
Jia tengah duduk di pangkuan Brian, membantu membersihkan bulu halus di sekitar rahang milik suaminya.
" Sayang hati - hati. Apa kau benar bisa melakukannya? " ucap Brian dengan kedua tangannya menyanggah punggung istrinya.
" Tenang saja kapten, aku bisa. " Jia disibukan mencukur jambang milik suaminya. " Aku sering melihat mama membersihkan ini pada papa. "
Brian hanya memanggutkan kepalanya, tidak tinggal diam tangannya mulai bergerak kesana kemari menyusuri lekuk tubuh istrinya.
" Brian stop! kau akan mengganggu konsentrasi ku, " gerutu Jia.
Brian terkekeh. " Aku tidak bisa diam jika aku di dekat mu. " ucap Brian. " Kau sangat menggemaskan, aku selalu ingin memakan mu. " Brian mencubit kecil puncak hidung Jia.
" Ck, bahkan kita baru satu jam beristirahat. Kau mesum sekali. Jika seperti ini, aku lebih memilih ke Labuan Bajo, disana pasti banyak waktu untuk berwisata. Disini kau mengurung ku, melakukan apapun sesuka hati mu. " Jia berdecak kesal.
" Tapi kau sangat suka bukan? " Brian menaik turunkan kedua alisnya.
" Cih, mau bagaimana lagi, kau selalu memaksaku. " Jia.
" Jangan cemberut, kau semakin menggemaskan nanti aku tergoda. " bisik Brian di telinga Jia.
" Bagaimana tidak tergoda! kau menyuruhku memakai bikini, seperti di pantai saja! " gerutu Jia, bagaimana tidak kesal? Brian menyuruh Jia seharian hanya memakai bikini.
" Karena aku sangat menyukainya. Kau memakainya hanya di kamar dan hanya aku yang melihatnya. Jadi, tidak masalah bukan? jika kau kedinginan, aku dengan siap akan menghangatkan mu. " jelas Brian sambil memainkan anak rambut Jia yang sedikit menutupi wajah cantik istrinya.
" Kau pintar sekali membuat alasan. " ucap Jia sambil mencubit kecil perut Brian.
" Sudah selesai, kau terlihat lebih muda jika seperti ini. " jelas Jia yang telah selesai mencukur habis bulu - bulu halus di sekitar rahang suaminya.
" Benarkah? " Brian.
" Tentu saja, kau harus rajin mencukur nya jika kau ingin terlihat muda. " Jia.
" Tentu, mulai sekarang aku akan melakukan seperti apa yang kau katakan. Jadi apa kita sudah cocok terlihat seperti pasangan suami istri? bukan kaka adik? "
" hem... " jawab Jia dengan malas. " Sudah selesai, aku ingin tidur, aku lelah sekali. "
" Ini sudah siang sayang, kenapa mau tidur? " Brian bertanya tanpa merasa bersalah.
" Apa kau tidak ingat? dari malam sampai pagi kau terus mengganggu ku. "
" Baiklah, kau istirahat dulu... nanti kita lanjutkan lagi kegiatan yang tertunda. " Brian.
Jia tidak membalas, hanya menggelengkan kepalanya. Seakan tidak percaya pada suaminya yang benar - benar luar biasa tidak mengenal lelah.
__ADS_1
***
" Mas, aku ingin makan mangga muda. " Tiara yang kini tengah mengandung meminta Valent untuk mencari mangga muda.
" Iya sayang, nanti aku suruh pak Dio untuk membelinya. " ucap Valent sambil berkutat dengan pekerjaan nya.
" Tapi aku ingin, kamu sendiri yang memetik nya langsung dari pohon. " Tiara.
Valent sejenak menghentikan pekerjaannya, " Sayang, aku harus memitiknya dimana? " tanya Valent.
" Tetangga kita mempunyai pohon mangga, aku pernah melihatnya. " ujar Tiara.
" Iya, nanti akan ku petik kan. " Valent kembali meneruskan pekerjaan nya.
" Tapi aku ingin sekarang. " pinta Tiara dengan wajah memelas nya.
" Sayang, kita baru saja datang ke kantor. Tunggu sebentar, aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu
" pinta Valent agar istrinya mengerti. Pekerjaan yang banyak tertunda akhirnya - akhir ini, karena Valent di buat sibuk dengan istri yang tengah mengandung anaknya, buah cinta mereka.
" Hiks.. hiks.. kau jahat sekali. Kau tidak menyayangiku.! " isak Tiara yang merasa tidak di perdulikan oleh Valent.
Entah kenapa semenjak kehamilannya, Tiara begitu sensitif dan sangat manja. Padahal Tiara bukan tipe wanita yang gampang menagis.
" Kenapa Tiara jadi seperti Jia yang suka sekali menangis dan begitu manja. huffttt" batin Valent.
***
Sore harinya, Brian bergegas pulang karena mendapat kabar jika Sean demam tinggi. Bulan madu yang direncanakan untuk lima hari bahkan satu minggu berakhir hanya tiga hari.
Brian mengemudikan mobilnya dengan raut wajah yang tampak gelisah. Jia bisa menebaknya jika Brian sangat mengkhawatirkan Sean.
" Kapten.. semua akan baik - baik saja. " Jia berusaha menenangkan Brian. Namun Brian tak bergeming dengan ucapan Jia.
" Ternyata Brian sangat menyayangi Sean, bagaimana jika benar apa yang di katakan kak Tia. Bahkan aku tidak tega untuk memberitahukan nya, " batin Jia.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai, karena memang apartemennya tidak jauh dari rumah kediaman Nugroho.
" Mah, bagaimana keadaan Sean. " tanya Brian yang baru saja masuk ke dalam kamar Sean.
Renatta tampak bingung dengan kehadiran Brian," Brian kenapa kamu disini? " bukannya menjawab pertanyaan Brian, Renatta balik bertanya tentang keberadaan Brian, karena setau Renatta Brian dan Jia pergi ke Labuan Bajo untuk berbulan madu.
" Nanti aku jelaskan mah, Sean apa masih demam? " tanya Brian.
__ADS_1
" Kau tidak usah cemas, Sean tidak apa. Semalam memang demam tapi sekarang sudah turun demamnya. " Jelas Renatta.
Brian bernafas lega setelah mendengar keadaan yang sebenarnya dari Renatta.
" Tapi, kenapa Dinda bilang keadaan Sean sangat buruk. Apa ini hanya akal - akalan dia saja! " batin Brian.
Jia yang sedari tadi mengekori Brian dan setelah mendengar keadaan Sean baik - baik saja, Jia pergi kekamar nya untuk beristri.
Brian sejenak mengecup pipi Sean yang masih tertidur pulas. Kemudian kembali ke kamarnya menyusul Jia. Brian merasa sangat bersalah pada istrinya, karena terlalu khawatir dengan keadaan Sean, Brian mengacuhkan Jia di perjalanan pulang tadi.
Setelah masuk kamar, Brian melihat Jia sudah tertidur pulas. " Sepertinya dia sangat lelah. " Brian ikut membaringkan tubuhnya di samping Jia, tidak lama Brian terlelap, rasa kantuk tidak bisa di tahannya lagi.
***
Pukul 01.00 dini hari, Jia terbangun.
" Kapten.. kapten.. bangun.. " Jia mengguncang bahu suaminya yang tertidur.
" Hemm.. kenapa sayang. " ucap Brian tanpa membuka matanya.
" Aku lapar. " Jia.
" Kau lapar? " tanya Brian sembari mendudukan dirinya. Jia hanya menganggukan kepalanya.
" Bukannya tadi kau sudah makan malam. Apa kau lapar lagi? " tanya Brian.
" Iya aku sangat lapar. " jelas Jia.
" Yasudah aku temani kamu makan. " Brian.
" Aku ingin makan mie instan. Seperti yang pernah kau buat waktu itu, yang di perbatasan. " jelas Jia.
Brian mengernyitkan keningnya. " Mie instan? kenapa akhir - akhir ini kau suka sekali makan makanan yang tidak sehat. "
" Tidak tau, aku sangat ingin sekali memakan mie instan. "
" Baiklah aku akan membuatkannya. "
" Tapi, rasanya harus sama seperti waktu itu. Apa kau masih ingat cara membuatnya? " tanya Jia.
" Bagaimana bisa aku lupa, aku sangat mengingatnya. " Brian.
Di dapur Brian segera memasak mie Instant seperti yang Jia inginkan. Untung saja ada stok mie instan, jika tidak sungguh akan merepotkan.
__ADS_1
Jia yang menemani Brian memasak, melihatnya dengan seksama, keinginan untuk memakan mie instan membuat Jia berkali - kali menelan salivanya ketika melihat sebungkus mie telah masuk kedalam panci.
Brian tidak percaya dengan keinginan istrinya makan di tengah malam, dan lagi makanan itu berupa mie instan, yang jelas Jia tau resikonya jika memakannya akan membuat bobot tubuhnya naik.