Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Hari yang menegangkan.


__ADS_3

Hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Karna hari ini aku bisa kencang dengan dengan Bara. Ia mengajakku ketempat yang asyik di sebuah pantai yang indah. Kami bersenang-senang di sana bermain air buat rumah-rumahan dari pasir makan-makan dan nongkrong di tepi pantai. Pokoknya seru banget.


Sepulang dari pantai kami singgah ke taman menikmati suasana taman yang indah di hiasi bunga-bunga segar. Bara memetik serangkai bunga untuk ku ia pun memberikan bunga itu padaku. Aku tersenyum malu melihat tingkah laku Bara yang alai, tapi aku suka.


Kami menghabiskan waktu seharian itu dengan penuh kebahagiaan. Hingga tanpa disadari hari telah sore. Aku pun mengajak Bara pulang meski tak rela mengakhirinya.


"Makasih ya Tan, sudah menemaniku jalan-jalan seharian ini, aku harap ini bukan yang terakhir kalinya kapan-kapan kalau ada waktu kita jalan-jalan lagi ya?" ujar Bara.


"Pasti akan selalu ada waktu untuk mu," ucap ku tersenyum.


"Hari ini aku senang banget...!" ucapku.


"Oya, Syukurlah kalau begitu." Bara tertawa.


Seketika aku terpukau dengan senyum manisnya terlalu indah untuk diabaikan.


Setelah mengantarku, Bara pamit pulang aku pun terpaksa merelakannya. Aku memandangi kepergian Bara hingga tak terlihat di mataku lagi.


Mama dan Papa memandangi ku dengan senyuman centil mereka. membuat aku jadi malu.


"Cie... yang lagi habis kencang...," ledek mama.


"Apaan si Ma, orang jalan biasa aja, bukan kencan. "Kita cuma temenan kok," ucapku mengalihkan perhatian mama yang terus memandangiku.


"Hem... mama harap ucapanmu itu jujur, kalau kalian temenan. Karna apa? kalian masih anak sekolah gak boleh main pacar-pacaran!" ujar mama sambil memainkan jarinya mengingatkanku.


"Iya, intan tau kok Ma...," ucapku.


"Intan masuk dulu Ma, Pa...," pamit ku.


Mereka pun membiarkan aku pergi.


Setelah membersihkan diri. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang. "Uuh, Capeknya!" keluhku. Tapi aneh aku gak bisa tidur nyenyak padahal sudah capek banget, seharian penuh jalan-jalan. Kaki terasa pegal dan tubuh juga terasa lemah. Aku terlalu bahagia untuk tidur. "Sepertinya malam ini aku terpaksa begadang nih," Aku cikikikan sendiri sambil menghayal indah hari ini yang telah kulalui bersama Bara.


🍂🍂


Pagi hari di sekolah. Tiba-tiba Bara mengunjungi kelasku. Sontak satu kelas heboh bahkan Vika teman sebangku ku tampak mengucek-ucek mata nya seolah tidak percaya oleh apa yang dilihatnya.


"Bara? Bara kesini? mau ngapain dia?" tanya nya tegang.


"Intan apa kamu kenal dengan cowok itu. Itu lho dia yang selalu jadi bahan omongan para cewek-cewek di sini. Mau ngapain dia kesini?" tanya Vika padaku.

__ADS_1


Aku tersenyum mendengar pertanyaan Vika.


Ya jelas Bara ingin menemuiku lah... batinku merasa bangga.


"Intan, kok kamu senyum-senyum sendiri sih ditanya?" Vika melototiku.


"Enggak kenapa-napa kok," ucapku cengengesan.


Vika ternganga saat Bara memanggilku dan menarik tanganku ngajakin aku ke kantin. Aku pun tidak menolaknya dan segara berlalu di hadapan Vika yang masih membungkam.


Kami pergi meninggalkan Vika dan beberapa cewek-cewek yang saat itu berada di kelas.


Seketika mereka terdiam sambil berbisik-bisik melihat kami jalan berdua di kantin. Tiba-tiba aku merasa hal yang aneh saat berduaan dengan Bara. Aku merasa risih dan tidak nyaman jadi pusat perhatian semua anak-anak.


Sekarang aku menyadari kalau jadi orang terkenal itu gak enak dan melelahkan.


"Bar, kita balik ke kelas aja yuk!" ajakku.


"Ngapain kelas?" tolak Bara.


"Enakkan di sini, lebih tenang dapat menikmati makanan lagi," ujarnya.


Aku tercengang dengan ucapannya. "Suasana gaduh seperti ini dia bilang tenang, Bara budek kalinya gak denger suara ribut anak-anak?" batinku.


"Aku malas di kerubungi cewek-cewek centil itu lagi."lirihnya.


"Bukannya kamu senang si kerubungi cewek-cewek?" ledekku.


"Senang apanya bikin gerah aja. Aku terpaksa kali berbaik hati pada mereka karna tidak mau dibilang cowok sombong aja," ujarnya.


"Ooh begitu ya? apa kamu tidak sedang berbohong?" aku mengulum senyumku mendengar ucapan Bara.


Bara mengalihkan perhatianku ia mengajakku ngobrol membahas yang lain. Tiba-tiba ia bertanya masalah pribadiku.


"Intan kenapa sih kamu belum punya pacar? padahal kan kamu kelihatan cantik banget apalagi saat tertawa," ujarnya langsung tanpa basa-basi.


Membuat mulutku terkatup.


"Ya ampun kok Bara nanyaknya bagitu sih? apa ia sedang merayuku?" aku terdiam sejenak mengarungi pikiranku yang tersanjung saat dipuji Bara.


"Mungkin belum ketemu yang cocok aja Bar," ujarku merasa malu.

__ADS_1


"Kalau aku kira-kira cocok nggak jadi pacarmu?" tanyanya spontan.


Sontak aku kaget aku terbatuk-batuk mendengar ucapan Bara.


Bara pun tertawa, "Kok bisa tiba-tiba batuk sih. Jangan marahnya aku cuma bercanda kok," ucap Bara.


Huh candamu sama sekali gak lucu Bara ... membuat aku shok aja..


Bara meraih tanganku lalu menepuk pundakku.


Tubuhku jadi panas dingin. Bara memegang tanganku. Wajahku langsung memerah.


"Oh kalian disini rupanya!" ucap seseorang yang jelas aku kenal suaranya karna dia adalah Reyhan. Tiba-tiba ia duduk di sampingku membuat aku tersentak.


"Ke kantin gak ngajak-ngajak sih!" Sekilas Reyhan melirikku melihat kedekatan ku dengan Bara.


"Kalian sudah jadian?" tanya nya.


"Eeh nggak kok... belum," sahutku grogi.


Tiba-tiba Bara menjawab. "Emang kenapa kalau kami jadian? cemburu?" Jawaban Bara membuat darahku berdesir.


Sejenak Reyhan memandangi kami dengan serius lalu ia tertawa. "Cemburu? mana mungkin aku cemburu Bar, cewek kayak dia mana menariknya?" Reyhan menghina ku didepan Bara. Aku pun tidak tahan emosi mendengar Bara menghina bentuk fisikku dan wajahku. Dia bilang aku kumal, jelek dan galak lagi. Ucapan Reyhan membuat aku bete. Aku memandang sinis kearahnya.


"Maaf deh Tan, aku becanda melihat mu begitu aku jadi ngeri... seperti singa yang siap akan menerkam mangsanya." Reyhan cikikikan tertawa.


Aku membuang memasang wajah garangku.


"Ayo dong, gitu aja kok marah sih Tan, kita kan udah biasa bercanda seperti ini... masa kamu gitu aja marah sih?" Reyhan melingkarkan tangannya ke pundakku.


Berani banget sih Reyhan merangkul ku di depan Bara, cetusku kesal.


"Lepasin tanganmu!" ucapku garang. Kesabaranku sudah habis aku menghadiahkan Reyhan dengan pukulan maut. Dia pun menjerit-jerit kesakitan.


Aku membabi-buta menyerang Reyhan berkali-kali. Reyhan pun memegang tanganku.


"Lepasin aku!" teriak ku.


"Gak! kalau aku lepaskan kamu pasti menyerang ku lagi," ujar Reyhan takut.


Berkali-kali aku menyuruhnya untuk melepaskan tangannya dariku tapi ia tetap tidak mau. Aku memandangi wajah Bara bermaksud meminta bantuan, tapi sedikit pun ia tidak beraksi. Ada sesuatu disorot matanya saat menatap kami berdua.

__ADS_1


Tapi entah apa itu aku tidak mengerti. Ia menatap tajam ke arah kami berdua yang masih bergelut sepertinya ia cemburu melihat Reyhan merangkulku.


__ADS_2