
Setelah kepergian Leo dan Alesya, Brian kembali mendekati istrinya, menariknya ke dalam pangkuannya.
" Aaaakh... Brian!. " Jia terkejut saat Brian menarik lengannya dan terduduk di pangkuannya.
" Sayang, aku merindukanmu. " Brian kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk Jia, menikmati aroma tubuh istrinya yang sudah menjadi candu untuknya.
" Sayang, apa tamu bulananmu sudah pergi? " Sebelum melancarkan niatnya, Brian memastikan tidak ada penghalang lainnya untuk menuntaskan hasrat yang sudah seminggu ini tertahan.
Jia mengangguk pelan untuk menjawabnya. Brian terseyum lebar, tidak lupa menghujani ciuman di wajah istrinya.
Brian memulainya dengan ciuman lembut yang semakin lama menjadi ciuman panas.
" Brian, ini di kantor. " Jia mengingatkan Brian sebelum kegiatannya semakin jauh.
" Tidak masalah, jangan coba menghindari ku lagi. Aku tau niatmu. " ucap Brian.
Jia hanya bisa pasrah menerima nya, sudah terlalu sering Jia menghindari Brian untuk tidak menyentuhnya. Jika di rumah, Jia akan memanfaatkan Sean, mengajaknya tidur di kamarnya atau Jia yang akan tidur di kamar Sean.
Jia membalas ciuman dari Brian, Brian menyingkap pakaian Jia sehingga terlihatlah benda favoritnya. Memainkannya dengan sangat lihai, membuat empunya menggeliat disertai desahan manja.
Brian mengangkat tubuh Jia, membawa ke dalam kamar pribadinya yang tersedia di ruangannya.
" Brian, aku.. aku masih takut. " ucap Jia ketika Brian sudah berada di atasnya.
" Ini akan sangat nikmat sayang, tidak akan sakit lagi. Percayalah. " ucap Brian meyakinkan.
Jia mengangguk dengan erat kedua tangannya mencekram di bahu Brian dan kedua matanya terpejam untuk bersiap menerima perlakuan Brian, Jia masih terbayang akan sakit di malam itu.
Brian yang melihatnya hanya terkekeh. Sungguh sangat menggemaskan melihat tingkah istri kecilnya.
Jia membuka matanya dengan cepat ketika merasakan sesuatu masuk dalam miliknya dan tidak merasa sakit seperti waktu itu.
" Aku sudah katakan, ini tidak akan sakit. Sekarang kau percaya? " Ucap Brian sambil bergerak dibawah sana.
Jia mengangguk, menggigit bibir bawahnya dengan mata yang terpejam, menikmati permainan Brian.
" Brian..Briaa.. an... " ucap Jia disertai desahan.
" Kau menyukainya? " Brian. Jia hanya mengangguk malu.
" Apa kau masih takut dengannya? apa masih menyeramkan bagimu? " Brian.
" Tidak. Aku sangat menyukainya Brian. I love you. " jawab Jia dengan pipi yang sudah merona. Menenggelamkan di dada Brian yang masih meninndihnya.
" I love you to.. " Brian.
Brian berpacu lebih cepat untuk mendapatkan pelepasannya. Mereka melakukannya hingga berkali - kali. Jia yang baru menyadari betapa nikmatnya surga dunia, dengan senang hati mengulangnya lagi. Mereka tertidur seusai melakukan kegiatan yang menguras tenaga.
Dering ponsel berbunyi sangat nyaring membuat Brian terbangun. Dilihat wajah istrinya yang masih terlelap, memberikan kecupan di keningnya sebelum Brian membersihkan diri.
Brian mencari ponsel yang sedari tadi berbunyi nyaring. Di ambilah celana yang tergeletak di lantai mencari benda pipih yang terselip di kantong celana itu.
Terlihat panggilan dari pak Sam dan banyak pesan
masuk. Brian segera mengambil pakaian di lemari yang sudah tersedia. Brian meninggalkan Jia yang masih tertidur untuk melanjutkan pekerjaan nya.
~
Tiga puluh menit Brian berada di ruang meeting bersama client, seusai meeting terlihat jelas raut wajah Brian menahan amarahnya.
" Pak Sam, panggil Dinda dan bu Livia keruangan ku! kau dan Nino juga. " ucap Brian sambil berjalan menuju ke ruangannya.
" Baik tuan. " jawab pak Sam.
__ADS_1
Brian kembali ke ruangannya dengan wajah masam. Perlahan membuka pintu kamar, terlihat istrinya masih tertidur dengan pulas membuat senyuman terukir di wajahnya melupakan masalah yang ada. Karena tidak ingin menggangu Jia, Brian menutup pintunya kembali.
Brian sudah menunggu kedatangan pak Sam dan yang lainnya.
Dengan wajah yang dingin dan tatapan tajamnya menyambut kedatangan bawahannya yang baru saja datang.
" Jelaskan semua ini Dinda. " Brian melemparkan beberapa file ke arah Dinda yang baru saja datang dan mendudukan dirinya di sofa.
Dinda terkejut dengan perlakuan Brian, meraih file yang di lempar oleh Brian, melihatnya dengan seksama.
" Jika kau tidak bisa meng-handle nya, kenapa kau memaksakan diri. Kau membuatku hampir kehilangan proyek besar! " ucap Brian dengan tatapan tajam dan suaranya yang meninggi.
" Dan kau... " tunjuk Brian pada pak Sam dan Nino. " Kenapa tidak cross check sebelum menyerahkan nya pada pertner bisnis kita! membuatku malu saja! " lanjut Brian.
" Maaf tuan.. " pak Sam meminta maaf atas kelalaian nya sehingga membuat Tuannya malu pada partner bisnisnya dengan menyerahkan laporan yang tidak sesuai.
" Pak Briano, saya membuat laporan ini sesuai data yang di berikan oleh pekerja di lapangan. " jelas Dinda dengan menatap Brian, pandangannya teralihkan pada sebuah tas jinjing bermerek tergeletak di atas meja kerja Brian.
" Tas siapa itu? " batin Dinda.
" Aku tidak menerima alasan!! " bentak Brian.
Dinda terkesiap dengan suara Brian yang menggelegar. Suasana di ruangan sangat mencekam, membuat orang yang diruangan itu ingin cepat - cepat pergi.
" Livia, periksa pengeluaran perusahaan. Apa ada yang mencurigakan untuk proyek Resort kita di bali dan Singapore? saya ingin laporannya besok pagi sudah ada di meja saya. " perintah Brian.
" Baik Pak, " jawab bu Livia. " Tapi saya menemukan pengeluaran dengan jumlah yang besar di rekening pribadi Bapak dalam satu hari. " jelas Livia.
Brian mengalihkan pandangannya ke arah Livia. " Berapa? " tanya Brian dengan santai.
" Tiga Milyar pak, dalam sehari. " jelas Livia.
" Bisa kau sebutkan Rincianya? " Brian.
Sedangkan Dinda yang mendengarnya di buat geram, Dinda tau sekali pengeluaran itu pasti ulah istri Barunya. " Rasakan kau akan merasakan amarah mas Brian yang mengerikan. " batin Dinda.
Dinda pernah mengalaminya dulu, terkena marah oleh Brian karena menghabiskan ratusan juta dalam sebulan untuk bersenang - senang. Apalagi ini tiga milyar dalam sehari, bisa lebih dari sekedar marah yang bisa diterimanya.
" Oke. Biarkan saja. " ucap Brian dengan santai.
" Whatt!!!!! mas Brian tidak marah sama sekali. " Dinda sangat terkejut melihat reaksi Brian yang biasa saja mendengarnya.
Sama halnya dengan bu Livia, dia juga cukup terkejut dengan tanggapan Brian.
Sedangkan pak Sam dan Nino tidak merasa heran, karena itu hal biasa yang dilakukan Jia, meski tanpa uang dari Tuannya, Jia mampu menghabiskan uang lebih dari Tiga Milyar.
~
Di dalam kamar Jia mulai membuka matanya, terbangun dari tidurnya tetapi tidak mendapat Brian berada di sisinya. Jia segera beranjak membersihkan diri. Seusai mandi Jia menemukan paper bag berisi dress selutut dan segera memakainya.
Sebelumnya Brian telah mengutus seseorang untuk membelikan pakaian untuk Jia.
~
" Pak Briano, saya mendapat laporan, orang yang menyalah gunakan uang pembangunan proyek kita sudah tertangkap, dan kemungkinan ada orang yang membantunya. " jelas Nino setelah membuka email yang baru saja masuk.
Mendengar laporan dari Nino, membuat Brian semakin marah tidak terkendali. " Cari tau orangnya!!! jebloskan mereka ke penjara!!! " ucap Brian menggelegar.
Ceklek... suara pintu kamar terbuka. Dan semua mata tetuju pada seseorang yang baru saja membuka pintu kamar.
Dinda membulatkan matanya mendapati Jiandra keluar dari kamar pribadi milik Brian.
" Brian.. apa kau marah lagi? apa kau tadi berteriak? " tanya Jia sambil mendekat ke arah Brian tanpa menoleh ke arah orang yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
" Tidak sayang, aku tidak marah. Aku hanya menegur mereka yang tidak benar dalam bekerja. " ucap Brian dengan lembut menyelipkan anak rambut kebelakang telinga istrinya.
" Cih, kau pandai sekali berbohong tuan, kau bahakan marah seperti singa yang akan menerkam mangsanya. " batin pak Sam.
" Ooh... " Jia menganggukan kepalanya.
Dinda masih belum percaya dengan apa yang dia lihat. Masih memperhatikan perilaku Brian yang sangat lembut pada Jia.
" Apa istri mas Brian itu Jiandra? tapi kenapa mas Brian bersikap sangat lembut padanya. Berbeda sekali jika dengan ku. " batin Dinda.
Semua mata disuguhkan pemandangan yang tidak biasa, Jia yang baru saja keluar dari kamar menggunakan dress dengan bahu yang terekpos, memamerkan tanda merah yang tidak sedikit di leher Jia.
Selain itu, pintu kamar yang setengah terbuka dengan jelas melihatkan apa yang sudah terjadi di sana. Kamar yang terlihat seperti kapal pecah dan pakaian yang berceceran di lantai, membuat mata yang melihatnya tau kegiatan apa saja yang sudah Brian dan Jia lakukan.
Dinda di buat murka melihat pemandangan yang ada di depannya, membuatnya merasa iri. Selama menjadi istri Brian, Dinda sama sekali tidak pernah menginjakan dirinya di kamar pribadi Brian.
Jangankan mendapat tanda kepemilikan dari Brian, tidur di kamar nya saja tidak pernah.
" *Astaga, aku tidak menyangka Pak Briano bisa seperti itu. " batin bu Livia.
" Pak Briano benar - benar menghabisi Nona Jia. "batin Nino*.
" Brian. Aku ingin pulang.. " Jia berkata dengan manja.
" Baiklah, aku akan mengantarmu. " ucap Brian.
" Pak Sam, tangani masalah ini dengan cepat! " perintah Brian.
" Baik tuan. " jawab pak Sam.
Brian melingkar kan tangannya di pinggang Jia, menuntun nya keluar ruangan.
" Pak Sam, apa yang baru aku lihat ini benar? " ucap Dinda setelah kepergian Brian dan Jia.
" Tiga Milyar dalam sehari? dan Brian hanya diam saja!! "
" Dan apa ini! apa yang baru saja aku lihat. Dia bercumbu di kantor?? seorang Brian!! hah. aku tidak menyangkanya!! " Dinda terus menerus merancau tidak Terima.
Sedangkan pak Sam dan Nino bungkam seribu bahasa, tidak mau menanggapi Dinda.
*
*
*
*
*
*
Hai reader's jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terimakasih sudah setia membaca karyaku ini.
Baca juga karya baru ku yang berjudul Adrian Haidar
Maaf jika masih banyak typo.
Sampai jumpa lagi di episode berikutnya....
bye.. bye..
__ADS_1