Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Briano Jiandra


__ADS_3

Malam harinya Jia dan Alesya bersiap - siap untuk menghadiri acara makan malam.


" Lesya.. apa ini terlihat cantik untuk ku? " Jia memamerkan gaun selutut yang di kenakannya, meminta pendapat pada sahabat nya.


" Kau sempurna Jia, kau terlihat sangat cantik. " Alesya memuji penampilan Jia.


" Benarkah? Terima kasih Lesya, kau juga terlihat cantik malam ini." Jia mengamati dirinya di depan cermin. Jia juga memuji penampilan Alesya yang tidak kalah cantik dengan dirinya.


" Tentu saja, kau akan membuat suami mu terpesona melihat kecantikanmu. " Alesya meyakinkan Jia. " Tapi, kenapa kau tidak satu kamar dengannya, kenapa memilih tidur bersama ku? apa kalian ada masalah? " tanya Alesya.


Jia menjelaskan semuanya, tentang dirinya yang bekerja di kantor Brian, tanpa mengumumkan status mereka. Tidak lupa jia menceritakan tentang Dinda dan Sonia. Alesya akhirnya mengerti kenapa sahabat nya memilih satu kamar dengannya dari pada dengan suami yang di cintainya.


Jia dan Alesya bergegas menuju tempat acara makan malam, mereka merasa terlalu lama menghabiskan waktu untuk berias diri. Dan benar saja, sesampainya di meja makan yang sudah tersedia hanya mereka berdua yang terakhir datang.


" Kalian lama sekali! tidak sadar kami semua menunda makan malam hanya menunggu kalian! " Dinda tidak segan memarahi bawahannya yang telat datang sehingga membuat semua orang menunggu.


Sebelumnya Dinda telah mencari informasi tentang Alesya yang sempat ia curigai istri dari Brian, tetapi menurut informasi yang di dapatnya, Alesya hanya rekan bisnis yang mendapat undangan dari Diamon grup. Jadi Dinda tidak takut jika memarahi Alesya atas kesalahannya.


Jia hanya diam saja tidak menanggapi perkataan Dinda.


" Apa itu mantan istri Brian " bisik Alesya sembari mendudukan diri. Jia hanya menganggukkan kepalanya.


" Dia galak sekali! " Alesya masih berbisik.


" Sudahlah diam. Jika dia dengar nanti kita terkena marah lagi! " ucap Jia.


Di meja yang tidak jauh dari keberadaan Jia, Brian menatap Jia dengan lekat, mengagumi kecantikan istrinya. Alesya yang tidak sengaja menangkap tatapan Brian yang di tunjukan pada sahabatnya itu tersenyum lebar.


" Jia.. Lihat lah itu, suami mu tidak bisa berkedip melihat kecantikan mu." bisik Alesya dengan menyenggolkan sikutnya ke lengan Jia.


Jia mengalihkan pandangannya ke arah Brian, memberikan senyuman manisnya, dan di balas dengan senyuman di sertai anggukan oleh Brian.


Mereka semua menikamti makan malamnya. Setelah selesai makan malam, mereka melanjutkan aktifitas nya masing - masing, ada yang kembali ke kamar, dan ada yang masih menetap di meja makan untuk mengobrol.


" pak Briano, apa ada lagi yang Anda perlukan? " tanya Sonia mencoba mendapat perhatian dari atasannya.


" Tidak Sonia, kau bisa kembali ke kamarmu. " pak Sam dengan sigap menjawab pertanyaan Sonia, melihat Tuannya yang enggan untuk menjawab. Tatapannya masih tertuju pada istrinya yang tengah asik bercengkrama dengan teman - temannya dan pak Sam menyadari itu.


Malam semakin larut, Jia berpamitan ke kamarnya untuk beristirahat. Mereka semua pun membubarkan diri kembali ke kamarnya masing - masing.


Tinggal tersisa satu meja yang masih terisi, mereka tidak lain Brian, pak Sam dan Nino. Sebelumnya Dinda belum lama ikut bergabung dengan mereka.


" Jia.. aku ke toilet sebentar ya! kau duluan saja " ucap Alesya.


" Baiklah, jangan terlalu lama. Aku takut sendirian. " Jia melanjutkan langkah menuju kamarnya. Sebenarnya bisa saja Alesya menggunakan toilet yang ada di kamarnya, tetapi terlalu lama karena Alesya sudah tidak bisa menahannya lagi.


" Oke! " Alesya.


Cukup lama Alesya di dalam toilet. Setelah urusannya selesai, Alesya melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar, tetapi langkah nya terhenti ketika mendengar percakapan seseorang, dan seseorang itu tidak lain adalah Dinda. Alesya semakin tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut. Kedua matanya membulat sempurna mendengar inti dari percakapan itu.


Alesya berlari menuju kamar, menemui sahabatnya. Setibanya di kamar, Alesya melihat Jia yang duduk santai sambil menonton televisi dengan gaun yang masih melekat sempurna yang ia kenakan tadi.


" Lesya.. Kenapa kau berlari? seperti di kejar hantu saja! " Jia sedikit terkejut dengan keadaan Alesya yang kehabisan nafas.


" Gawat.. gawat Jia.. ini gawat sekali. " ucap Alesya yang terkenal - sengal.


" Gawat apanya Lesya. Kau jangan menakutiku. "


" Jia.. Suami mu Jia, Brian.. dia.. dia... "


" Bicara yang jelas Lesya! Brian kenapa! " Jia mendekati Alesya yang masih berdiri di depan pintu.


Alesya mengatur nafasnya sebelum menceritakan pada Jia. " Tadi aku tidak sengaja mendengar Dinda menyuruh seorang pelayan memasukan obat perangs*ng ke dalam miuman Brian. " akhirnya Alesya menjelaskannya.


" Apa!!! " Jia membulatkan matanya, sangat terkejut mendengar apa yang di katakan sahabatnya.

__ADS_1


" Ayo.. lebih baik kita mencegahnya sebelum terlambat! " Alesya menarik tangan Jia, menuju tempat dimana tadi mereka melangsungkan acara makan malam. Jia hanya menurut mengikuti langkah sahabatnya.


Sesampainya di sana, Jia dan Alesya tidak menemukan orang satupun. Meja makan yang Brian tempati sudah kosong, gelas yang di yakini milik Brian tidak tersisa minuman sedikit pun.


" Bagaimana ini? apa Brian sudah meminumnya? " Jia berkata dengan lirih, pandangannya masih tertuju pada gelas milik Brian.


" Kau harus segera menemui Brian. Jangan kalah cepat dengan Dinda, jika kau tidak ingin suamimu menjadi milik orang lain! "


" Tapi.. aku.. " Jia masih berpikir, dirinya belum siap menerima Brian seutuhnya.


" Tapi apa? kenapa kau ragu, dia kan suamimu! apa susahnya melakukan dengan suamimu sendiri. bukan kah itu sudah biasa kau lakukan dengannya. Ayolah Jia.. apa kau mau Brian menghabiskan malam dengan mantan istrinya!!! " Alesya berfikir jika Jia dan Brian adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya.


" Tidak!! aku tidak akan membiarkan itu terjadi "


" Ya sudah, pergilah temui suamimu. Kau tau dimana dia kan? " tanya Alesya.


" Iya, aku tau " jawab Jia.


~


Setelah sampai di depan pintu kamar, Jia sedikit ragu untuk masuk.


" Aku harus bagaimana? apa aku pergi saja, seperti nya Brian di dalam baik - baik saja. " Jia mengurungkan niat nya untuk masuk ke dalam dan segera pergi.


Langkahnya terhenti memikirkan perkataan Alesya. " Tapi, kalau aku pergi... Dinda datang menemui Brian bisa kacau. Itu tidak boleh terjadi! tidak akan ku biarkan Dinda merebut Brian dariku! " Jia.


Ceklekkkk... pintu kamar terbuka. Terlihat Brian baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


Jia tidak berkedip melihat dada bidang suaminya. Pemandangan ini bukan yang pertama kali Jia lihat. Tetapi entah kenapa sekarang Jia terpesona dengan keindahan tubuh Brian.


" Sayang, kau di sini? " lamunan Jia buyar mendengar suara Brian.


" Iya.. aku.. aku akan tidur disini. " jawabnya gugup.


" Hem.. Aku takut tidur sendiri. Alesya tidak di kamarnya, entah kemana. " Jia berbohong untuk menutupi kegugupannya.


Brian tersenyum lebar mendengar nya dan mengangguk - anggukan kepalanya.


" Aku akan mandi " Jia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai madi, Jia baru mengingat kalau dia tidak membawa pakaian ganti.


" Brian.. " panggil Jia dari dalam kamar mandi.


" Iya sayang... "


" Aku lupa tidak membawa baju. Bisa kau ambilkan? "


" Oke! " Brian membuka lemari pakaian dan mengambil kemeja miliknya " Ini.. " Brian mengulurkan kemejanya dari celah pintu yang terbuka sedikit.


" Ini kan punya mu? bukan punya ku. "


" Apa kau lupa, tidak ada baju mu disini. Kau yang membawanya ke kamar mu dan Alesya. " jelas Brian.


" Oh.. iya aku baru mengingatnya. " Jia menerimanya.


ceklek.. pintu kamar mandi terbuka. Brian yang sedang sibuk dengan ponsel pintarnya mengalihkan pandangannya ke arah Jia.


Melihat Jia dengan pakaian yang di kenakkannya membuat Brian berkali - kali menelan salivanya. Terlihat jelas lekuk tubuh Jia, apalagi dengan kemeja yang berbahan tipis bisa di simpulkan Jia tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali.


Hal itu membuat Brian gusar tidak karuan, ingin sekali langsung menerkam istrinya,tetapi tidak bisa dia lakukan. Karena Brian sudah berjanji tidak akan melebihi batas tanpa seijin istrinya.


Brian berjalan mondar - mandir tidak karuan, sesekali mengacak kasar rambutnya. Hal itu membuat Jia berfikir yang lain.


" Brian, kau kenapa? " Jia mulai mendekat. Brian yang sadar Jia mendekatinya segera menghindar dan menjauh.Karena jika berdekatan, Brian takut tidak bisa mengontrol dirinya.

__ADS_1


" Apa obat itu sudah bereaksi? bagaimana ini. apa yang harus aku lakukan! " batin Jia.


Tidak menunggu lama Jia kembali mendekati Brian.


" Brian ada apa dengan mu? apa kau sakit? " Jia mengulurkan tangannya menyentuh kening Brian, memastikan suhu tubuhnya.


" Aku tidak apa - apa. " Brian menatap Jia dengan tatapan penuh gairah.


" Oh.. " Jia.


" Jia.. " panggil Brian.


" hem.. " Jia berdehem untuk menjawabnya.


Brian yang sudah tidak tahan melihat pemandangan di depan yang begitu menggoda, melangkah mendekat, merengkuh pinggang istrinya kedalam dekapannya.


Jarak di antara mereka sangatlah dekan. Brian mel*mat bibir Jia dengan lembut, Jia pun ikut membalasnya. Tidak lupa tangan Brian meng absen setiap jengkal tubuh Jia. Meremmas pay*dara yang sedari tadi menggodanya di balik balutan kain tipis yang menutupinya.


Jia menerima sentuhan - sentuhan yang di berikan Brian. " Apa obat itu sudah benar - benar bereaksi? ah sudahlah, aku akan menolong nya. " pikir Jia dalam hati.


Brian melepaskan ciumannya. " Jia, bolehkah aku melewati batasannya? Aku tidak bisa menahannya lagi Jia.. "


Jia perlahan mengaggukan kepalanya membuat Brian tersenyum kemenangan.


***


Maaf scene ini sudah di hapus...


Anda belum beruntung...


Maaf scene ini sudah di hapus...


Anda belum beruntung...


***


Terlihat jelas di wajah Brian yang begitu bahagia, bisa memiliki Jia seutuhnya. Penantian yang selama ini Brian tunggu akhirnya tiba.


Di lain tempat, Dinda sibuk mencari keberadaan Brian yang tak kunjung ia temukan. Dinda bertanya pada pak Sam dan Nino dimana Brian berada, tetapi dengan sigap Ninao dan pak Sam menolak memberitahu nya.


Brian tidak mau melewati kesempatan malam yang erotis bersama istri tercintanya. Berkali - kali Brian meminta untuk mengulangi lagi dan lagi. Jia hanya pasrah menurutinya, karena Jia berfikir Brian masih dalam pengaruh obat, sehingga tidak merasa kelelahan.


*


*


*


*


*


*


*


Hai reader's jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terimakasih sudah setia membaca karyaku ini.


Maaf jika masih banyak typo.


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya....


bye.. bye..

__ADS_1


__ADS_2