " tanya Jia setelah Brian mengakhiri panggilannya.


" Papa Jody, papa meminta laporan tentang proyek kita. " jelas Brian.


" Oh.. suruh saja pak Sam. "


" Pak Sam sedang makan siang, aku akan mengurusnya. Kau mau menungguku? sebentar saja. "


" Hemm.. baiklah, mau bagaimana lagi. " Jia mengerucutkan bibirnya.


Di ruangan Brian, Jia memainkan ponselnya sembari menunggu Brian menyelesaikan pekerjaan nya.


Jia sangat asyik menonton film Titanic, meski sudah berulang kali menontonnya Jia tidak merasa bosan melihat keromantisan Jack dan Rose.


" Selesai.. " ucap Brian sembari menutup laptopnya.


" Sudah selesai? " Jia mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Brian.


" Hem.. kita bisa pergi sekarang. " Brian mengulurkan tangannya seraya menuntun Jia keluar dari ruangannya.


" Kau bosan menungguku bekerja? " Brian.


" Tidak. "


" Lalu kenapa kau diam saja, apa kau memikirkan sesuatu? " tanya Brian seolah tau jika Jia menginginkan sesuatu.


Jia menyengir kuda memperlihatkan gigi putih yang tertata rapi. " Tapi akau malu mengatakan nya. "


" Tidak usah malu, katakan saja. "


" Tidak jadi, aku sangat malu jika mengatakannya. " Jia masih enggan memberitahu keinginannya.

__ADS_1


Mereka kini telah berada di parkiran mobil khusus petinggi perusahaan, jadi mobil yang terparkir sangat jarang dengan jarak berjauhan satu sama lain.


" Sayang, yakin tidak mau katakan apa yang kau inginkan? " ucap Brian setelah mereka sudah berada di dalam mobil.


" Mmmm.... " Jia masih ragu mengatakan nya.


" Aku tidak mau anak kita ileran hanya karena kamu malu mengatakan apa yang kamu itu inginkan. " Brian.


" Tapi kau jangan marah padaku. " lirih Jia.


" Ck, mana mungkin aku marah padamu. Kecuali kau meminta mencium Alex lagi, aku akan sangat marah jika itu yang kau minta. " Jelas Brian.


" Tidak akan! "


" Lalu apa? cepat katakan. " Brian mulai tak sabar ingin tau apa yang di inginkan istrinya.


" Emmm... tadi aku menonton film Titanic, aku ingin melakukan seperti Jack dan Rose. " Jia mengucapkan nya dengan pelan pelan.


" Kau ingin pergi ke kapal? " tebak Brian.


" Bukan. "


" Lalu? kau ingi berdansa romantis dengan ku. " Brian.


" Bukan itu... " Jia masih malu ingin mengatakan nya.


" Jangan bilang kau ingin aku tenggelam di air es yang membuatku beku!! ayolah Jia, aku tidak ingin mati kedinginan. " Brian masih menebak keinginan Jia, yang pasti itu sangat konyol di liat raut wajahnya yang tampak ragu untuk meminta.


" Bukan kapten, mana mungkin aku menginginkan mu mati tenggelam. "


" Lalu? " Brian memicingkan sebelah alisnya.


Dengan sekali tarikan nafas Jia berucap. " Aku ingin bercinta di mobil seperti Jack dan Rose."


" Baiklah.. dengan senang hati. Tapi kita pulang dulu. kita lakukan di garasi yang tertutup. " Brian tersenyum gembira jika diminta dalam urusan kehangatan.


" Tidak mau!! aku maunya disini! sekarang! " ucap Jia dengan lantang.


" Apa!!! yang benar saja Jia.... nanti jika orang lain melihat bagaiman? ini kan di parkiran."


" Ayolah kapten, tidak ada yang akan melihatnya, di sini sepi.. " rengek Jia dengan manja.


" Aduh.. bisa gawat kalau salah satu karyawan nya memergoki ku berbuat mesum di parkiran." batin Brian.


" Kaca mobil kan tidak tembus pandang dari luar dan ada tirainya untuk menutupi, jadi tidak akan ada yang melihatnya. " ucap Jia kembali untuk meyakinkan Jia.


Brian mengitari sekitar dengan penglihatannya, di lihat memang tidak ada orang yang lalu lalang, tapi bagi Brian ini sangat konyol, dirinya yang begitu mengidamkan kehangatan tidak pernah sampai berpikir melakukannya di area parkir perusahaannya sendiri.


Dengan terpaksa Brian mengiyakan keinginan istrinya. " Baiklah.. "


Mendengar itu Jia langsung beranjak ke pangkuan Brian dan melakukan kehangatan.


" Sayang hati-hati. " Brian mengingatkan Jia yang sedang berpacu di sana.


" Kapten.. aku mencintai mu."


" Aku juga sangat mencintai mu. "


" Kapten.. kita sungguh pasangan yang sangat liar.. " ucap Jia dengan nafas yang terengah.


Brian terkekeh. " Sudah ku katakan, aku senang jika kau liar, tapi kau hanya boleh liar di hadapan ku. Ingat itu. "



***


Hai Reader's sesuai keinginan kalian, Author balik lagi ke cover sebelumnya. Apapun itu, yang penting kalian senang...

__ADS_1


bye.. bye..


__ADS_2