
Di kejauhan mama melihatku dengan heran kenapa marah-marah sama Bara dan tidak menyeluruh Bara masuk. "Lho kok Bara nya gak disuruh masuk kamu kok gitu sama teman emangnya Bara ada salah apa? gak baik sama orang begitu Intan...," Mama menggurui.
"Intan lagi kesal Ma sama Bara...!" cetusku.
"Gak boleh gitu sama orang, kalau ada masalah selesaikan baik-baik. Emang Bara salah apa sih sampai segitunya kamu gak suruh dia masuk?"
"Bara telah menyakiti hati intan Ma...!" Aku berlalu dihadapan mama langsung masuk kamar dan mengunci kamarku. Aku menghempaskan tubuhku di ranjang dan meratapi nasibku.
"Intan... Intan... sebenarnya ada apa?" ujar mama penasaran ia berdiri di depan kamarku.
"Intan mau sendiri Ma...!" jawabku.
"Baiklah, jika kamu sudah tenang kamu boleh cerita sama mama, barangkali mama bisa bantu." Mama pergi dari kamarku tidak mau menggangguku.
Aku pun menangis dengan kencang. "Kok pacaran gini banget sih! rasanya sakit banget," lirihku.
🍂🍂
Pagi ini aku malas bangun rasanya aku ingin tidur seharian lagi. Teriakan Mama terdengar membangunkan aku. Aku pun segera bangun dan pergi mandi. Selesai mandi aku pun pergi ke dapur.
Mama sudah menyiapkan menu sarapanku.
Lagi-lagi telur ceplok membuatku bosan.
"Kenapa cuma di liatin Tan? ayo cepetan makan ntar terlambat lho...!" ujar Mama mengingatkan.
"Intan sarapan dikantin aja Ma...," sahutku.
"Udah di siapin juga, di makan apa yang ada."
"Malas ah, telur ceplok mulu!" gerutuku.
"Gak boleh gitu Intan, apapun makanan nya harus di syukuri, makanan itu pemberian Tuhan, gak baik menggerutu depan makanan," jelas Mama mengajariku.
Aku yang tidak mau Mama ceramah panjang lebar akhrinya duduk dan mulai makan masakan mama yah walaupun terasa bosan lumayan buat ganjal perut lapar," aku pun duduk dan mulai makan.
Selesai makan aku buru-buru ke sekolah.
Belum sampai gerbang sekolah dari kejauhan aku melihat Bara. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang di sana.
Bara melihat aku dari kejauhan ia menunggu aku di gerbang itu. Aku pun muak melihat nya ingin aku beralih arah agar tidak melewatinya dan memilih jalan lain tapi sayang hanya ini satu-satunya jalan menuju sekolahku.
Bara memanggilku aku hanya diam saja dan terus jalan seolah tidak melihatnya. Hatiku masih merasa dongkol padanya.
"Intan, tunggu!" ujarnya menarik tanganku.
Aku berhenti dan menghela napas panjang. "Ada apa lagi sih?" tanyaku jengkel.
"Aku minta maaf," ujar Bara.
__ADS_1
Aku tidak mau menghiraukan ucapan Bara dan terus melanjutkan langkahku.
"Iya, iya aku ngaku salah! tapi plis dengerin aku dulu... Aku melakukannya karna ingin melihatmu cemburu. Aku tidak mencintai Bella aku hanya mencintaimu Intan... percayalah... Please maafin aku, aku janji gak akan buat lagi," ucapnya memohon.
Aku jadi bingung apa benar ucapan Bara kalau ia hanya ingin buat aku cemburu.
"Udah bicaranya, gak ada yang perlu di bicarakan lagi kan?" aku pun berlalu di hadapan Bara.
Jujur aku masih sayang sama Bara tapi aku tidak mau langsung memaafkan nya.
Setelah aku pergi Bara mengejarku.
"Kali ini aku berkata benar Tan, aku tidak mencintai Bella Kamu harus percaya padaku," ucap Bara menarik tanganku dan menggenggam tangaku ia menatapku dalam, "Apa kamu mau memaafkan aku? Aku mau kita seperti dulu lagi."
Hatiku berdesir aku tak kuasa menolaknya hatiku pun luluh di hadapan Bara saat itu juga aku pun memaafkan nya. Bara hendak memelukku tapi buru-buru aku mendorong tubuhnya.
"Kenapa Tan?" ucapnya bingung melihat sikapku menolak pelukannya.
"Gak enak sama anak lain aku ke kelas dulu," ucapku melepaskan tangan Bara.
"Tunggu! Apa kamu gak marah lagi sama aku?" tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku janji Tan, gak akan dekat-dekat lagi dengan Bella," ujarnya.
"Bukan cuma Bella, tapi dengan cewek-cewek di sekolah ini juga!" ujarku menambahkan.
"Iya Tan, pasti itu... mulai saat ini aku akan menuruti semua ucapan mu."
"Tan aku ingin kamu memenuhi janji satu hal padaku."
"Janji apa itu?"
"Nanti aja aku kasi tau. sekarang ikut aku...!"
"Ikut kemana Bar...? Sebentar lagi akan masuk!" ucapku keberatan. Bara menarik tanganku menuju motornya. "Kali ini aja pliss ikut aku...!" Lirihnya.
Aku pun menuruti kemauan Bara ia mengajakku membolos dan pergi ke suatu tempat.
Motor Bara melesat cepat membawaku sepanjang perjalanan aku terus bertanya-tanya sebenarnya Bara mengajakku kemana dan apa yang diinginkan nya dariku.
Kami berhenti di suatu tempat di tepi danau tempat yang indah di daerahku.
Sambil memandangi sungai yang luas dan indah Bara memegang tanganku dengan erat ia mengajakku duduk di bebatuan. Aku pun duduk di sampingnya kami menatap ke arah yang sama menatap pemandangan yang cukup indah di danau itu. Sejenak kami membungkam.
"Bara, katanya kamu mau bicarakan sesuatu padaku apa itu?" tanyaku memecah kesunyian.
"Janji gak akan marah?" tanya nya mengeyitkan matanya.
"Janji!" ucapku pasrah terlanjur sudah penasaran juga.
__ADS_1
"Aku minta mulai sekarang kamu jauhin Reyhan," ucap Bara menatapku.
Darahku berdesir seketika permintaan nya sungguh memberatkan aku. Aku tidak menyangka Bara akan memintaku menjauhi Reyhan seseorang yang selalu ada buatku selama ini dia kan sahabatku mana mungkin aku menjauhinya. Seketika hatiku menjadi resah.
"Kenapa diam? Apa kamu keberatan?" tanya Bara.
"Nggak kok," jawabku berbohong. Aku bingung dengan sikap Bara apa dia cemburu pada Reyhan padahal kan kami cuma berteman. Reyhan juga gak pernah mesra dengan ku biasa aja, bahkan kami sering bertengkar masa iya sih Bara cemburu?
"Bagaimana Tan, sanggup?"
Aku mengangguk sambil tersenyum terpaksa.
Jujur aku tidak tau dengan keputusanku apa aku bisa menjauhi Reyhan.
Keesokan harinya di sekolah.
Aku merasa gelisah dengan permintaan Bara haruskan aku mengatakannya pada Reyhan soal permintaan itu? Aku jadi bingung haruskah aku menyetujuinya.
Bagaimana cara ngomongnya pada Reyhan diakan teman baikku. Rasanya aku gak sanggup memenuhi permintaan Bara tapi bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Bara... "Hugh, rumit banget sih hidupku!" Aku menghela nafas panjang.
Seperti biasa setiap jam istirahat Reyhan selalu nongkrong di kelasku. Aku bingung harus mulai dari mana.
Tiba-tiba Reyhan duduk di mejaku.
Kata Bara kamu yariin aku apa iya?
"Hah," jawabku kaget.
Kurang ajar Bara menjebakku ternyata batin Reyhan.
Duh kasian banget Reyhan... rasanya aku gak sanggup untuk mengabulkan permintaan Bara. Tapi...
Aku berpikir sejenak sambil terus memandangi Reyhan.
"Rey... Maaf sebelumnya,"
"Yah ada apa?"
"Mulai sekarang sebaliknya kamu jangan temui aku lagi ya karena...,"
"Apa maksudmu?"
"Bara memintaku untuk menjauhi kamu Rey...!"
"Dan kamu mau lakukan itu?"
"Aku terpaksa Rey...?"
"Oke baiklah, mulai saat ini kita gak usah temenan lagi!" Reyhan marah ia pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Andai aku bisa menarik kata-kataku lagi aku akan melakukannya aku telah melukai hati Reyhan. Aku memandangi kepergian Reyhan dengan kesal.