Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Persahabatan jadi permusuhan.


__ADS_3

Sungguh berat rasanya kehilangan Reyhan sahabat terbaikku. Reyhan yang selalu usil yang selalu cerewet dan selalu ledekin aku. Hari ini begitu sepi biasanya di saat jam istirahat ia selalu nongkrong di kelasku dan di rumah setiap sore juga nongkrong dengan Papa tapi hari ini tidak lagi seperti kemarin-kemarin aku merasa kehilangan Reyhan, dan aku merindukan semua celotehnya.


Rasanya separuh nafasku pergi tanpa adanya Reyhan di sisiku rasanya hampa dan sepi. Tidak lagi dengar candaan Reyhan dan tidak berantem lagi. Jujur aku rindu saat itu. Walaupun akhir-akhir ini Bara selalu menemaniku namun aku tetep kehilangan Reyhan dan merasa kesepian. Reyhan tetap tak tergantikan oleh siapapun.


Setiap kali bertemu Reyhan di sekolah dan di rumah dia selalu membuang muka kearahku. Reyhan seperti melihat mahluk halus saat melihatku, ia selalu menghindar dan tidak menganggap aku ada.


Walaupun aku berpapasan dengan nya ia pura-pura tidak melihatku hatiku sangat jengkel dan aku merasa sedih. Berulang kali aku mengajak Reyhan bicara namun kekesalan yang kudapat.


Reyhan sungguh kekanakan-kanakan ia marah besar padaku. Aku melempar senyum pun ia tidak menghiraukan aku. Saat ku sapa ia pura-pura tidak mendengar. Akhirnya aku tidak bisa membendung emosiku lagi saat aku berpapasan dengan nya aku membentaknya dan ia cuma memandangi ku dengan aneh.


"Reyhan kamu kok jadi berubah gini!" teriakku jengkel. Dia mengabaikan semua ucapan ku seolah-olah tidak mendengar aku pun merasa dongkol dengan sikap diamnya itu.


"Aku benci kamu Rey...!" teriakku.


Ia cuma geleng-geleng kepala dan cuek padaku.


"Sejak kapan kamu jadi pria cool gini, Reyhan-Reyhan ini benar-benar bukan sifatmu dan aku membencimu sekarang!" ucapku menggerutu sambil memandangi punggung Reyhan yang sudah menjauh.


Aku berusaha untuk bersabar mencoba memanggil nya namun tetap saja ia tidak mau menoleh ke arahku. "Reyhan!!! aku benci kamu! mulai sekarang kuputuskan tidak akan pernah lagi menegurmu. Mulai detik ini aku musuhan dengan kamu."


Tiba-tiba Bara datang menghampiriku aku terkejut dan ia langsung mengajakku ke tempat sepi. Aku tidak bisa menolaknya ia menarik tanganku.


"Surprise...!" ucap nya sambil menunjukan sesuatu padaku.


"Apaan ini?" tanyaku mendelik.


"Buka dong....?" ujarnya.


"Hah, Bunga ini bunga buat ku."


Bara mengnggguk, "Apa kamu suka?"


"Iya aku suka banget Bar... Makasih ya... bunga nya cantik banget dan harum lagi," pujiku.


Aku mencium bunga tersebut dan terseyum ke arah Bara. Bara merangkul ku dan mendekatkan tubuhnya kearahku. Hati ku jadi dek-dekan rasanya aku ingin mendorong tubuh nya namun aku takut ia tersinggung, aku pun segera mengalihkan nya dengan hal lain. Agar ia bisa menjauh dariku.


Bara mengajak ku jalan-jalan sekitar taman sekolah di sana kami bercerita dan bercanda berdua. Aku melihat Reyhan di kejauhan sepertinya ia memperhatikan gerak-gerik kami dari kejauhan. Aku pun berlaga mesra dengan Bara. Aku tersenyum sengaja membuatnya menyesal karna sudah tidak mau menegurku. Aku berhasil membuat Reyhan panas hati setelah itu aku pun pergi ke kelas dan Bara masuk ke kelas nya juga.


Di dalam kelas aku jingkrak-jingkrak kayak anak kecil yang baru saja dapat permen. Mala teman ku jadi kepo melihat reaksiku seperti itu.


"Kamu ngapain jingkrak-jingkrak kayak gitu?" Mata nya mendelik ke arahku.


"Hem... kasi tau gak ya...?" ujarku berteka-teki.

__ADS_1


"Hem... apaan sih, bilang aja kali... gak usah lebay gitu." Mala geregetan.


"Ye... siapa juga yang lebay aku lagi senang tau!"


"Apa yang membuatmu senang?" tanya Mala kepo.


"Sebab....?"


Mala menatap geram padaku yang penuh teka-teki.


"Aku dapat ini...Tara...." Aku menunjukkan bunga pemberian Bara tadi pada Mala.


"Waw... itu dari Bara ya...?" tebak Mala.


"Iya dong...!" ucapku terus menciumi bunga itu.


"Liat dong... sini...?" Mala ingin merebut bunga ku.


"Sini...!" paksanya.


"Gak ah, ini bunga spesial buat aku. Ngapain kamu kepo?"


"Sebentar saja Intan...!"


"Balikin sini!" bentakku. Bukannya balikin Reyhan memandangi bunga tersebut dengan jijik.


"Bunga apaan sih ini!" Reyhan pun membuangnya di tong sampah.


Mataku mendelik ke arah Reyhan. Kurang ajar berani banget ia membuang bunga itu, batinku jengkel. Belum sempat aku memakinya ia sudah pergi di hadapan aku dan Mala


Mala masih tidak percaya dengan yang dilihatnya ia terbungkam


"Reyhan kamu jahat banget! sampai kapanpun aku gak akan memaafkan mu aku benci kamu!" ujarku sendirian.


Permusuhan ku dengan Reyhan semakin besar bahkan Mala terlihat di permusuhan kami.


"Mala ikut aku sekarang!" aku menarik tangan Mala dan Tiba-tiba Reyhan datang lagi juga menarik tangan Mala.


Terjadilah tarik menarik antara aku dan Reyhan. Mala menjerit-jerit meminta untuk menghentikan aksi kami berdua. Tapi kami masih tetap tarik-menarik tangan Mala. Akhirnya Mala pun berteriak. "Berhenti!" teriaknya.


Kami terdiam tapi saling membuang muka. aku tidak sudi melihat tampang Reyhan yang super nyebelin itu. Reyhan juga begitu.


"Hey bocah tengil lepasin tangan Mala!" teriakku kesal. Reyhan juga membalas teriakan ku.

__ADS_1


"Kamu yang lepasin cewek jadi-jadian!" ujarnya.


Aku mendelik sinis, "Enak saja ia ngatain aku cewek jadi-jadian!"


"Heh, cari m*t* ya...?" dengusku


Sikapmu benar-benar memaksa ku Rey kali ini aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup.


Ku ayunkan kakiku dan berniat akan menendang Reyhan.


Tapi... bukannya kaki Reyhan yang kena tapi kaki Mala. "Aduh!" jerit Mala.


"Intan....!" Mala memandang geram padaku.


"Ups salah sasaran. Maaf Mal, aku gak sengaja...!" sahutku sungkan.


Mala menagis kakinya memar kena tendangan ku.


"Maafkan aku Mala... aku benar-benar tidak sengaja," ucapku iba.


Tak ku sangka Mala jadi korban kemarahan ku ini semua gara-gara cowok tengil itu. "Dasar jelek!" dengusku.


"Aku bilang apa Mal, sebaiknya kamu jangan dekat-dekat dia, kalau gak kamu pasti sial seumur hidup. Lihat saja kelakuannya...!" Reyhan menghasut Mala agar membenciku.


"Apa kamu bilang!" aku merasa emosiku memuncak aku mengayunkan tangan ku ke arahnya dan sialnya Reyhan berhasil mengelak.


"Jangan dengerin dia Mala dia yang pembawa petaka," ucapku jengkel.


"Udah berhenti aku pusing nih liatin kalian!" ujar Mala tidak kuat memandangi kami berdua yang sama-sama tidak mau mengalah.


"Ayo Mal ikut aku!" ajakku.


"Jangan Mala atau kamu...!" Reyhan tidak melanjutkan kata-katanya sebab aku buru-buru melototinya.


"Atau apa!"


"Ayo ikut aku aja Mala...!" Reyhan manarik tangan Mala lagi dan tarik-menarik berlanjut. Mala memanas ia pun histeris berteriak sambil menendang kaki Reyhan.


"AU.. !" jerit Reyhan kesakitan.


"Rasain emang enak!" cibirku sambil meraih tangan Mala dan mengajaknya pergi.


Aku menjulurkan lidah pada Reyhan yang masih kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2