Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Ternyata dia pangeran yang selalu ku rindukan


__ADS_3

Sepulang sekolah Bara menunggu ku di gerbang sekolah. Aku yang kaget melihat nya sudah berdiri di depanku.


"Hay...!" ucap nya menyapaku.


"Hay," sahutku gugup.


"Yuk aku antar pulang!" ujarnya menawarkan tumpangan padaku.


"Oh, gak perlu repot-repot aku biasa pulangnya sama Reyhan," ucap ku sungkan.


"Oh gitu ya, sayang banget padahal aku mau ajak kamu mampir di warung bakso tadi," ujar nya sambil menyertat motonya.


"Yah sayang banget terlanjur sudah menolaknya kok dia tau sih aku suka bakso bikin nyesek aja udah menolak nya," keluh ku dalam hati.


"Sayang banget... ni mulut kenapa sih menolak tadi!" aku memarahi diri ku sendiri.


Bara sudah pergi aku pun menyesal telah menolak ajakannya. Aku mewek dalam hati. padahal ini adalah kesempatan emas buat ku menyelidiki siapa Bara. Aku berharap Bara menoleh ke arahku dan mengerti bahasa hatiku yang mengharapkan dia menawarkan tumpangan lagi padaku," lirih ku penuh harap.


Tiba-tiba, dalam hitungan detik aku melihat bara kembali menoleh kearah ku. ia kembali menawarkan ku untuk segera pulang dengan nya.


"Oya, barusan aku melihat kalau Reyhan sudah pulang itu!" tunjuk nya ke arah motor Reyhan yang pas kebetulan memang itu Reyhan. Aku sengaja tidak memanggil nya karna sibuk dengan pikiranku sendiri.


"Oh iya sayang banget Reyhan sudah jauh," gerutu ku.


"Yah sudah tunggu apalagi ayo naik dengan ku!" ajak nya. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung naik di boncengan nya. "Duh senang nya, akhirnya aku di bonceng Bara," ucap ku senyum-senyum sendiri.


Motor nya melesat dengan cepat. Dia ngebut aku di buatnya jantungan.


"Jangan kencang-kencang Bar, aku takut!" teriakku.


"Gak usah takut pegangan aja yang kuat!" sahutnya.

__ADS_1


Bara masih melaju malah menambah kecepatan nya aku pun memekik ketakutan. Tanpa ku sadari aku pun segera mendekap Bara. Bara terseyum aku dapat melihat nya di kaca spion motornya. Ia menawari ku untuk makan bakso aku pun tidak menolaknya.


Ternyata Bara orang nya asyik. Sepanjang perjalanan dia bercerita tentang masa kecil nya di Desa. Saking keasyikan mengobrol dengan nya aku tidak sadar sudah kelewatan gang rumah ku.


Ya ampun ini kan sudah jauh dari rumah ku, batin ku.


"Bara stop! kita kelewatan rumah ku di sana tadi sudah terlewati," seru ku.


"Hah yang benar saja!" ucap nya sambil tertawa.


Bara pun memutar balik motor nya dan kami pokus ke jalan takut kelewatan lagi. Aku memberitahu Bara nama gang rumah ku setelah beberapa menit kemudian kami pun sampai di depan gang.


Aku menunjukan gang nya dan Bara pun memasuki gang tersebut sampai berhenti depan rumah ku.


Rasanya pengen lebih lama jalan dengan Bara abis asyik sih orang nya, batin ku senyum-senyum sendiri.


"Makasih banyak ya Bar, udah anterin sampai rumah," ucapku.


"Iya, sama-sama," sabutnya. Ia pun pamit pulang, tapi buru-buru aku mencegah nya. Sebenarnya malu tapi yah sudah lah udah telanjur di ucapkan juga. Aku menawarkan dia untuk mampir dan gak yangka banget ia mau mampir.


"Wah tau banget kamu kalau aku haus," ucap nya semangat melihat minuman yang ku suguhkan untuk nya. Ia pun langsung meneguk nya sampai habis.


"Masih mau lagi?" tanya ku.


"Udah cukup kok!" jawab nya.


"Rumah mu enak ya... adem lagi," ucap nya sambil melihat sekeliling rumah ku.


"Apa aku boleh jalan-jalan di sekitar rumah mu?" tanyanya.


"Kenapa tidak. Ayo!" ajak ku.

__ADS_1


Aku pun mengantar Bara untuk melihat-lihat disekitar pekarangan rumah ku. Ia takjub melihat pekarangan rumah ku yang asri ada kebun bunga Mama dan kebun sayuran Papa. Ada pepohonan yang membuat rumah ku adem.


"Siapa yang menanam semua tanaman di sini?Semuanya serba indah dan subur," ucap nya kagum.


"Mama dan Papa!" jawabku singkat.


"Wah orang tuamu hebat ya, bisa bercocok tanam. Bunga-bunga itu juga tampak indah-indah. Suasana begini mengingat aku di sebuah desa," ucap Bara sambil menoleh ke arahku.


Aku terdiam sejenak, Sambil jalan-jalan di sekitar kebun Papa, Bara bercerita tentang seorang yang pernah menjadi teman sepermainan nya waktu kecil di sebuah desa yang ia tinggali dulu. Seketika aku terdiam dan ekspresi ku berubah saat Bara bercerita tentang teman kecilnya itu.


Bara menatapku bingung melihat perubahan ekspresi ku. "Kok mendadak diam?" ucap nya bingung.


Aku meremas tangan ku. "Kamu tau gak kegemaran teman mu itu apa?" tanya ku hampir tidak kuasa mengatakan nya.


"Jelas tau dong, dia paling suka baca buku cerita dan komik kalau soal makan dia paling nomor satu," ucap nya sambil tertawa.


Sejenak jantung ku berhenti berdetak mendengar ucapan Bara. "Apa yang dimaksud aku?" Aku menyimak kelanjutan ceritanya. Aku semakin yakin kalau Bara sedang menceritakan tentang diriku.


Sepintas ingatan ku kembali aku diam sambil mengerjap. "Andai kau tau Bara... aku adalah seorang yang kau ceritakan itu. Aku yang suka kamu goda hingga aku menangis, aku pula yang sering kamu gendong saat aku terjatuh dan kamu selalu mengobati lukaku saat terjatuh.


Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak menyangka kalau cowok yang berada di depan ku saat ini adalah Bara Pangeranku di masa lalu.


Bara semakin bingung melihat perubahan pada diriku. Aku pun balik menatap nya lekat-lekat.


"Bar... apa kamu ingat Taman cinta?" tanya ku tiba-tiba.


"Taman cinta? bagaimana kamu tau soal taman cinta?" Bara keheranan.


"Karena...," suara terdengar bergetar.


"Karena aku Intan," ucap ku.

__ADS_1


Sontak Bara terbelalak, "kamu Intan Permatasari?"


Aku mengangguk. Entah kenapa aku tidak bisa menahan rasa haru seketika itu pun aku menitiskan air mata di depan Bara. Bara menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi," ucap nya. Aku tidak bisa berkata-kata lagi hanya bisa diam memandangi setiap inci wajah nya wajah orang yang selalu ku rindukan selama ini.


__ADS_2