
"Intan... cepat masuk! Papa mau bicara!" pinta Papa
Aku buru-buru masuk dan duduk di sebelah Papa.
"Ada apa Pa?" tanya ku panik.
Hatiku dek-dekan pasti Papa akan membahas adegan peluk-pelukan tadi waduh gawat nih batinku.
Ayah meminta aku untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi diluar tadi. Aku jadi takut Papa mengintrogasi diriku dan aku tidak dapat berkilah aku bercerita jujur pada Papa kalau aku sedang pelukan dengan Bara. Aku menunduk ketakutan takut Papa memanas karna selama ini jarang banget liat tampang Papa sangar begini. Raut wajah nya tampak memerah memandang sinis kehadapanku.
Papa menyuruhku untuk berkata jujur. "Sebenarnya ada hubungan apa aku dengan Bara?" tanya Papa.
Aku pun mengakui semuanya karena sudah terlanjur ketahuan juga, aku juga gak tega harus bohongi Papa. Kau pun mengakuinya dengan jujur kalau aku baru saja jadian dengan Bara. Papa sangat marah padaku. Karena selama ini Papa dan Mama melarang aku untuk pacaran katanya kalau pacaran akan membuat waktuku terbuang sia-sia dan sekolahku akan terganggu. Aku ketakutan Papa menyandarkan punggungnya dan dengan tatapan tajam ke arahku.
"Papa tidak suka kamu pacaran, Tan. ini bukan soal Bara, papa memang tidak mau melihatmu pacaran dulu sebelum lulus SMA. Seharusnya kamu tau itu dan tidak melanggarnya!" ujar Papa bicara dengan tegas.
__ADS_1
Sudah ku tebak Papa pasti akan membahas soal ini dan sebentar lagi Papa pasti akan menyuruhku memutuskan Bara. "Duh baru aja merasakan asyiknya punya pacar udah ketahuan begini memang nasib...," lirihku bicara sendiri dalam hatiku.
Papa berpikir sejenak sambil menatapku. Mungkin ia juga sibuk memikirkan nasib cintaku yang tragis ini. Baru saja jadian dan akan segera diakhiri. Aku berdoa dalam hati agar Papa mau bolehin aku untuk pacaran.
"Pa... intan janji kok, akan jaga diri dan tidak akan melupakan tanggung jawab sekolah. Intan akan lebih giat lagi sekolah dan janji gak akan ada nilai jelek," lirihku bicara dalam keadaan takut sambil berjanji.
Papa memikirkan pembicaraan ku. "Menurutmu, papa harus bagaimana?" tanyanya meminta usul.
"Kalau menurut intan sih, pengennya papa bolehin intan pacaran Pa," jawabku lirih.
Aku mendesah pilu dan sedih aku tidak bisa membayangkan kalau papa pasti akan menyuruh-nyuruhku memutuskan Bara.
Baru aja jadian semalam masa udah harus di putusin sih, "lirih ku kesal.
Aku ingin memohon pada Papa agar di ijinkan tapi aku takut pada Papa. Aku hanya mewek dalam hati. Tidak terasa air mataku jatuh di pipi dan Papa melihat kesedihanku itu. Sepertinya ia juga iba memikirkan nasib ku yang malang ini.
__ADS_1
"Begini saja Tan, papa akan mengijinkan kamu pacaran asal kamu bisa membuktikan kalau kekuatiran papa salah dan tidak akan terjadi."
"Maksud Papa apa? Papa sudah bolehin intan pacaran Pa...?" tanya ku dengan semangat.
Papa mengangguk. Sontak aku memeluk Papa dan ia pun membelai rambut ku dengan lembut.
"Papa sadar kamu udah gede Tan, tapi papa kuatir banget dengan dirimu. Papa gak mau hal-hal yang buruk terjadi padamu. Oleh sebab itu berjanjilah kalau kamu tidak akan mengecewakan papa...," ujar papa masih memelukku.
"Makasih Papa, intan janji gak akan mengecewakan Papa," sahutku.
Papa melepaskan pelukannya dan memperingatkan ku lagi agar nilai ku tidak merosot dan sempat itu terjadi maka ia akan merubah keputusannya itu. Aku pun semangat menjawab bahwa aku gak akan lupa belajar dan berjanji tidak akan mengecewakan Papa.
Tidak terasa saat kami mengobrol dengan Papa Malam telah tiba hampir jam 10 aku menguap berkali-kali papa juga mengantuk. Kami pun pergi ke kamar masing-masing. Aku pamitan pada Papa dan berterimakasih karena sudah di bolehin pacaran.
Aku tersenyum puas malam ini merasa bahagia banget, karena papa sudah mengijinkan aku untuk pacaran. Aku merasa kalau aku adalah cewek paling beruntung sedunia dapat pacar seperti Bara. Orang nya baik, tampan dan terkenal. Sedikit pun aku tidak menyangka kalau Bara akan memilih aku dari sekian banyak cewek-cewek cantik di sekolah aku lah yang paling beruntung dan dipilih Bara, untuk jadi pacarnya.
__ADS_1