Cinta Pertama CEO

Cinta Pertama CEO
End....


__ADS_3



" Sayang, kau belum siap juga.. " Brian menghampiri Jia yang masih berdiri di depan cermin, mengamati pantulan dirinya.


Brian sudah rapi dengan stellan jasny di lengkapi dengan dasi kupu kupu di lehernya.


" Menyebalkan sekali, aku belum menemukan gaun yang cocok untuk ku. " ucap Jia yang sibuk memilih gaun untuk di kenakkannya.


" Mana gaun yang sudah kau persiapkan? " tanya Brian, pandangannya teralihkan ke arah ranjang yang penuh dengan gaun bertumpuk kan disana, yang ia yakini telah di coba oleh istrinya namun belum ada yang pas menurutnya.


" Sudah aku coba tapi aku tidak menyukainya. " gerutu Jia.


" Bukannya kamu sendiri yang merancang nya? " tanya Brian.


" Iya, tapi itu satu bulan yang lalu, sekarang sudah tidak muat lagi.. " Jia memggerutu kesal.


" Apa tidak ada gaun satu pun yang muat untuk mu? " tanya Brian.


" Tapi aku tidak menyukainya, aku terlihat sangat gendut.. padahal ini hari spesial buat Alesya. " Jia mendengus kesal.


" Sayang dengan kan aku baik - baik. " Brian mengapit kedua pipi Jia dengan telapak tangannya. " Kau sangat cantik memakai gaun mana pun, kau terlihat sangat sexy meski dengan perut buncit mu itu, percayalah.. kau adalah wanita paling cantik di mata ku. " Brian memberikan kecupan pada kening Jia.


Jia tersenyum bahagia setelah mendengar ucapan Brian, sedikit menenangkan hatinya. " Tapi kau harus janji pada ku! kau jangan melirik wanita lain disana. " ancam Jia.


" Iya.. cepatlah atau nanti kita akan terlambat. "


Brian dan Jia akan menghadiri acara pernikahan Alesya dan Leo. Iya, semenjak pertemuan itu, Leo dan Alesya menjalin hubungan dengan Leo.


Tidak perlu menunggu lama, hanya butuh enam bulan meraka memutuskan untuk melaju ke pernikahan. Alesya memang sulit untuk melupakan Niko, cintanya untuk mantan kekasih begitu besar.


Tapi hidup harus terus berjalan, membiarkan kenangan menjadi masalalu dan membuat masa depan dengan membuka lembaran baru. Leo lah yang berhasil membuka hati Alesya yang sempat terluka oleh Niko.


Kisah cinta Alesya memanglah sangat rumit dan memilukan. Niko yang ingkar dengan janjinya membuat Alesya bertahun tahun menutup dirinya. Tapi Leo dapat menerima kekurangan Alesya, kekurangan yang di sebabkan oleh Niko.


Brian dan Jia telah sampai di hotel tempat perayaan pernikahan Alesya.


Kedatangan mereka menjadi sorotan para tamu undangan lainnya.


Jia mengeratkan tangannya ke lengan Brian saat beberapa wanita tengah memperhatikan Brian. " Kapten, awas saja kau melirik gadis gadis itu. "


Brian terkekeh. " Aku tidak melirik nya, melihat pun tidak. Mereka lah yang memperhatikan ku, karena suami mu ini sangat tampa. "


" Ck, Yasudah kita pulang saja. " gerutu Jia. Semenjak kehamilannya dan bobot tubuh Jia naik dengan drastis, Jia merasa tidak percaya diri, sangat ketakutan jika Brian tergoda wanita lain yang lebih sexy darinya.


" Kau yakin? tidak mau bertemu dengan Alesya? " ucap Brian.


" Iya, iya... " jawab Jia dengan pasrah.


Di sepanjang perjalanan ke pelaminan untuk menemui Alesya, Jia tak hentinya menggerutu kesal pada wanita yang terus menatap suaminya. Brian yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan terkekeh.

__ADS_1


" Kenapa kau begitu tampan! seharusnya kau memakai topeng saat kesini. " ucap Jia sangat kesal.


" Sayang, jika aku memakai topeng mereka akan menertawakan ku. Aku akan jadi bahan lelucon disini. Apa kau mau suamimu ini jadi bahan tertawa oleh mereka. " jelas Brian.


" Tapi kau menjadi pusat perhatian disini? aku sangat tidak suka itu! "


" Sudah, sudah... setelah kita bertemu dengan Alesya dan Leo kita segera pulang. " ucap Brian untuk menenangkan Jia yang sangat cemburuan saat sedang hamil.


Brian sangat senang jika Jia bertingkah posesif padanya karena menandakan Jia sangat mencintai dirinya. Jika dulu Brian lah yang selalu posesif pada Jia karena takut kehilangan, dan harus bersaing dengan banyak pria meski Jia sudah menjadi istri nya.


Banyak rekan dan pesaing bisnisnya mencoba mendekati Jia untuk mendapat perhatian dari istri nya, itu yang membuat Brian sangat posesif.


***


Hari berganti bulan hingga kini usia kandungan Jia tinggal menghitung hari untuk melahirkan buah cinta mereka.


Sedangkan Valentino dan Tiara dua bulan lalu telah di karuniani buah cinta mereka. Putra putri mereka bernama Kendra dan Kenny.


Saat ini Jia sedang berkunjung melihat keponakan nya.


" Cantik dan tampan.. " ucap Jia yang sedang mengamati babby kembar kakanya.


" Siapa dulu papahnya... " saut Valent.


" Ck, aku aunty nya.. mereka mirip seperti ku, apalagi Kenny dia sangat cantik seperti ku. " ucap Jia penuh percaya diri.


" Percaya diri sekali! Kendra tampan sudah jelas seperti papanya. " Valent.


" Tapi aku berharap kelakuannya tidak seperti mu! " Jia.


Mereka terlihat sangat asyik bercengkrama, tertawa bahagia, menikmati suasana hangat yang belum pernah terjadi di antara mereka.


***


" Sayang, sedang apa babby kita. " seusai mandi Brian menghampiri Jia yang sedang duduk bersender di dipan ranjang. Brian mengelus elus perut Jia yang sudah membesar, menantikan pergerakan dari buah hati di dalam sana.


" Disini.. " Jia menggeser tangan Brian ke tempat pergerakan yang di buat oleh babby nya.


Brian sangat antusias mengikuti pergerakan bayinya, hal ini sering di lakukan oleh Brian. Tidak lupa Brian selalu mengajak bicara, bercerita pada buah hatinya meski masih di dalam perut.


" Kapten.. apa kau bahagia? " tanya Jia sembari memperhatikan wajah suaminya yang terlihat fokus di sekitar perutnya.


" Tentu sayang, aku sangat bahagia mempunyai buah hati bersama mu, wanita yang paling aku cintai. " Brian mengecup kening Jia.


Jia terseyum mendengar nya. " Kapten, kau ingin mempunyai anak berapa? " tanya Jia.


" Aku ingin punya banyak, agar rumah kita semakin ramai. " jawab Brian.


" Cih, kau tidak kasihan padaku yang terus menerus melahirkan? " cibir Jia. " Kau hanya merasakan enaknya saja saat membuatnya. "


Brian terkekeh. " Iya, iya.. terserah kau saja ingin melahirkan berapa kali, yang pasti aku akan giat membuatnya. "

__ADS_1


" Kau ini! " sergah Jia.


" Aaauuuuwwww... sakit. " Jia tiba - tiba merasakan sakit di perutnya.


" Kenapa sayang, mana yang sakit? " Brian mersa gugup mendengar Jia kesakitan.


" Perut ku sakit... Aaauuwww.. Brian... sakit!!! " rintih Jia sambil memegang perutnya.


" Apa kau mau melahirkan? " tanya Brian. " Bukannya kata dokter seminggu lagi? "


" Mana ku tau!! sakit!! Briannn..... " jerit Jia yang merasa sakit di bawah perutnya.


" Ayo kita ke rumah sakit. " Dengan gerakan cepat namun hati - hati Brian menggendong istrinya, membawanya ke rumah sakit tempat dimana Jia selalu memeriksakan kehamilannya.


Sesampainya di rumah sakit Jia segera di tangani oleh Dokter Sita, dokter kandungannya.


Brian menemani Jia masuk ke dalam ruang bersalin. Melihat dengan Jia yang merintih kesakitan.


" Sayang, tenanglah... bersabarlah.. semua akan baik baik saja, ada aku di sini. " Brian menenangkan Jia dengan mengelus elus puncak Jia.


" Brian... sakit... sakit sekali. " air mata tidak terasa menetes di kedua mata Jia, merasakan sakit yang sangat luar biasa.


" Brian!!!!! " ucap Jia dengan nafas yang terengah - engah.


" Tenang sayang, " Brian masih mengelus lembut kepala istrinya.


" Tenang! tenang! kau tidak merasakan sakit seperti ku! "


" Iya sayang, tenanglah. "


" Lain kali kau saja yang melahirkan! biar kau bisa merasakan yang aku rasakan! "


Dokter Sita dan para suster yang mendengarnya hanya bisa menahan tawa dan menggelengkan kepalanya.


Di luar ruangan bersalin, Renatta dan kedua orang tua Jia sudah menunggu dengan cemas. Menantikan kelahiran cucu nya.


Dengan arahan Dokter sita, Jia melahirkan Putra pertamanya dengan selamat. Putra yang di beri nama Arnaf Al Nugroho.


Kelahiran Arnaf menambah dan melengkapi kebahagian di keluarga kecil mereka.


Brian dan Jia hidup dengan bahagia. Saling percaya adalah kunci keharmonisan rumah tangga.


Pernikahan mereka di karuniani tiga anak.


Arnaf Al Nugroho


Gavin Al Nugroho


Milly Arqinila Nugroho


__ADS_1



~ END ~


__ADS_2