
Rasa penasaran ku semakin menggebu-gebu ingin mengetahui segera siapa Bara. Saat itu jam istirahat sudah tiba aku yang biasa nya selalu nongkrong di kantin. Kali ini tiba-tiba berubah pikiran ingin pergi ke kelas Reyhan.
Suasana kelas tampak sepi, tak terlihat cewek-cewek yang biasa beramai-ramai seperti kemarin-kemarin mungkin anak-anak itu berada di kelas lain. Ternyata Bara juga tidak ada dikelas.
"Hem, pantas saja sepi Bara ya gak ada dikelas, coba kalau ada pasti semua berkerumun lagi di sini," ucap ku sendiri.
Aku berjalan mengendap-endap masuk ke ruangan itu dengan langkah kaki pelan.
"Sepertinya ini saat yang tepat aku mengetahui siapa Bara," ucap ku lagi.
Aku buru-buru menghampiri bangku pojok paling belakang. Di sana ada tas Bara. Untung saja Reyhan sudah memberitahuku yang mana tas Bara jadi aku lebih gampang menyelidiki nya.
Aku menoleh kiri, kanan melihat keadaan seperti nya aman terkendali. Pelan-pelan aku membuka tas tersebut. Sepintas aku melihat semua isi dalam tas itu. Selain buku tulis ada beberapa buku lainnya seperti buku cerita, komik, dan majalah.
"Waduh ternyata Bara juga suka baca cerita dan komik," batin ku kaget.
"Sebenarnya ni cowok niat sekolah atau tidak sih? kok di sekolah bawa beginian lebih banyak lagi dari buku pelajaran. Parah banget;" ucap ku geleng kepala.
Aku memberanikan diriku untuk membuka buku catatan nya, sontak aku tertawa melihat tulisan nya hancur parah. Aku melirik tulisan di sudut kanan buku sebuah nama tertera Bara Prasetio. "Apa ini nama lengkapnya?" batinku bertanya.
"Hey, Intan! Ngapain di sini?" tiba-tiba Reyhan datang.
Aku kaget buku catatan itu terjatuh dari tanganku. "Ini gawat mampus aku kalau ketahuan!" Batin ku.
Buru-buru aku mengambil buku itu lalu secepatnya aku masukan di laci meja Bara.
"Hay, Reyhan kok tumben datang awal biasa juga udah ramai baru datang ke kelas," ujar ku kecoplosan bicara.
__ADS_1
"Apaan sih, bukan nya aku setiap hari datang nya selalu jam segini?" ucap Reyhan menyanggah.
Aku tersenyu panik kayaknya aku salah bicara pada Reyhan. Aku jadi tambah panik dan gelisah takut nya Reyhan malah curiga. Secepatnya aku menghampiri Reyhan berlalu dari bangku si Bara.
Reyhan kebingungan melihat tingkah ku. Senyuman panik ku masih mengambang di wajahku. Aku tidak mau tau tentang buku catatan itu, yang penting sudah masuk laci nya Bara aku sudah lega karena aking panik nya aku gak sempat lagi mau masukin dalam tas Bara takutnya Reyhan keburu tau.
"Tumben main ke kelas ku?" ucap Reyhan.
"Sekali-kali boleh dong, kenapa kamu marah?" tanya ku.
"Tidak kok cuma aneh aja pagi-pagi sudah kesini apalagi kamu tampak gugup gitu kamu sembunyikan apa dari ku?" selidik Reyhan merasa curiga.
"Ti-tidak ada apa-apa kok Rey? Serius amat wajah mu. Kayak abis mergokin maling aja!" Gerutu Intan.
"Hem... mudah-mudahan kamu tidak berbuat yang macam-macam aja...," ujar Reyhan menambahkan.
"Maksud mu apa sih?" tanya Intan tersinggung. "Kamu menuduhku yang tidak-tidak?"
"Astaghfirullah Reyhan jauh banget pikirannya menuduhku mencuri ya...?" tebak ku melototi Reyhan.
Intan siap menghadang Reyhan yang sudah menuduh ya habis mencuri.
"Tunggu Tan, jangan marah dulu aku tidak bermaksud menuduh mu!... teriak Reyhan berlari menyelamatkan diri dari serangan Intan.
Tiba-tiba bel masuk sudah berbunyi. Reyhan merasa lega Intan menghentikan aksinya.
"Awas kamu Rey... untung aja bel nya keburu bunyi, kalau tidak sudah babak belur kamu!" cetus Intan berlalu pergi menuju kelasnya. Reyhan tampak pucat ia menelan ludah nya ketakutan serasa habis di kejar macam.
__ADS_1
🔥🔥🔥
Sepulang sekolah seperti biasa Reyhan selalu nongkrong di ruang makan rumahku. Seperti nya anak itu sudah tidak punya rumah lagi atau sudah di buang dari keluarganya. Habis nya setiap hari ia selalu ada di rumah ku ada aku maupun tidak ada aku tidak berpengaruh baginya. Sepertinya ia sudah mengambil alih rumah ku deh, sampai-sampai Bibik juga menganggap nya sama seperti aku.
Aku memasang muka malas pada nya karena masih kesal dengan kejadian di sekolah tadi. Tapi Reyhan segera membujuk ku agar aku tidak berlama-lama marah dengan nya. Ia berjanji besok akan mentraktir ku makan di restoran. Aku pun memaafkan nya.
Reyhan merasa senang ia pun segera pergi ke dapur untuk melihat makanan apa yang ada hari itu. Seperti nya ia mau numpang makan lagi di rumah ku. Aku geleng kepala melihat perilaku Reyhan anak tetangga ku yang super nyebelin itu.
Aku segera pergi ke kamar untuk ganti baju. Sehabis ganti baju aku pun segera turun menyusulnya di ruang makan.
"Tan, kamu gak pengen makan lauk nya seperti nya enak tuh, ada ayam rica-rica buatan mama kamu yang endes...," teriak Reyhan.
Aku tidak sabar ingin mencicipi nya sebelum dihabisin oleh tamu yang tidak tau diri itu.
Aku pun segera mengambil piring Reyhan ikutan mengambil.
"Mau ngapain kamu?" tanya ku melirik Reyhan dengan sinis.
"Mau mandi... yah mau makan lah...!" ujar Reyhan merasa kesal dengan tanya ku.
Hem... Emang kebiasaan yah nih anak, enak banget makan rumah orang. Tanpa rasa malu lagi. Gak diajak langsung ikut ambil piring. batin ku jengkel.
Aku melihat Reyhan makan dengan lahap nya aku pun tidak mau kalah dengan nya aku mengambil lauk itu dua kali lipat banyak nya dari punya Reyhan.
Reyhan pun melongo melihat piring ku sudah menggunung. Aku terseyum ke arah nya.
"Kenapa lihat-lihat? masalah buat mu?"
__ADS_1
"Tidak!" ucap nya cepat melanjutkan makan nya lagi.
Enak saja dia mau ngalahin aku di rumah ku sendiri sedangkan dia sebatas tamu. Tamu yang tak di undang tepat nya.