Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
Aku tidak peduli


__ADS_3

**Guys jangan lupa kasih Votenya donk... biar Author semangat nulisnya.


Happy Reading**...


~


Hari ini Jia berangkat ke butik bersama Brian dan pak Sam. Jia akhir - akhir ini sibuk dengan Butik nya, Brian merasa kesal beberapa hari ini di acuhkan oleh Jia.


" Sayang, kau terlihat sibuk sekali. " ucap Brian yang duduk di samping Jia, sedangkan pak Sam sibuk dengan mengemudi.


" hem, lumayan. " jawab Jia santai sambil memainkan ponselnya.


" Kau mengacuhkan ku Jia, " ucap Brian dengan wajah datarnya.


Jia segera mematikan ponselnya lalu menoleh ke arah Brian yang sudah memasang wajah masamnya. " Aku tidak mengacuhkan mu Brian. " Jia membelai wajah suaminya.


" Bisakah kau tidak bekerja? bukannya uang ku sudah banyak. Kau bisa menghabiskan sesukamu. Kau hanya cukup di sampingku, menemaniku setiap hari. " ucap Brian.


" Aku tau kau mempunyai banyak uang, tapi aku suka dengan pekerjaan ku ini. " jelas Jia.


" Tapi aku tidak suka, kau tidak ada waktu untuk ku. " Brian.


" Kau ini seperti anak kecil saja, manja sekali. " Jia mencubit kecil pipi Brian. " Maafkan aku.. aku janji hari ini aku akan pulang cepat dan menemanimu sepanjang malam. " ucap Jia dengan manja.


" Kau menggoda ku? " Brian.


" Apa kau tergoda? " Jia


" Aku sangat tergoda, jadi jangan salahkan aku. " Brian menarik tangan Jia hingga jatuh dalam pelukannya.


Brian menarik tengkuk Jia, mendekatkan bibirnya ke bibir Jia.


" Brian, hentikan. Ada pak Sam, apa kau tidak malu. " Jia menghentikan Brian yang hendak menciumnya.


" Pak Sam, apa kau melihatnya? " tanya Brian.


" Tidak Tuan. " jawab pak Sam.


Brian pun ingin melanjutkan niatnya, Brian membawa Jia kedalam pangkuannya.


" Brian apa yang kau lakukan. " Jia.


" Aku merindukanmu." Brian.


" Brian, kau tidak malu! Pak Sam bisa mendengarnya walau tidak melihatnya. " Jia memukul dada Brian ingin melepaskan diri dari pangkuannya.


" Pak Sam. Tulikan telingamu! " Brian.


" Baik tuan. " jawab pak Sam yang segera memakai earphone nya. " Astaga Tuan dan Nona ini, tidak bisakah melakukannya di rumah! membuat aku ingin cepat pulang saja menemui istri ku. " batin pak Sam sambil menggelengkan kepalanya.


" Brian. Kau ini, tidak bisakah menahannya sampai nanti malam. " Jia.


Brian tidak menghiraukan ucapan Jia, Brian langsung menyambar bibir Jia, melummat dan menyessap bibir yang sudah menjadi candu bagi Brian. Jia membalas ciuman dari Brian, mereka melepaskan ciumannya setelah kehabisan nafasnya.


" Brian cukup, kita lanjutkan nanti saja. " Jia menghentikan kegiatan Brian, dan beranjak dari pangkuan Brian.


" Aku tidak bisa menahannya lagi Jia. " Brian. Brian yang sudah beberapa hari ini tidak menyalurkan hasrat nya, karena Jia selalu pulang malam dan terlihat lelah, jadi Brian tidak tega untuk memintanya.

__ADS_1


" Pak Sam, kita berhenti di hotel terdekat. " ucap pak Sam sambil menepuk pundak pak Sam yang masih menggunakan earphone nya.


" Baik tuan. " jawab pak Sam.


" Brian! apa kau sudah gila. Kita akan terlambat, bukannya siang ini kau ada meeting? " Jia benar - benar tidak menyangka Brian senekat ini.


" Aku tidak peduli. " Brian. Jia hanya mengembungkan kedua pipinya, mengiyakan keinginan suaminya.


Pak Sam pun segera memarkirkan mobilnya di sebuah hotel.


" Pak Sam, tidak usah menungguku. Kau pergilah ke kantor. " ucap Brian sebelum masuk ke lobby hotel.


" Baik tuan. " jawab pak Sam.


Pak Sam hanya bisa menggeleng kan kepala melihat tingkah tuannya. " Ck, Tuan sudah kehilangan akalnya jika bersama Nona Jia, sama sekali bukan seperti tuan yang aku kenal selama ini. " ucap pak Sam setelah kepergian Brian dan Jia.


~


Dikantor semua karyawan telah menunggu kedatangan Brian untuk meeting sesuai jadwal yang telah di tentukan.


Pak Sam yang baru saja tiba di ruang meeting terlihat sangat masam, karena dia harus meng-handle pekerjaan Brian.


" pak Sam, dimana pak Briano? " tanya Nino.


" Hotel. " Jawa pak Sam singkat.


" Hotel? apa ada meeting disana? sepertinya tidak ada jadwal meeting di luar hari ini. " Nino.


" Meeting mendadak. " Pak Sam.


" Meeting bersama siapa? " tanya Dinda yang ada di ruangan itu.


Dinda yang mendengar nya di buat kesal. " Sepertinya aku harus mencari cara untuk menjauhkan wanita sialan itu agar menjauhi Brian. " batin Dinda.


" Sebaiknya kita mulai meeting nya. " Pak Sam.


Mereka semua memulai meeting tanpa kehadiran Brian.


~


" Brian.. sudah cukup. Aku sungguh lelah. " ucap Jia dengan nafas yang tersengal - sengal.


" Sebentar lagi sayang.. " Brian masih berkutat di bawah sana.


" Brian apa kau sama sekali tidak merasa lelah? "


" Tidak, aku bahkan masih bisa melanjutkan nya sampai malam jika kau mau. " ucap Brian.


" Tidak mau! kau ini selalu membuat pinggang ku sakit. " Jia mengerucut kan bibirnya.


Brian terkekeh mendengar nya. " Kau bahkan sama sekali tidak bekerja. " Brian.


Jia merasa kesal dengan ucapan Brian. " Aawww.. " Jia mencubit perut Brian.


" Enak saja kau berbicara seperti itu. Kalau tidak ada aku, kau juga tidak bisa melakukannya. " ucap Jia kesal.


" Iya.. iya.. I love you, Jia. " Brian segera menuntaskan kegiatannya.

__ADS_1


~


Di kediaman Mahess.


Mirra dan Jody baru saja pulang dari luar kota, setelah mendengarkan kabar gembira dari Tiara dan Valent. Mereka sangat bahagia akan mendapat cucu pertama nya dari Valent.


" Sayang, bagaimana kabar mu nak? " ucap Mirra pada Tiara.


" Tiara baik mah, mama apa kabar? betah sekali mama dan papa di luar kota, rumah terasa sepi tidak ada mama. " Tiara.


" Papa mu tidak mau pulang, dia sangat betah disana. " jawab Mirra. Mereka ke luar kota cukup lama, tidak sesuai dengan perkiraan yang tadinya hanya seminggu. Tapi hingga Dua minggu mereka baru pulang, itupun karena mendapat kabar menantunya tengah hamil.


Jika tidak, Jody akan menahan Mirra hingga waktu yang tidak bisa di tentukan. Mereka memang sudah tidak lagi muda, tetapi tidak mengurangi keromantisan mereka berdua.


Seperti kata pepatah buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Melihat Valent, bisa dilihat itu cerminan ketika Jody waktu muda dulu. Tidak berbeda jauh, Jia pun cerminan dari Mirra ketika masih muda.


" Tiara, bagaimana kandungan mu? apa cucu mama baik - baik saja di dalam sana? " tanya Mirra sambil mengelus perut Tiara yang masih rata.


" Baik mah, Tiara bahagia sekali akhirnya bisa mengandung anak Valent dan memberikan cucu pada mama juga papa. "


" Iya nak, mama juga ikut bahagia mendengarnya. " ucap Mirra.


" Apa mama tau, jika mama akan memiliki dua cucu sekaligus? " ucap Tiara.


" Maksudnya? " tanya Mirra.


" Tiara akan mempunyai anak kembar mah, " ucap Tiara dengan senyum di bibirnya.


" Benarkah? mama senang sekali mendengarnya. " Mirra memeluk Tiara mencurahkan rasa bahagia nya.


Sungguh kabar yang sangat menggembirakan bagi Mirra, penantian yang selama ini ditunggu akhirnya datang juga, bahkan mendapatkan dua cucu sekaligus.


" Andai saja putri kecilku juga memberikan cucu, kebahagian ku pasti akan semakin lengkap. Ah, sepertinya aku harus menyuruh menantuku membawa jia untuk berbulan madu, agar kebahagiaan ku semakin lengkap. " batin Mirra.


*


*


*


*


*


*


*


Hai reader's jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terimakasih sudah setia membaca karyaku ini.


Baca juga karya baru ku yang berjudul Adrian Haidar


Maaf jika masih banyak typo.


Sampai jumpa lagi di episode berikutnya....

__ADS_1


bye.. bye..


__ADS_2