Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Amplop putih


__ADS_3

" Sayang, jangan mendiamiku seperti ini.. " Brian mengekori istrinya kemanapun ia melangkah.


Jia mendiami suaminya,semenjak permintaannya yang menurut Brian sangatlah konyol untuk di turuti.


" Mengabulkan permintaan nya? hah, yang benar saja! tidak akan pernah aku kabulkan!! " Brian.


Karena tidak mendapat respon dari istrinya, akhirnya Brian menyerah untuk membujuk kali ini, karena Brian harus segera ke perusahaan. Dia akan membujuknya kembali setelah pulang bekerja.


" Sayang, aku pergi ke kantor dulu. " ucap Brian sambil mencium puncuk kepala Jia yang masih membelakangi nya, Jia hanya membiarkan Brian tanpa menghiraukan nya.


***


Sore ini Jody dan Mirra berkunjung ke rumah Renatta untuk bertemu putri kesayangannya.


Kehadiran sang besan di sambut ramah oleh Renatta.


" Renatta, apa putri kami merepotkan mu? " tanya Mirra yang tengah duduk di sofa berdampingan dengan Jody.


" Tidak sama sekali, Jia sudah aku anggap seperti putri ku sendiri, kehadiran nya membuat warna baru di rumah ini. " ucap Renatta.


" Syukurlah, Jia masih kekanakan meski umurnya sudah tidak muda lagi. Aku juga tidak menyangka, sebentar lagi putri ku akan menjadi seorang ibu. " Mirra.


" Benar mah, putri kita sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. " Jody.


" Iya, kita akan mendapatkan cucu... " Renatta.


Mereka pun melanjutkan percakapannya, Jia menemani mereka sembari melepas rindu dan sedikit manja pada kedua orang tuanya, terutama pada Jody.


Di tengah perbincangan mereka, tiba - tiba Jia menginginkan sesuatu, tanpa ragu Jia menghubungi pak Sam untuk membantunya. Kenapa bukan Brian yang di hubungi?karena Jia tidak ingin bicara dengan suaminya sebelum keinginannya terkabulkan.


Jia meninggalkan mereka untuk pergi ke kamarnya, " Mah, pah. Jia ke kamar dulu yah. " pamit Jia.


" Iya sayang.. " Mirra.


Sesampainya di kamar Jia segera menghubungi pak Sam untuk membelikan sesuatu.


***


" Apa itu telfon dari istri ku? " tanya Brian pada pak Sam.


Saat Jia menelfon pak Sam, pak Sam sedang berada di ruangan Brian bersama Nino.


" Iya Tuan. " Jawa pak Sam.


" Kenapa dia tidak menghubungi ku? " dialeg Brian. " Apa yang dia katakan? " Brian kembali bertanya pada pak Sam.


" Nona ingin memakan Mie ayam, bakso dan siomay tuan.. " jelas pak Sam.


" Aneh sekali, kenapa semenjak hamil, Jia memakan makanan yang paling dia hindari dulu, " Brian.


" Mungkin pengaruh hormon kehamilan tuan, itu sering di alami oleh wanita hamil. " Pak Sam.

__ADS_1


Brian mengusap wajahnya dengan kasar mengingat permintaan Jia yang aneh, yang membuatnya di acuhkan oleh Jia.


" Aku saja yang membelinya, kau dan Nino ambil alih pekerjaan ku. " ucap Brian. Mungkin dengan ini, Jia segera memaafkannya dan melupakan permintaan untuk mencium Alex.


" Baik Pak. " Nino


" Baik tuan. " pak Sam.


***


Di kamar Jia merasa bosan, ingin tidur tapi tidak mengantuk, " Nonton Drama, tapi bosan. Dari tadi aku sudah menonton... aku ingin baca saja, seperti nya aku punya buku yang belum sempat aku baca. " gumam Jia.


Jia memeriksa beberapa laci di nakas, " Sepertinya aku menaruhnya disini.. " Jia terus mencari buku itu, membuka setiap laci yang ada di kamarnya.


Pandangannya terhenti pada saat menyibakkan beberapa tumpukan kertas di dalam laci, Jia menemukan sebuah amplop putih yang sudah usang bertuliskan nama dirinya.


" Apa ini, kenapa ada nama ku disini, " lirih Jia sambil mengambil amplop putih itu, karena rasa penasaran, Jia membuka isi amplop itu.


" Kenapa ada foto ku di dalam sini? ini foto lama ku. Kenapa Brian punya foto ini? " Jia makain penasaran kenapa Brian mempunyai foto lama dirinya.


" Sebaiknya aku tanya saja pada mama Renatta. " Jia kembali melangkah menyusuri anak tangga menuju ruang keluarga dimana Renatta dan kedua orang tuanya masih ada disana.


" Mama Ren, " Jia memanggil ibu mertuanya dan segera duduk di samping Renatta.


" Iya sayang.. "


" Mah, apa mama tau kenapa foto lama ku ada di kamar Brian? " Jia menanyakan langsung dan memperlihatkan sebuah amplop dan potret dirinya.


Renatta hanya diam, karena Brian sudah pernah berkata jangan sampai Jia tau tentang perjodohan waktu itu.


" Coba papa lihat? " Jody menjulurkan tangannya untuk melihat foto itu.


Jia memberikannya pada Jody. Renatta yang melihatnya sangat cemas jika Jody mengingat dan memberitahu semuanya.


" Oh.. ini seperti nya papa yang memberikan nya. "


Jia mengernyitkan keningnya, mencerna apa yang di katakan oleh papanya. " Papa yang memberikannya? "


Jody hanya menganggukinya.


" Untuk? " Jia.


Mirra segera memberikan kode pada Jody untuk tidak melanjutkannya. Mirra memang sudah tau kisah cinta Jia dan Brian sebelum menikah dari Valentino, berbeda dengan Jody yang memang tidak tau sama sekali.


Renatta pun sudah terlihat cemas, terlihat dari duduknya yang semakin gelisah.


Mirra dan Renatta sama - sama memberi kode pada Jody. Namun seperti nya Jody tidak menyadari hal itu.


" Apa kau belum tau? kau dan Brian sempat kami jodohkan, namun gagal waktu itu. Namun siapa sangka kau memang jodoh dengan Brian, akhirnya kalian menikah juga. Hahaha... " jelas Jody dengan gelak tawanya.


" Papah!!!! " Mirra.

__ADS_1


Jody yang masih tertawa pun segera menghentikan tawanya, mendengar Mirra memanggilnya dengan nada penuh penekanan.


Jia menundukan kepalanya. " Jadi... yang menolakku dulu itu Brian?? " lirih Brian.


" Sayang, Brian tidak menolak mu. Dulu Brian memenuhi tugas negaranya. " jelas Renatta.


" Iya sayang.. " Mirra menenangkan Jia yang sudah terlihat sedih di wajahnya.


Jia mengangkat kepalanya yang tertunduk untuk melihat kebenaran di wajah Renatta.


Sebelum pandangannya teralihkan pada Renatta, tatapan Jia terfokus pada seseorang yang baru saja masuk membawa sebuah bingkisan di tangannya.


Jia berdiri lalu menghentikan kakinya. " Kau menyebalkan!! berani sekali kau menolak gadis cantik seperti ku! aku membencimu!!! " Jia.


Brian yang baru datang dibuat kaget dengan Jia yang memarahinya. Seketika pandangan tertuju pada sebuah amplop usang. " Shittt!! " batin Brian.


" Ini semua gara - gara papa! " Mirra menegur Jody.


" Kenapa papa yang di salahkan. " bela Jody.


Brian segera mengejar Jia yang masuk kedalam kamar. " Sayang.. sayang.. tunggu... aku bisa jelaskan. "


" Aku membencimu!!!! " teriak Jia dari dalam kamar.


" Sayang.. buka dulu pintunya. Aku akan menjelaskan semuanya. " Brian mengetuk - ngetuk pintu kamarnya agar segera di buka.


" Tidak mau!!! kau tidak boleh masuk. Aku tidak mau melihatmu!!! "


" Sayang... maafkan aku. tolong buka dulu pintunya. "


" Mulai hari ini, kau tidur diluar!!! "


Mendengar Jia menyuruhnya tidur diluar membuat tubuh Brian melemas seketika. Di acuhkan saja membuatnya pusing, apalagi disuruh tidur di luar?


" Astaga... sial sekali aku.. " Brian.


*


*


*


Hai reader's jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terimakasih sudah setia membaca karyaku ini.


Maaf jika masih banyak typo.


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya....


bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2