
Mendengar kepulangan Mirra dan Jody, malam ini Jia ingin pulang ke rumahnya,bertemu mereka untuk melepas rindu.
Diruang keluarga terlihat Jody, Mirra dan Valent tengah asik berbincang, sesekali Valent dan Jody membicarakan masalah pekerjaan. Sedangkan Mirra memilih sibuk membolak - balikan sebuah majalah.
Setelah tiba di halaman rumah, Jia segera turun dan berlari kecil menuju pintu utama tanpa menunggu Brian yang masih di belakangnya.
" Papa... mama.... " teriak Jia setelah membuka pintu. Brian hanya mengelengkan kepalanya melihat Jia yang seperti anak kecil mencari ibunya.
" Mah, pah.. " Jia masih melangkah mencari keberadaan orang tuanya.
" Jia.. papa disini sayang.. " seru Jody yang mendengar panggilan dari Jia.
Jia segera menghamburkan diri memeluk Jody dan Mirra.
" Jia kangen sama papa, kenapa papa lama sekali baru pulang. " Jia mencibikan bibirnya seraya bergelayut di lengan Jody.
" Apa kau merindukan papa? " Jody mencubit puncak hidung Jia.
" Tentu saja aku merindukan papa dan mama. " jawab Jia.
" Papa kira kau sudah melupakan kami, karena ada suamimu yang sudah memanjakan mu. " Jody.
Belum sempat Jia menjawab, kedatangan Brian mengalihkan semua pandangan tertuju padanya. Brian pun menyalami dan menanyakan kabar pada kedua mertuanya lalu ikut duduk bersama mereka.
" Apa kalian mau menginap malam ini? " tanya Mirra.
" Iya mah, Jia ingin menginap disini. " jelas Brian.
" Mama senang sekali, mama bisa menghabiskan waktu dengan anak manja ini. " Mirra membelai kepala Jia yang duduk di sampingnya.
" Brian, apa anak papa ini menyusahkanmu? " tanya Jody pada Brian.
Belum sempat Brian menjawab, Valent mengeluarkan suaranya. " Tentu saja dia akan menyusahkan semua orang yang ada di sekitar nya. " Valent.
" Papa... " Jia meminta pembelaan dari Jody sambil mengerucut kan bibirnya.
__ADS_1
" Valent, kau ini senang sekali jahil pada adikmu. " sergah Jody.
" Cih, anak manja! " Valent beranjak dari duduk menuju kamarnya.
" Mau kemana kamu? " tanya Mirra.
" Ke kamar, menemui istri ku. " jawab Valent yang sudah semakin jauh dari pandangan Mirra. Mirra hanya bisa menggeleng kan kepalanya.
" Apa dia sungguh menyusahkanmu? " Jody kembali bertanya pada Brian, memastikan putrinya itu tidak menyusahkan menantunya.
" Papa ini bagaiman, kenapa bertanya seperti itu. Aku sama sekali tidak menyusahkan Brian. " ucap Jia dengan tangan masih bergelayut di lengan Jody.
" Papa hanya memastikan saja, kau ini bukan lagi anak kecil, kau harus berubah tidak menyusahkan suami dengan tingkahmu. " Jody menjelaskan sambil membelai kepala Jia.
" Tidak pah, Jia sama sekali tidak menyusahkanku. " Brian.
" Papa dengar sendiri kan? aku tidak pernah membuatnya susah. Papa harus tau, kalo Brian lah yang membuatku tersiksa! " Jawa Jia dengan santai.
Mendengar pengakuan Jia, raut wajah Jody berubah seketika, terlihat jelas sedang menahan amarah nya. Mirra pun yang sedari tadi sibuk dengan majalahnya menjadi fokus ke arah menantunya.
Brian menyadari bahwa mertuanya sedang menahan amarah menjadi gugup. " Apa yang Jia katakan, apa maksudnya aku menyakitinya? "
" Aku tidak pernah menyakiti Jia pah. " jelas Brian.
" Ck, kau tidak mau mengakuinya. " Jia menyauti dengan santai.
Tanpa Jia sadari, perkataannya membuat Jody semakin marah. Putri yang sangat di sayanginya telah di sakiti oleh Brian.
" Sayang, katakan yang jelas pada kami. Apa benar jika Brian menyiksamu? " tanya Mirra dengan lembut pada Jia. Melihat Jody dengan raut wajahnya yang mengeras membuat Mirra harus segera menengahi agar tidak terjadi hal yang buruk.
" Iya, dia menyiksaku. Setiap malam dia mengganggu tidurku, membuatku tidak tidur sepanjang malam. " Jia mengerucut kan bibirnya mengadu pada Jody dan Mirra layaknya anak kecil yang di ambil mainannya.
Mirra seketika menahan tawanya mendengar pengakuan Jia. Amarah Jody teredam setelah mendengarnya bahkan mengeluarkan tawanya yang menggelegar. Jangan di tanya wajah Brian saat ini, Brian sangat malu mendengar pengakuan istrinya yang terlalu polos.
" Papa. Kenapa tertawa, seharusnya papa memarahi Brian agar tidak mengganggu tidurku lagi. " Jia.
__ADS_1
" Sayang, sebaiknya kalian istirahat, ini sudah malam. " Mirra berusaha menghinadar dari pembicaraan yang begitu tabu. Mirra sendiri merasa malu jika membahas hal seperti ini di depan anak dan menantunya.
" Tidak mau, aku ingin tidur dengan papa dan mama. Brian akan selalu mengganggu ku. " kali ini Jia menjawab sambil menatap ke arah Brian.
Brian hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.
" Kau akan menggangu Papa, papa hari ini sedikit lelah. Ingin istirahat dengan tenang. Karena besok pagi, papa ada perjalanan bisnis. Dan papa tidak mau di ganggu. " Jody memberi pengertian pada putrinya, tidak ingin membuat kecewa pada menantunya.
" Iya sayang, kau harus menemani suamimu. Kau ini sudah menikah, jadi harus patuh pada suamimu. " Mirra ikut memberi penjelasan pada putrinya.
" Tapi Brian selal------" belum selesai mengatakannya, Jody terlebih dahulu memotong ucapan nya.
" Jia.. papa tidak mau menerima alasan. " ucap Jody.
" Baik pah.. " Jia akhirnya menurut. Siapa yang tidak akan menurut ketika Jody sudah berbicara dengan nada penuh penekanan.
Jia pun mengajak Brian menuju kamarnya untuk beristirahat. Sedangkan Mirra dan Joy menggelengkan kepalanya, tidak akan menyangka jika putrinya akan sepolos itu.
" Sayang, kau membuatku malu di depan orang tuamu. " ucap Brian setelah di dalam kamar.
" Kenapa harus malu? apa yang aku lakukan. " jawab Jia tanpa merasa bersalah.
" Kenapa kau berbicara seperti itu. Itu seharusnya menjadi rahasia kita, kenapa mengatakannya. " Brian.
" Kenapa harus ditutupi.. " Jia.
" Ah sudahlah, menjelaskannya juga percuma dia tidak akan mengerti. " batin Brian.
Tanpa banyak bicara Brian segera meninndih Jia yang sudah berbaring di atas kasur. Memulai kegiatan seperti siang tadi. Brian seolah tidak mempunyai lelah untuk melakukan hal itu. Jia hanya bisa pasrah membiarkan Brian.
~
Di tempat lain seorang pria bertubuh tegap dengan paras wajah yang lumayan tampan baru saja turun dari jet pribadinya.
Setelah sekian lama hidup di Jepang, kini telah kembali ke Indonesia. Untuk membawa seseorang yang sangat berarti dari hidupnya.
__ADS_1
( menurut kalian siapa pria itu????? nantikan kelanjutan nya...)