Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Semuanya sudah berlalu...


__ADS_3

Aku terdiam sambil meratapi nasibku. Satu persatu peristiwa yang ku alami akhir-akhir ini terlintas di benakku mengait satu demi satu. Terbukti lah semua ucapan Reyhan dan Mala ternyata semuanya benar. Bara memang seorang penghianat dan terbukti ia telah selingkuh.


Setelah berjalan sekitar 30 menit aku pun sampai di depan pintu. Reyhan juga pulang ke rumah nya.


Kuketuk pintu dua kali aku yakin Mama pasti membukakan pintu. Kemudian aku yakin juga dia bakal marah besar padaku, aku berdiri di di pintu sudah pasrah dengan nasibku biar lah mama marah-marah asalkan aku sudah mengetahui siapa Bara sebenarnya. Selama ini aku sudah tertipu dengan bualan manis nya yang ternyata semua nya palsu. Aku tidak akan peduli lagi kalau mama marah padaku aku akan pasrah.


Perasaanku kacau-balau ada sedih, marah, kesal dan kecewa bercampur aduk menjadi satu jadi kebencian. Sejak tadi aku sudah menahan diri agar tidak menangis dan aku yakin ketika sudah berada di kamar pasti air mata ku akan tumpah juga, rasa nya aku gak bisa menunggu lagi mataku sudah berkaca-kaca.


Mama pun membukakan aku pintu, "Intan!" ucap Mama kaget saat melihat tampang ku yang lusuh.


"Kamu habis dari mana saja kenapa telat pulang?" tanya Mama.

__ADS_1


"Biasa Ma, lagi ada tugas latihan di sekolah," ucapku gugup.


"Oh kamu pulang nya sama siapa?"


"Sama Reyhan Ma," ucap ku lemah.


"Intan kamu kenapa?" lupanya mama memperhatikan raut wajah ku yang tampak murung dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku benci Bara... benci banget...!" ucapku sambil membenamkan wajahku di bantal.


🍂

__ADS_1


Melamun... melamun dan melamun, seperti pekerjaan yang paling banyak aku lakukan saat ini.


Selama ini aku lebih banyak melamun dari pada beraktivitas. Entah itu mikirin masalah cinta dan masalah lainnya pokoknya serba melamun. Mau makan melamun, mau tidur melamun, mau mandi pun melamun. Aku tidak tau bagaimana caranya mengalihkan pikiranku yang terus menerus kepikiran dengan masalah ku bersama Bara.


Aku sudah malas menangis karena aku gak mau air mataku kering gara-gara mikirin cinta, yang ada aku sendiri yang tersiksa. Lagian aku sudah menerima kenyataan ini kalau bara telah terbukti sudah berkhianat. Jadi, buat apa lagi aku menangis. Sedih memang. Tapi, aku gak mau terus tenggelam dalam kesedihanku. Bagiamana pun juga aku juga berhak bahagia. Ini juga salahku coba aja aku percaya pada omongan Reyhan dan Mala pasti aku tidak mengalami sakit hati begini.


Menerima kenyataan bukan bararti aku sudah memaafkan Bara. Aku membencinya bahkan sangat membencinya. Bagaimana besarnya cinta ku padanya maka sebesar itu pula aku membencinya. Terlebih lagi soal kebersamaannya dengan Santi kemarin, aku gak bisa memaafkan Bara lagi. Dia benar-benar sudah keterlaluan dan tidak pantas untuk dimaafkan lagi.


Aku berpikir mungkin sudah saatnya aku membuang semua kenangan masa laluku bersama Bara. Semuanya telah berakhir aku harus memulai memikirkan hidupku. Masih banyak yang harus ku selain bermimpi tentang Pangeranku yang telah berkhianat itu.


Ku putuskan untuk mengakhiri semuanya dan membuka lembaran baru dengan sebuah kepastian tanpa harus berangan-angan untuk menjadi seorang putri. Semua itu hanya ada di dalam dongeng dan tidak akan pernah jadi kenyataan. Semua kenangan bernama Bara akan kulupakan. Semoga saja aku bisa dan mendapatkan kebahagiaan baru yang nyata.

__ADS_1


__ADS_2