Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Berakhir lah sudah...


__ADS_3

Reyhan mengejarku, aku hampir lolos dari kejarannya Tapi Reyhan menarik tanganku aku terdiam dan merasa malu padanya karna ketahuan menagis wajahku memerah.


"Intan kamu harus terima kenyataan itu, benar kan apa yang aku ucapkan padamu! kamu sih terlalu percaya dengan gombalan Bara. Sekarang sudah jelaskan Bara orang nya seperti apa," ujar Reyhan padaku.


Aku semakin terpukul dengan ucapan Reyhan aku terdiam cuma bisa menahan amarah dalam dadaku.


"Bara kenapa kau lakukan itu padaku kenapa Bara?" lirihku sambil menangis. Aku mengajak Reyhan pulang kami pun segera meninggalkan tempat itu.


Di perjalanan aku menangisi nasibku yang malang ini aku tidak menyangka Bara melakukannya lagi padaku. Kali ini aku tak kan mau lagi memaafkannya aku cukupkan cintaku sampai di sini dan harus ku akhiri detik ini juga.


"Sudah lah Tan, jangan di sesali lagi semuanya sudah terjadi kamu hanya perlu menguatkan mental mu saja, untuk apa kamu sesali bukan kah semuanya sudah jelas kalau Bara itu adalah seorang penghianat plus penipu!" Reyhan benar-benar geregetan ingin menghajar Bara lagi.


"Kamu benar Rey, maaf aku tidak mempercayaimu dan Mala waktu itu, ternyata ucapan kalian benar Bara adalah seorang penipu. Aku benci padanya Rey... sangat benci...!" lirihku sambil menangis.


"Sudah, berhenti menangis sekarang kamu harus belajar melupakan Bara tidak usah kamu ingat-ingat lagi dia orang seperti dia tidak ada gunanya dikenang," pinta Reyhan.


"Aku akan melupakan Bara, Bara teman kecil, pangeran impianku... Tapi, sekarang berubah jadi seorang penghianat dan aku sangat membencinya!"


"Kamu yang sabar ya Tan, ada aku di sampingmu saat ini aku siap membantumu kapan pun kamu mau aku akan selalu menghiburmu dan menemanimu," ujar Reyhan menawarkan dirinya.


"Makasih Rey, aku beruntung punya sahabat sepertimu, yang selalu ada buat ku dan dan selalu menguatkan aku."


"Sama-sama Tan. Oya kita mampir makan dulu yuk aku lapar banget nih," ucap Reyhan menawariku.


"Terserah kamu aja Rey," aku mengikuti saja.


"Ya sudah ayo, kita makan dulu."


Kami pun singgah di warung bakso aku dan Reyhan pun makan bersama. Reyhan tampak lahap makannya sudah hampir ludes di mangkuknya tapi aku malah terdiam asyik memandangi Reyhan yang sedang makan dan pikiranku melayang tidak tau arahnya kemana.


"Intan, kamu kenapa tidak makan? sudah lah jangan pikirkan si Bara itu lagi. Itu akan membuat mu sakit hati saja dia tidak pantas buat mu Intan. Sudahlah berhenti bersedih masih banyak kok laki-laki di dunia ini yang lebih baik dan lebih tampan dari si bren*sek itu!" cetus Reyhan memanas jika ingat kelakuan Bara.


"Iya Rey aku tau itu, mungkin sudah saatnya aku harus melupakan Bara, membuka lembaran baru di hidup ku aku akan segera membuang jauh kenangan ku bersama Bara dan akan membuka lembaran baru," ujarku kembali bersemangat.


"Gitu dong semangat, sekarang makanlah!" pinta Reyhan.


Aku mulai menikmati makanan yang ada di depanku setelah aku selesai makan kami melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


💞💞💞


Keesokan harinya setelah pulang sekolah aku masih berada di sekolah setelah anak-anak lain sudah pulang aku sengaja memilih pulang belakangan karna aku tidak mau bertemu dengan Bara.


Suasana sudah sepi aku berjalan menyusuri koridor sekolah di samping parkiran aku mendengar dua orang sedang mengobrol sengaja aku ingin menguping pembicaraan orang tersebut dengan kaget nya aku melihat ternyata itu Bara dan Santi.


Bara menatap Santi sambil tersenyum aku jadi sakit hati melihat mereka.


Aku menguping pembicaraan mereka.


"Santi, habis ini kita jalan ya... aku mau mengajakmu makan," terdengar suara Bara.


"Boleh!" ucap Santi terseyum.


"Kamu sukanya makan apa?" tanya Bara sambil merapikan poni Santi yang berantakan. Sepertinya Bara sangat perhatian pada Santi aku jadi cemburu melihat adegan itu.


"Aku suka makan apa saja, asal makannya sama kamu," jawab Santi terseyum ke arah Bara.


Bara merangkul Santi ia merasa senang Santi berbicara seperti itu. Mereka sambil berbisik-bisik mesra sekali. Kok adegan mereka makin mesra aja lalu mata ku melotot saat Bara memegang tangan Santi dan mencium tangannya.


"Bara... aku merasa sesak melihat semua ini kenapa dirimu setega itu padaku?" lirihku sambil memperhatikan gerak-gerik mereka dari kejauhan.


"Santi kamu tau tidak aku mengajakmu di sini sebenarnya ingin ngomong sesuatu sama kamu."


Bara tampak menatap mesra ke arah Santi dan dibalas Santi dengan tatapan lebih mesra lagi.


"Kamu mau ngomong apa si Bara?" tanya Santi.


"Em... kamu tau kan, kalau aku sama Intan sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi..?" Bara membuat ku panas dingin rasanya aku ingin merobek mulutnya. Aku merasa geram sekali mendengar ucapannya yang bawa-bawa namaku.


"Iya... jadi?" Sinta menunggu kelanjutan ucapan dari Bara.


"Jadi... aku mau... mau kamu, jadi pacarku San..?" ucap Bara gugup di hadapan Santi hingga pembicaraan nya terbata-bata.


Santi terseyum mendengar ucapan Bara itu.


"Apa kamu mau jadi pacarku?" ucap Bara menambahkan.

__ADS_1


Desiran darahku mengalir deras aku tidak sanggup mendengarnya.


Tampak Santi mengangguk.


"Benarkah itu Santi?" sepertinya Bara meragukan ucapan Santi.


Santi mengangguk lagi Aku melongo melihat mereka.


"Kalau begitu aku boleh gak minta sesuatu dari mu?" ucap Bara lagi.


"Minta apa Bar...?" Santi tampak tidak sabar.


Dasar centil bisa-bisanya mereka bersenang-senang di atas penderitaan ku, ucap ku geregetan.


Aku lanjut menguping.


"Boleh tidak aku selalu menemanimu, selalu mengajak mu jalan, selalu menelpon mu?" ucap Bara.


"Tentu saja boleh Bar...," Santi meraih tangan Bara dan menatapnya dengan tatapan tajam.


"Makasih Santi kamu tau aku sangat mencintai kamu San...!" ucap Bara juga membalas tatapan Santi.


"Aku juga sangat mencintaimu Bara...," ujar Santi kec*ntilan.


Aku menarik nafas dalam seakan nafas ku terasa sesak mendengar mereka lagi sayang-sayangan sedangkan aku meringis batinku terguncang aku mundur perlahan ku putuskan untuk pergi dari situ. Aku tidak tahan melihat kemesraan mereka, ku balikan badan dan berlari lalu... Bruk...! aku menabrak Tong sampah.


"Duh ketahuan deh! tong sampah si**an...! kenapa sih pakai acara diam tengah jalan segala kan tertabrak," keluhku.


Bara menoleh ke arahku aku pun berlari cepat meninggalkan tempat itu. Bara mengejarku dan menarik tanganku. "Kamu ngapain ada di sini?" tanyanya.


Aku memasang wajah penuh amarah memandangi Bara. "Sana pergi...! aku benci padamu Bara!" cetusku emosi.


"Intan, tunggu! ini tidak seperti yang kau kira," teriaknya ingin berkilah lagi.


"Sudah lah, Bara... mulai detik ini hubungan kita berakhir aku tidak akan percaya lagi padamu penghianat, penipu! besar..." aku mendekati Bara menatapnya untuk yang terakhir kali lalu ku ayunkan tanganku dan Plak...! satu tamparan mendarat di pipi Bara ia pun menjerit.


"Sakit Tan...!" keluhnya sambil memegangi pipinya.

__ADS_1


"Rasa sakit itu tidak seberapa Bara, hatiku lebih sakit lagi karna ulah mu...! sudah cukup kamu mempermainkan perasaan ku selama ini tiada maaf bagimu lagi. Aku bukan perempuan bodoh yang mau saja kamu bohongi. Sudah cukup sabar aku selama ini tapi, kamu tidak juga bisa berubah. Ya sudah aku putuskan untuk iklaskanmu dan akan bebaskan kamu. Pergilah sesuka hatimu dengan gadis manapun juga, aku tidak akan pernah mencegah mu lagi, karena mulai detik ini kamu bukan siapa-siapa ku lagi!" cetusku emosi.


Aku pun berlalu di hadapan Bara. Bara masih meneriakiku tapi tidak ku abaikan lagi.


__ADS_2