Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Suatu Pagi.


__ADS_3

Pagi hari disaat aku masih enak-enak nya terbuai di alam mimpi bersama Bara. Tiba-tiba aku dikagetkan oleh gedoran pintu yang keras tidak berapa lama suara Mama yang terdengar memanggilku.


Suaranya berisik banget membuat aku terganggu.


"Intan... intan bangun sudah siang Tan...!" teriak Mama.


"Hem mama kenapa sih ganggu aja masih enak tidur juga. Emang kalau sudah siang kenapa? ini kan hari libur... kenapa sih mama gak ijinkan aku tidur sampai siang," keluhku.


Aku menutup telingaku dengan bantal dan membiarkan mama sampai bosan berteriak. Mendadak suasana hening aku pun tersenyum puas. Sepertinya Mama sudah pergi.


Aku memejamkan mataku kembali berharap bisa pergi ke alam mimpiku lagi. Tapi mataku sudah tidak mau terpejam lagi. Aku pun bangkit dari tempat tidurku sambil mengusap mataku. melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Pantas saja mama udah teriak-teriak ternyata ini memang sudah siang hampir tengah hari. Aku tersenyum sendiri. "Semalam tidurnya enak banget yah... Uh Bara kekasihku, ingin aku ulangi kejadian semalam...," lirih ku sambil menghayal.


"Astaga Bara. Bara kan janji mau kesini semalam...


Kok aku bisa lupa sih pake acara kesiangan lagi.


Duh repot kalau sudah begini?"


Aku bergegas bangun dan segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia pun pergi ke dapur. Aku mendengar suara ribut-ribut dari dapur seperti nya ada tamu. Tapi siapa ya...?


Aku pun setengah mengintip dan ketahuan oleh mama.


"Itu dia Intan nya baru nongol," ujar Mama sambil menunjuk ke arahku.


Bukan main aku malunya. "Mama kok gak bilang sih ada Bara." Aku memukul jidatku.

__ADS_1


"Hay...," ucap Bara sambil terseyum padaku.


Aku pun tersenyum kecut melihatnya karna malu ketahuan baru bangun. Aku mengelus dadaku karna aku sudah mandi. Nasib mujur masih berpihak padaku. "Ternyata Mama tadi teriak-teriak bangunin mau bilang ada Bara. Jadi nyesel cuekin Mama. "Aduh aku malu banget, kok Bara pagi-pagi ke sini sih...," batinku.


Tiba-tiba aku melirik dua orang di samping mama dan Papa ternyata itu adalah orang tua Bara.


"Mampus aku, apa jangan-jangan mereka mau menikahkan aku? Em... Mama aku belum siap untuk melakukan semua itu...!" lirihku sambil berjalan pelan menuju tempat mereka berkumpul.


Mama segera menyuruhku segera duduk di sampingnya. Aku pun tersipu malu saat kedua orang tua Bara dan Bara ikutan memperhatikanku.


"Wah Intan sudah gede ya...? makin cantik aja," puji mama Bara. Aku menunduk malu Bara pun ikutan memandangiku membuat hatiku meronta-ronta.


Mama dan Papa menyuruhku untuk bersalaman pada orang tua Bara. Aku jadi salah tingkah apalagi melihat Bara terseyum padaku.


"Kenapa sih senyum Bara manis banget aku kan jadi kurang pokus!" gerutuku.


"Apa kabar Intan...?" sapa Papa Bara padaku.


"Dulu masih kecil kamu mainnya sama Bara lho, apa kamu masih ingat?" tanyanya padaku.


"Tentu saja aku mengingatnya Om," ucap ku langsung.


"Kalian sudah lama saling kenal, jadi Om tidak terlalu kuatir lagi. Lagian Om sama Papamu juga temenan jadi kami sangat mendukung kalian buat lebih saling mengenal dan lebih dekat lagi. Bukan begitu Pak?" ujar papa Bara yang bernama Faisal itu.


Papa tampak mengangguk aku semakin penasaran sebenernya tujuan mereka apa. Aku melirik Bara yang dari tadi asyik menikmati kebersamaan itu. Aku memberinya kode apa maksud pembicaraan papanya itu tapi ia tidak melihat ku yang dari tadi asyik bermain kode dengannya. Aku pun tidak sabar segera memanggil Bara. Bara menoleh dan mendekat. "Ada apa Tan?" tanyanya.


Aku segera mengajak Bara keluar setelah berpamitan pada semua orang.

__ADS_1


Aku langsung membicarakan masalah hatiku pada Bara. Aku menayakan atas tujuan apa Bara mengajak Papa dan mamanya ke rumahku pagi-pagi.


"Bara ada apa sih kamu ajak Papa dan Mamamu datang ke rumahku?" tanyaku.


"Mereka sengaja pergi karna pengen ketemuan dengan calon menantunya," ucap Bara sambil tertawa.


Aku mencubit tangan Bara. Ia menjerit kesakitan.


"Bicara yang benar Bara!" cetusku.


"Iya, iya mereka datang karna ingin bersilaturahmi aja dengan orang tuamu. Papamu dan Papaku kan temenan dulunya," jelas Bara.


"Oh itu aja?"


"Iya... memang kamu bilang mau ngapain lagi?"


Aku pun jadi malu sendiri anggapanku salah. Ternyata mereka bukan mau menikahkanku. Aku tersenyum sendiri.


"Hey, kok malah senyum sendiri sih?" tegur Bara bingung.


"Gak kenapa-kenapa kok!" ucapku garing.


Bara menatapku dengan tatapan tajam. Seperti orang terpesona.


"Intan kamu cantik banget kalau lagi terseyum aku suka melihat mu terseyum," ujar Bara sambil membetulkan rambutku.


Aku menunduk malu. Sesuatu telah terjadi padaku. Bunyi desiran darah yang mengalir membuat jantung berdetak kencang. Asal kamu tau Bara hati aku saat ini tidak menentu karna ulah mu batinku berkata-kata.

__ADS_1


Setelah diam sejenak sibuk dengan pikiran kami masing-masing Bara pun mengajakku ngobrol-ngobrol. Suasana hening kembali mencair.


Bara orangnya asyik ia bisa mencairkan suasana. Ia juga lucu banget paling bisa buat aku tertawa.


__ADS_2