Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Batasan


__ADS_3

Mendengar nama Dinda dan Brian memuji hasil kerjanya, Jia memberikan tatapan tajam pada Brian. Sedangakan Brian merasa biasa saja dengan tatapan yang di berikan istrinya.


Ceklek... pintu kembali terbuka. Ruang meeting kembali kedatangan seorang wanita yang terlihat rapih dengan pakaian kerjanya.


" bu Dinda.... " ucap Sonia ketika melihat seorang yang baru saja datang.


Dinda mengembangkan senyuman ketika dirinya memasuki ruangan meeting.


" Selamat pagi.. " ucap Dinda seraya mencari kursi yang kosong.Tetapi tidak mendapatkannya karena semua kursi sudah terisi penuh. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Dinda menghampiri seseorang yang belum pernah dilihatnya.


" Permisi, bolehkan saya duduk disini? " ucap Dinda kepada wanita yang tengah duduk. Wanita itu adalah Jiandra, sebelumnya Dinda tidak pernah melihat Jia, jadi Dinda berfikir dirinya yang lebih dibutuhkan di dalam rapat tersebut dibandingkan Jia yang setatusnya karyawan baru ( pikiran Dinda).


Jia mengerutkan keningnya dengan menatap aneh ke arah Dinda.


" Hello.. apa kamu tidak dengar! sepertinya kamu karyawan baru. Jadi bisa kah kamu memberikan tempat duduk mu itu! dan kamu bisa keluar, kerjakanlah pekerjaan mu di luar! " Dinda memberi perintah dengan nada yang tidak mau ada penolakan.


Tanpa suara atau penolakan, Jia berdiri dari duduknya meninggalkan ruangan meeting yang sedang berlangsung, sebelum kakinya melangkah keluar Jia mengalihkan pandangannya ke arah Brian, " Bahkan kau diam saja! tidak membelaku. menyebalkan sekali! " batin Jia.


Jia benar - benar di buat kesal dengan sikap Brian yang secara tidak langsung membela Dinda, bahkan semua orang yang di ruangan meeting tidak bergeming sedikit pun.


Jia berjalan sambil menghentak - hentakan kakinya dengan bibir yang mengerucut menahan kekesalan. " Awas saja kau! berani sekali mengusir ku! " gerutu Jia tiada henti.


" Aaaaawww.... " pekik Jia ketika sebuah tangan menarik lengannya.


" Sayang.. ikut aku! " Seseorang yang menarik lengan Jia tidak lain adalah Brian, Brian meninggalkan meeting tidak lama setelah Jia keluar dari ruangan itu dan meminta Nino untuk menggantikan memimpin rapat.


" Brian! Lepas Brian! kau mau membawaku kemana? " kata Jia. Jia terus menyamakan langkah dan mengikuti arah kemana Brian membawanya.


" Keruangan ku! aku butuh penjelasan. " Brian berjalan menuju keruangan nya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Jia.


Setelah sampai, Brian mendudukan Jia ke sofa diikuti dirinya yang duduk di sampingnya.


" Sayang jelaskan semua ini? " tanya Brian.


Jia menghembuskan nafasnya dengan kasar. " hufftttt.... " dan mengatur posisi duduknya menghadap ke Brian sebelum menjawab.


" Selama ini aku bekerja di kantormu bukan di kantor kak Valent. "


Brian menyipitkan matanya. " maksudmu? kau selama ini bekerja di kantorku? " Brian mengulang perkataan Jia. Jia mengiyakan dengan menganggukan kepala.


" Tapi kenapa kau tidak memberitahu ku! kenapa kau membohongi ku! " Brian dibuat kesal dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


" Kenapa kau memarahiku! "


" Ck, kenapa harus berbohong? kenapa tidak memberitahu ku! "


" Apa kau tidak suka aku bekerja disini! supaya kau bisa leluasa bekerja dengan sekertaris baru mu yang se*y itu! kau tidak mau terganggu dengan adanya aku disini! " Jia menumpahkan kekesalannya yang sudah beberapa hari ini ia pendam, melihat Sonia sekertaris Brian yang selalu ingin menempel pada suaminya.


Sonia memang sangat menginginkan Brian, saat dirinya di pindah menjadi sekertaris Brian, Sonia acap kali memamerkan tubuh moleknya. Dengan memakai pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, tidak lupa memakai rok yang sangat minim, membuat Jia bergidik ngeri.


" Apa maksudmu! "


" Kau tidak perlu mengelaknya! akhir - akhir ini kau sungguh giat bekerja, selalu pulang malam dengan alasan lembur bekerja! kau sangat bersemangat kan bekerja lembur di temani wanita itu! "


" Aku memang lembur untuk bekerja! dan kenapa kau yang marah, seharusnya aku yang marah karena kau membohongi ku! "


" Memang benar kau lembur bekerja tetapi kau mendapatkan plus plus bekerja dengan wanita yang begitu menggoda! benar kan? mengaku saja! "


Brian menghela nafas sebelum memberi penjelasan. " Sayang, dengarkan aku baik - baik " Brian menggenggam kedua tangan Jia.

__ADS_1


" Aku tidak akan tergoda dengan wanita manapun, karena apa? aku hanya akan tergoda oleh mu. Aku hanya mencintaimu. Hati ini hanya milik mu. Raga ini hanya milik mu. Percayalah, tidak ada wanita di dunia ini yang aku inginkan selain diri mu. "


Jia mendengarkan ucapan Brian dan menantap kedua mata suaminya mencari kebohongan disana. Tetapi kedua matanya berkata jujur tidak ada kebohongan di dalam sana.


" Jadi kau tidak perlu mencemaskan hal yang tidak akan terjadi. " Brian meyakinkan Jia.


" Benarkah? "


" hemm " Brian mengangguk dan tersenyum, tangannya mengelus pipi Jia dengan lembut.


" Tapi kenapa kau diam saja, saat aku di usir di ruang meeting! kau sama sekali tidak membelaku! " ucap Jia, hati yang sudah luluh dengan ucapan Brian yang belum lama dia dengar, kembali memanas lagi, setelah Jia mengingat Brian hanya diam melihat Jia di usir dari ruang meeting.


" Sayang, aku membiarkan mu keluar karena aku ingin segera menemuimu. " dengan begitu sabar Brian menjelaskannya.


" Tapi tetap saja membuat ku malu " Jia mengerucutkan bibir nya.


Brian membelai anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya dan diselipkan ke belakang telinganya. " Tidak usah malu, aku akan memperkenalkan mu sebagai istri ku di depan semua Karyawan Diamond group, agar tidak ada lagi yang mempermalukan mu. "


" Tidak perlu, aku belum siap, aku masih ingin bekerja di sini sebagai karyawan biasa."


" Baiklah.. " Brian mencubit puncuk hidung Jia. " Apa yang tadi itu kau cemburu pada ku? "


" Tidak!! " Jia dengan cepat melepaskan genggaman tangan Brian. " Aku tidak cemburu! aku masih membencimu! " ucap Jia dengan menyembunyikan pipinya yang merah merona karena malu.


" Benarkah? " Brian mendekatkan tubuhnya untuk melihat wajah Jia yang merah itu, Brian tersenyum ketika Jia semakin menghindar dari tatapannya. Brian semakin mendekat dan mendekat sehingga Jia berubah posisi menjadi tertidur dengan bersandar di lengan sofa yang cukup empuk, dengan cepat Brian menarik tengkuk Jia dan segera mengecup bibir Jia dengan lembut, kecupan berubah menjadi lum*t*n, cukup lama mereka berciuman. Brian menarik Jia kedalam pangkuannya, dengan rakus Brian Mel*mat kembali bibir Jia. Tidak ada penolakan, Brian semakin liar memberikan kecupan bukan hanya di wajah istrinya.


Tok.. tok.. tok..


Pintu ruangan diketuk, tetapi Brian tidak memperdulikannya,Brian tidak mau kegiatannya terhenti, Kesempatan tidak datang untuk kedua kali, mengingat Jia yang masih mementingkan egonya, suasana hatinya sulit sekali ditebak oleh Brian, dan itu yang membuat Brian frustasi jika ingin meminta lebih dari sekedar ciuman.


" Brian.. " ucap Jia, tangan nya mencoba menghentikan kegiatan Brian.


***


Anda belum beruntung...


Anda belum beruntung...


***


Brian mendongakan kepalanya, menatap Jia. " Jika di rumah, apa kau akan memberikannya? " tanya Brian.


" Tergantung apa yang kau minta. Aku tidak akan memberikanmu lebih dari ini. " ucap Jia.


" Maksudmu aku hanya boleh meminta hanya sebatas ini. tidak lebih? " Ucap Brian sambil memegang batasan yang di berikan Jia.


" iya. "


" Kau membuatku gila Jia. aku tidak bisa menahannya! " ucap Brian penuh frustasi karena hanya sebatas dada yang boleh dijamahnya.


" Terserah kau, mau atau tidak! "


" Lalu kapan aku bisa melewati batasannya? "


" Jika aku telah menerima mu kembali dengan sepenuh hatiku! "


" Kau sungguh tega Jia! membuatku pusing setiap hari! "


" Kalau kau merasa pusing, minum obat lah agar cepat sembuh "

__ADS_1


" Ck, Obatnya hanya dirimu! "


tok.. tok.. tok..


Pintu kembali diketuk.


Jia segera merapikan pakaiannya, tidak lupa menyisir rambut dengan tangannya sebelum bangkit dari pangkuan Brian.


Cup..


Brian mengecup bibir Jia, sebelum mempersilahkan masuk kepada seseorang yang ada di depan pintu.


" Masuk! "


" Permisi pak, ini laporan hasil meeting tadi pagi " ucap Nino sambil menyerah kan beberapa file. Brian hanya menerimanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


" Saya permisi " Nino meninggalkan ruangan Brian.


" Nino, apa Pak Sam sudah kembali? " tanya Brian sebelum Nino meninggalkan ruangan Brian.


" Pak Sam belum kembali pak, "


" Oke, Jika kembali suruh keruangan ku! "


tok.. tok.. tokk Suara pintu kembali di ketuk.


" Permisi.. " ucap Dinda yang baru saja masuk keruangan Brian. Pandangannya terhenti melihat Jia yang duduk di sofa. " sedang apa dia disini? " batin Dinda.


" Mas.. Mas Brian aku bawakan oleh - oleh untuk mu dan Sean " Dinda menghampiri Brian dan memberikan papper bag berisi oleh - oleh dari Amerika.


" mas? dia memanggil mas! " batin Jia, Jia menatap kesal ke arah Brian.


" emm.. " Brian hanya menjawab dengan deheman.


" Mas apa kabar? " Tanya Dinda, tetapi Brian masih tak menghiraukannya.


Dinda tidak akan semudah itu untuk menyerah mendapatkan Brian, meskipun Dinda tau bahwa Brian telah menikah lagi. Yang di yakini Dinda, Brian tidak mencintai istrinya seperti padanya dulu, apalagi setelah tau pernikahan Brian adalah sebuah perjodohan.


" Mas.. dia siapa? bukankah dia gadis yang di ruang meeting tadi? " tanya Dinda seraya menunjuk ke arah Jia yang sedang duduk.


*


*


*


*


*


*


*


**Hai readers terimakasih telah setia membaca Novel ku.


Jangan lupa like, komen, vote dan pencet tombol love nya.


Maaf bila masih banyak typo.

__ADS_1


bye.. bye**..


__ADS_2