
Hari Minggu telah tiba aku putuskan untuk pergi ke kampung halaman Ayah di rumah nenekku. Di sanalah tempat cinta pertamaku bermula. Di sana tempat pertama kali aku bertemu Bara dan di sanalah pertama kali aku mengenal apa itu yang di namakan cinta. Disana pula aku pertama kali merasakan sakit, karna di tinggalkan Bara yang tanpa pamit padaku. Lalu nantinya aku akan membuang semua kenangan itu disana. Kenangan tentang kisah cintaku. Biarlah tempat itu menjadi awal dan akhir kisah cinta pertamaku.
"Apa kamu mau kerumah nenek?" teriak Mama marah.
"Tidak bisa, kamu tidak boleh pergi! apa kamu tau ini bukan waktu liburan? selama ini kamu juga udah banyak melakukan kesalahan-kesalahan. Pertama kamu sudah lalai dalam belajar, kedua kamu sudah dapat nilai jelek dan ke tiga kamu sudah tidak seperti dulu lagi kamu udah malas gak pernah bantuin Bibik di dapur. Kamu lebih mementingkan dirimu asyik di kamar mengurung diri kerjaan yang tidak jelas. Sering telat pulang sekolah banyak deh pokoknya. Apa kamu tidak memikirkan sekolah mu lagi mau main-main saja. Ingat Intan ini sudah semester ke dua jika kamu tidak naik kelas, mama tidak akan segan-segan memberikan kamu hukuman," cetus Mama memarahiku.
"Tapi Ma, intan harus kesana. Ada hal penting yang harus aku selesaikan Ma," ucap ku memberitahu.
"Tidak bisa, apapun alasannya kamu pokok nya tetap tidak boleh pergi!" Mama bersikeras. "alasan kamu saja, bikin sekolah keteteran kamu pengen enak-enakan di rumah Nenek mama gak akan ngasi ijin."
"Intan bukan mau enak-enakan di sana Ma, intan cuma pengen...."
"Pokoknya gak boleh, sekali tidak boleh tetap tidak boleh titik!"
Aku berlari menahan tangisku. Pergi ke kamar aku merasa kecewa pada mama yang tidak mau mengijinkan aku pergi, mau memaksa juga tidak akan bisa karena mama lagi emosi. Mungkin ada baiknya aku baik-baikin Mama dulu sampai emosinya mereda baru aku ajak bicara baik-baik lagiankan aku perginya tidak lama, masa Mama gak mau sih. Aku akan cari lain agar Mama mau ijinkan mudah-mudahan hatinya bisa luluh.
Sore hari telah tiba aku mendekati Mama yang asyik dengan Drakor kesayangannya. Aku ingin meminta ijin nya untuk pergi ke rumah Reyhan.
"Ma... permisi?"
"Ya, ada apa? Mau merayu mama supaya dapat ijin ke rumah nenek ya? jangan harap kamu bisa meluluhkan hati mama," cetusnya salah sangka.
"Nggak kok Ma, aku cuma minta ijin ke luar sebentar."
"Mau ngapain ke luar sore-sore!" seru mama merasa geram karena telah terganggu dengan kehadiran ku.
__ADS_1
"Di sekolah intan, ada tugas biologi di suruh cari dedaunan intan lupa kerjain nya tadi siang." ucapku sambil menunduk.
"Alasan aja kamu sana pergi! balik ke rumah sebelum magrib, jika telat jangan harap dapat pintu dari mama!"
Ya ampun Mama kok makin hari makin sadis aja, kalau gak di kasi pintu emang aku mau lewat mana. Apa harus lewat jendela?
"Intan kamu dengar tidak!" seru mama padaku yang sudah nyosor keluar.
"Iya dengar kok Ma, intan akan pulang sebelum magrib."
"Awas jangan sampai telat!" ancam Mama.
"Nggak kok Ma," ujarku melemah.
Sekejap saja aku sudah tiba di depan rumah Reyhan.
Aku langsung mengetuk pintu rumahnya terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Aku gugup buru-buru ku rapikan penampilanku. Sejak kapan aku jadi sok imut begini sampai harus memperhatikan penampilan segala mau ketemu Reyhan.
Pintu terbuka saat aku ingin mengetuknya lagi.
"Eh, Tante. Sore Tante," sapaku langsung memasang senyum semanis mungkin. Duh malu nya aku Mama Reyhan menatapku dengan tatapan beda ia memperhatikan seluruh tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Intan?" ujar nya seolah bingung.
"Iya Tante," sahutku ikutan bingung melihat reaksi mama Reyhan yang tampak beda dari biasanya.
__ADS_1
"Reyhan ada Tante?" tanyaku.
"Reyhan?" ia pun balik bertanya seperti orang yang bingung.
Aku mengangguk ikutan bingung. Kayaknya Reyhan benar-benar anak pungut nih sampai-sampai namanya gak ingat kalau ia punya anak bernama Reyhan.
"Oh Reyhan?" wanita itu baru ngeh aku pun tersenyum. Ternyata dia baru ingat nama anaknya kirain lupa tadi.
"Reyhannya gak ada Tan," ucapnya.
"Gak ada? tumben gini hari dia tak ada di rumah emang dia kemana Tante?"
"Gak tau Tan, dia gak bilang mau kemana dia cuma pamitan mau keluar."
"Oh bagitu, lama gak dia pergi ya Tante?"
"Kalau soal itu, tante tidak tau Tan."
"Oh ya sudah lah Tante, intan pulang dulu."
"Yah baik-baik di jalan ya?"
"Iya makasih Tante."
Aku pun pulang dengan kehampaan
__ADS_1