Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Ada yang aneh?


__ADS_3

Mereka bertiga sudah berada di restoran.


" Papa, boleh aku tanya sesuatu? " Jia.


" Mau tanya apa sayang. " Jody.


" Mm.. Sebenarnya entah kenapa aku ingin tau, " Jia masih ragu untuk bertanya." Kenapa aku bisa lupa? dan untuk apa aku ingin tau itu, itukan sudah lama sekali" batin Jia.


" Apa itu Jia? " Jody yang tidak sabar ingin tau apa yang di tanyakan oleh putrinya itu.


" Papa masih ingat dengan orang yang menolak perjodohan ku dulu? "


" Uhuk.. uhuk... " Brian tersedak mendengar pertanyaan Jia.


" Kapten, hati - hati. " Jia menyodorkan air mineral pada Brian sembari menepuk punggung suaminya.


Valent yang melihat nya hanya tersenyum. " Kenapa kau tiba - tiba menanyakan itu? "


" Aku tidak tau, Entahlah aku ingin sekali menjabak rambutnya. " ucap Jia dengan santainya.


" Astaga, bisa gawat kalau Jia tau aku orang nya. Tapi kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu, aneh sekali. " batin Brian.


" Itu sudah lama Jia, lupakan lah.Lagi pula kau sudah mempunyai suami untuk apa kau mengingatnya. " Jody berusaha menyembunyikan kebenaran jika Brian lah orang yang di maksud.


" Kau tanyakan saja pada suamimu, dia sangat mengenalnya. " timpal Valent dengan seringai di wajahnya.


Brian menatap tajam ke arah Valent. " Cih, kau memojok kan ku Valent! " batin Brian.


" Kapten.. apa kau mengenalnya? katakan padaku siapa dia, kau juga harus membantu ku. Aku ingin sekali menjambak rambutnya, berani sekali dia menolak ku! " ucap Jia dengan sorot mata penuh kebencian.


" Jia, tidak baik seperti itu. " tegur Jody.Jia tidak memperdulikan nasehat dari papanya.


" Kapten, kau mau membantu ku kan? " tanya Jia pada Brian yang masih fokus pada makanannya.


" Iya. " jawab Brian singkat. " Sebenarnya apa yang terjadi padanya? " batin Brian.


~


Di perjalanan pulang, Jia terus menerus mendesak Brian agar memberi tau siapa orang nya. Dan dengan banyak alasan juga, Brian berusaha mengalihkan pembicaraannya.


Tetapi bukan Jia namanya, jika belum mendapat kan yang ia mau. Berbagai bujukan dan rayuan telah Jia berikan, tapi Brian tetap mengabaikannya dengan cara berpura pura tertidur.


Memberi tau yang sesungguhnya hanya akan merugikan nya, pikir Brian. Entah apa yang akan Jia lakukan, jika tau Brian lah yang menolak nya dulu. Sudah pasti bukan hanya sekedar rambutnya yang akan menjadi korban sesuai yang Jia katakan, mungkin akan lebih buruk dari itu.


***

__ADS_1


Di tempat lain Dinda sedang menunggu seseorang di sebuah cafe. Sepulang kerja, Dinda menghubungi seseorang untuk bertemu dengan nya.


Tiara, dia lah orang yang kini Dinda tunggu. Cukup lama Dinda menunggu kedatangan Tiara. Kedua kaki nya tak henti mengetukan di lantai, menandakan akan kegelisahannya.


" Dinda.. sudah lama menunggu? " ucap Tiara sambil mendudukan diri.


" Cukup lama. " jawabnya singkat.


" Ada apa kau memanggil ku? ada hal penting? " tanya Tiara.


" Tidak usah basa basi, apa kau mengatakan semuanya pada Jiandra, adik ipar mu itu? "


" Iya, dia sudah tau tentang rahasiamu. " Tiara menjawab tanpa ragu dan takut.


Plak..


" Kurang ajar kau! berani sekali kau membocorkan rahasia ku! " ucap Dinda setelah mendaratkan tamparan di pipi Tiara.


Tiara hanya diam, memegangi pipinya yang baru saja terkena tamparan dari Dinda, memberikan bekas merah di sana, karena tamparan Dinda cukup keras.


" Lihat saja, aku akan mengatakan pada Valent, suamimu tentang kebusukan mu dulu! " ancam Dinda dengan menunjukkan jari nya ke wajah Tiara.


" Kata kan saja, tanpa kau mengatakannya dia sudah tau semuanya! " jawab Tiara tak kalah sengit.


" Kau!!! " Dinda kehabisan kata-kata, selama ini ancaman yang di berikan pada Tiara cukup berhasil mebungkamnya.


" Lihat saja Tiara... aku akan membalas mu! ingat itu!! " ucap Dinda.


Tiara yang mendengarnya sama sekali tak menghiraukan ancaman Dinda, karena dia percaya suaminya akan selalu melindungi nya.


" Siall!!!" Dinda berulang kali mengumpat.


***


" Sayang, apa kau masih marah pada ku? " tanya Brian menatap punggung Jia, kini Jia tidur dengan membelakangi Brian.


" Tidak, aku hanya kesal. Kau mengabaikan ku. " jawab Jia.


" Iya maaf. Belum saat nya kau tau, lain kali aku akan memberitahu di waktu yang tepat. " jawab Brian.


" Aku semakin curiga, kenapa kau sangat melindunginya. " Jia.


" Tidak sayang, jangan pikirkan itu lagi ini sudah malam, sebaiknya kau cepatlah tidur. " Brian membelai puncak kepala Jia yang masih membelakangi nya.


" Kapten... " Jia segera membalikan tubuhnya menghadap Brian. " Aku ingin makan seblak. "

__ADS_1


" Seblak? apa itu? " tanya Brian yang merasa asing dengan nama makanan yang di sebutkan istrinya.


" Yang seperti ini.. " Jia menunjukan sebuah foto di ponsel pintarnya.


" Apa itu enak? "


" Tidak tau, aku belum pernah memakannya. Aku melihat Alesya mem-posting makanan itu. "


" Baiklah, besok aku akan membelikannya untuk mu."


" Tapi aku ingin sekarang. "


" Ini sudah malam sayang, sepertinya itu makanan yang tidak sehat untuk mu, itu terlihat sangat pedas. " jelas Brian.


" Tapi aku mau, " Jia mengerucut kan bibirnya.


" Kau semakin aneh akhir - akhir ini. " batin Brian.


" Iya, aku akan memesan online, mungkin disana tersedia makanan seperti itu. " Brian mengotak ngatik ponselnya.


" Tapi aku ingin pak Sam dan Nino yang membelinya. " rengek Jia.


" Jangan mengganggu mereka, mungkin mereka sedang beristirahat. " Brian memberi pengertian pada Jia agar tidak menganggu orang di luar jam kerja.


" Yasudah, tidak jadi..!! "


Brian menghela nafas dengan dalam. " Iya, aku akan menelfon mereka, kau jangan marah lagi padaku. "


*


*


*


*


*


Hai reader's jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terimakasih sudah setia membaca karyaku ini.


Baca juga karya baru ku yang berjudul Adrian Haidar


Maaf jika masih banyak typo.

__ADS_1


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya....


bye.. bye..


__ADS_2