
Hari minggu ini aku habiskan waktuku mengurung diri di kamar. Mama berkali-kali memanggilku menyuruhku bangun ia mengajakku pergi jalan-jalan dengannya namun aku menolaknya.
"Intan, Intan... bangun!"
Apa sih Ma intan udah bangun kok jawabku lemah.
Hari ini mama mau pergi kerumah paman apa kamu mau ikut?" tanya mama berteriak didepan kamarku.
"Gak deh Ma, lain kali aja. Hari ini aku sibuk banyak tugas dari sekolah dan besok harus segera dikumpulkan," teriakku dalam kamar.
sejak kapan intan rajin belajar biasanya kan ia paling malas belajar. udah deh biarin aja mumpung dia lagi rajin.
"Kamu ngapain sih di dalam?" tanya Mama penasaran.
"Lagi kerjakan tugas Ma..." seruku.
"Sepagi ini?" mama meragukan.
"Iya, biar cepat kelarnya karena ada banyak tugas." jawabku.
Aku sengaja meletakan beberapa buku di atas meja belajarku agar mama percaya kalau aku lagi belajar. Lalu aku membuka pintu untuk Mama da mama melihat aku lagi duduk di meja belajar menatap buku-buku di depanku.
"Ternyata kamu benaran lagi belajar," ucap mama percaya.
"Iya dong Ma, masa intan bohong sih?"
"Yah sudah mama percaya kok. Oya Tan di dapur masih berantakan, mama buru-buru jadi gak sempat kemas, habis belajar tolong kemas yah...!" pinta Mama.
"Iya Ma!" sahutku lagi mengiyakan tanpa protes.
Padahal aku paling malas berkemas apalagi di dapur "Mama ada-ada saja sih gak tau aku lagi broken heat gini... di suruh kemas lagi. Nasib anak perempuan selalu berurusan dengan dapur," keluhku.
Aku masih enggan keluar kamar membiarkan mama pergi dan aku menutup pintu kembali.
Hari ini aku merasa hidupku bagai tidak ada gairah aku terus mengingat Bara dengan Bella. Kenapa aku harus menyalami patah hati seharusnya jalinan cintaku bersama Bara menjadi kisah terindah tapi malah menyakitkan seperti ini. Haruskah kisah cintaku berakhir tragis.
Bara telah berselingkuh di depan mataku berduaan dengan Bella kejadian semalam masih terbayang di mataku rasanya sakit banget menusuk jantungku hatiku terasa remuk. Apa Bara tidak mencintaiku lalu apa arti ungkapan cintanya malam lalu? Jika dia mencintaiku kenapa dia tega menyakitiku seperti ini. Aku meragukan ucapan Bara tentang cintanya padaku ternyata itu semua gombalan semata.
__ADS_1
Dia telah berkhianat, mataku mulai berkaca-kaca entah kenapa hari ini aku berubah cengeng dan menyedihkan seperti ini. Padahal selalunya kuat. Cinta memang bisa merubah segalanya yang lemah bisa jadi kuat dan yang kuat bisa jadi lemah.
Haruskah aku putuskan Bara atau ku pertahankan. Aku jadi bingung sendiri sesungguhnya aku masih sayang padanya, aku tidak menginginkan perpisahan. Tapi, jika ku pertahankan aku sendiri yang sakit aku tidak bisa mengambil keputusan di sisi lain aku tidak yakin kalau aku bisa meninggalkan Bara tapi di sisi lain aku juga tidak akan sanggup menerima sikapnya yang semaunya tanpa memikirkan perasaanku. Aku tidak bisa lakukan apa-apa selain meratapi nasib cintaku yang hampir kandas. Aku menangis dan merintih seorang diri di kamar.
Tiba-tiba bibik menggedor pintu kamarku menyuruhku untuk makan dan aku menolaknya. Pikiran lagi suntuk begini mana bisa makan, walaupun sangat lapar tapi terasa kenyang gak ada napsu sama sekali. Aku memecit perutku dan menahan laparku sampai aku bisa tenang.
Setelah 10 menit berlalu tiba-tiba bibik datang menggedor pintu kamarku lagi. Karna bising dengan bunyi ketukan pintu itu aku pun terpaksa membukanya. "Mau galau kok di ganggu mulu sih, konsentrasiku kan jadi terganggu!" omelku merasa risih.
"Ada apa sih Bik?" tanyaku sambil membuka pintu untuknya.
"Di luar ada tamu. Non,"
"Tamu? Siapa Bik...? cowok atau cewek?"
"Cowok Non," jawab bibik.
Cowok? siapa ya? apa mungkin Bara?
Masa sih Bara, rasanya gak mungkin dia deh... Buat apa dia menemuiku? setelah menyakitiku...
"Temui saja Non, bibik permisi..."
Aku beranjak pergi ke toilet untuk mandi.
"Kok tiba-tiba ada tamu sih padahal kan hari ini malas banget mau ketemu dengan orang," sungutku.
Selesai mandi aku menemui tamu itu dan...
Aku kaget ternyata tamunya Bara.
"Hay...," sapanya.
"Hay...," jawabku lemah.
"Ada apa? tumben datang kesini?" aku mengernyitkan alisku.
"Aku mau ajakin kamu jalan, apa ada waktu?" tanyanya.
__ADS_1
"Buat apa kamu ajakin aku jalan, kenapa tidak ajak Bella aja...!" jawabku segit.
"Bella? kok bawa-bawa nama Bella sih?" Bara berlaga bingung.
Dasar Playboy kelas kecoa bibirku dalam hati.
"Allaa pura-pura gak tau atau gak sadar? kemarin malam kan kamu jalan sama dia? kamu mau ngeles?" ucapku sinis.
Bara kaget tampak dari raut wajahnya yang gugup.
Aku tersenyum sinis kearahnya.
"Sebaiknya kamu pulang aja deh, aku gak mau jalan sama kamu!" cetusku ingin beranjak.
"Tunggu Tan, aku mau minta maaf sama kamu atas perlakuanku hari itu dan tentang aku dan Bella aku gak ada hubungan apa-apa kok sama dia kami cuma berteman," ucap Bara tanpa dosa.
Aku menghentikan langkahku dan menoleh kearah Bara, "Teman? sebatas teman kamu bilang! udah deh Bar jangan bohongin aku emang ada ya temenan sambil pegangan tangan?"
"Kamu sudah salah paham Tan, aku tidak mancintai Bella aku hanya mencintai kamu!" ujarnya penuh penekanan.
"Terserah kamu mau bilang apa Bar, aku udah gak percaya lagi sama kamu kamu pembohong dan kamu jahat!" Aku menutup pintu dengan keras tidak mau lihat tampang Bara lagi. Di balik pintu aku menangis tidak kuat, kenapa dengan mudah nya Bara bilang cinta sama setelah menyakiti aku.
"Lho... kenapa di luar gak masuk?" tiba-tiba terdengar suara mama datang. Aku mendengar suara Mama sontak menghapus air mataku yang sudah membasahi pipiku.
Ini gak logis, kenapa mama datang di saat yang tidak tepat, aku jadi serba salah mau buka atau bagaimana sejenak aku terdiam.
"Intan... Intan... bukain pintu ya Sayang...!" ujar mama.
Ceklek. Aku membuka pintu dan masih melihat Bara masih berdiri di luar. Aku membuang muka malas pada Bara.
"Intan kenapa Bara nya gak di suruh masuk?" mama memandangiku dengan heran.
"Silahkan masuk Bara...," tawar Mama.
"Iya Tante makasih!" sepertinya Bara bingung mau masuk atau nggak. Melihat wajah garangku ia jadi ragu dan masih mematung. Mama sudah masuk aku menemui Bara.
"Lebih baik kamu pulang sana dan temui Bella," ucap ku dongkol.
__ADS_1
"Tunggu Tan, Bara menarik tanganku. Aku bisa jelasin semuanya ke kamu." Bara menatapku berharap aku mau mendengar alasannya.
"Gak ada yang harus di jelaskan lagi Bara, semuanya sudah jelas hari ini aku sibuk gak bisa pergi kemana-mana." Aku menutup pintu kembali tidak menghiraukan Bara.