
Suatu malam Bara menemuiku di rumah ia datang dengan penampilan lain dari biasanya tampak kalem dan pendiam aku jadi curiga.
"Bar, ada yang aneh dengan mu malam ini," ucap ku dengan mata yang mendelik kearahnya.
"Oya, apa yang aneh?" Bara menatapku.
"Kamu kelihatan diam dan gak semangat gitu," ucapku memberitahu.
"Oh biasa aja kok Tan, mungkin aku sedikit kecapean karna akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan," jelasnya.
"Pekerjaan?" aku mengenyitkan mata.
"Iya sepulang sekolah Papa menyuruhku membantunya di toko."
"Ooh baguslah kalau begitu jadi anak berbakti," pujiku.
"Iya sekali-kali kasian Papa juga, jarang istirahat. Karena toko selalu ramai," ujar Bara.
"Wah, bagus dong gitu berarti banyak rejekinya."
"Alhamdullilah, iya Tan."
"Oya aku ingin memberitahu kamu, akhir-akhir ini aku akan jarang menemanimu lagi, karena Mama akan buka kafe besar di kota aku disuruh temani dia. Mungkin aku juga akan ijin cuti beberapa hari tidak akan masuk sekolah." jelas Bara padaku.
Aku pun kaget, "Hah, kok mendadak gitu sebentar lagi kan kita akan ulangan lho...!"
"Mau gimana lagi, Mama butuh aku di sana buat teman sementara waktu."
"Apa Papa mu tidak ikut?" tanyaku.
"Tidak, dia kan mengurus bisnis disini."
"Ooh...," ucapku datar.
"Aku bakal kangen banget sama kamu Bara," ucapku sedih.
__ADS_1
"Aku juga, gak usah sedih gitu dong... aku gak lama kok perginya." Bara merangkul ku.
"Janji nya gak lama...?" ujarku menatap tajam ke arah Bara.
"Iya aku janji...!" sahutnya sambil mengusut kan rambutku.
Setelah beberapa lama mengobrol Bara pun pamit pulang aku pun mengijinkan nya, karena hari juga udah lumayan malam sekitar jam 10 lewat.
Aku beranjak pergi ke kamarku aku memikirkan bagaimana rasanya tanpa Bara di sekolah pasti sepi banget, seketika aku merasa sedih. Malam ini aku jadi gelisah mata ku sulit di ajak kompromi. "Pasti di kota Bara keluyuran, dia kan paling hobby jalan-jalan. Di sana pasti banyak cewek-cewek cantik," ucap ku sendiri merasa tidak tenang memikirkan hal itu.
Aku berusaha memejamkan mataku tapi tidak mau juga terlelap. Akhirnya aku meneleponnya Bara.
Iya menenangkan aku dan menyuruhku segera tidur.
Aku sedikit merasa lega, saat Bara bilang kalau ia akan selalu menghubungiku selama di sana. Aku pun mencoba memejamkan mataku dengan harapan segera terlelap.
🍂🍂🍂
Keesokan harinya.
Tidak lama kemudian terdengar suara yang sangat ku kenal mereka cekikikan di belakangku. Sontak aku menoleh seakan aku tidak percaya dengan penglihatan ku, barusan aku melihat Reyhan dan Mala mereka asyik makan bersama.
"Reyhan kok bisa ke kantin bareng Mala? perasaan mereka selama ini kurang akur malah kemarin Mala menendang kaki Reyhan. Tapi, kenapa hari ini mereka tampak akrab. Apa mungkin mereka..."
Belum sempat aku melanjutkan ucapanku. Aku mendengar Reyhan memuji Mala dan Reyhan menatapnya dengan tatapan penuh makna.
"Mungkin mereka sudah jadian!" desahku pilu sambil terus memandangi kemesraan mereka di kejauhan. Untung nya mereka tidak melihatku ke arahku yang menyedihkan ini.
Kenapa juga aku urusin mereka? Reyhan kan sudah jadi musuhku dan mulai saat ini aku juga akan memusuhi Mala. Aku benci mereka berdua. Aku pun meninggalkan tempat itu walau makanan yang ku pesan belum habis kumakan aku tidak peduli. Hatiku benar-benar sakit melihat Reyhan dan Mala asyik berduaan. Sementara aku hanya bisa menghela napas panjang. Gak tau kenapa hatiku begitu sakit liat Reyhan dekat-dekat dengan Mala.
Aku pergi ke kelas mengambil tasku. Sepertinya aku gak bisa belajar dengan baik hari ini aku memilih akan membolos saja. Tapi di saat aku melewati pintu gerbang sekolah, aku berjumpa dengan Om Chandra ia menghentikan langkah ku.
"Intan...!" panggil Om Chandra.
Busyet, aku ketahuan. Aku berpura-pura tidak mendengar panggilan itu aku jalan saja dengan pandangan lurus ke depan.
__ADS_1
"Intan kamu mau kemana?" tanyanya lagi.
"Om Chandra, a- aku mau... tiba-tiba perut ku mulas Om dan aku mau beli obat dulu...." ucapku beralasan.
"Beli obat kok bawa tas segala?" Om Chandra memperhatikan gerak-gerikku.
"Oh iya nih, aku belum sempat menyimpan tas Om." jawabku.
"Ya sudah, ayo Om antar mau beli dimana?" Om Chandra menawariku.
"Gak perlu Om, biar intan beli sendiri aja...," sahutku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Gak apa-apa ayo...!" ajak Om Chandra menyuruhku naik mobilnya.
"Hah, terpaksa deh... harus pergi. Padahal kan cuma alasan tadinya," keluhku dalam hati merasa pasrah.
Aku pun diantar Om Chandra beli obat setelah itu kami kembali ke sekolah lagi.
Gagal deh bolosnya. Aku menghela nafas panjang. Niat mau bolos jadi gagal total gara-gara Om Chandra.
"Intan, kalau kamu masih sakit kamu ikut ke ruangan Om saja. Istirahat saja di sana, pulangnya Om antar sekalian Om juga ada perlu sama Mamamu." tutur Om Chandra.
"Makasih Om, intan masih kuat kok buat belajar," tolak ku.
"Ya sudah kalau gak mau. Jangan lupa minum obat tadi ya...," pesannya.
"Iya Om...," jawabku.
Aku pun berpisah dengan Om Chandra ia pergi ke kantor nya dan aku akan menuju kelas.
Iiih menyebalkan! Barusan aku berpapasan dengan Mala dan Reyhan sedang jalan berduaan menuju kelas juga. Harus kah aku menyaksikan mereka berduaan lagi? Tidak aku gak akan lihat mereka.
Aku pun beralih arah, tidak jadi ke kelas. Aku pergi ke tempat favoritku di belakang sekolah. Di sana aku duduk di kursi sambil bertopang dagu meratapi nasibku yang menyedihkan.
Seketika dalam hanyalanku aku melihat bayangan Reyhan yang selalu menggoda ku dan usilin aku. Aku tersenyum sendiri bila ingat kenangan bersama Reyhan di tempat itu. Tapi... tiba-tiba aku merasa sesak saat mengingat kejadian tadi di kantin melihat Reyhan berduaan dengan Mala.
__ADS_1
Aku lagi kenapa sih! kok tiba-tiba aneh gini? lirih ku. sambil melempar-lempar kerikil di tanah melampiaskan kemarahanku pada Reyhan dan Mala.