
Matahari meredup pelan-pelan hilang di pandangan mata, binaran bintang mulai menerangi langit malam telah tiba. Tiba-tiba aku teringat Bara. Bara yang selalu bikin sakit hati namun selalu ku rindukan. Sudah berkali-kali aku menelpon dan mengirim pesan padanya namun tidak satu pun yang terkirim ponselnya tidak aktif. Kenapa ponsel Bara selalu tidak aktiv ya ucapku merasa kesal.
Aku berniat menelpon dirumahnya siapa tau dia ada di rumah tapi tetap nihil. Ternyata Bara tidak ada dirumah art nya yang mengangkat telpon dariku ia mengatakan kalau Bara lagi keluar.
"Pantas saja nomor nya tidak aktiv, ternyata ia tidak ada di rumah tapi aku heran kenapa setiap kali keluar rumah ponselnya selalu mati apa dia sengaja mematikan nya atau lagi lowbat?" tanyaku dalam hati.
Aku jadi curiga dengan keberadaan Bara. Aku memutuskan untuk menyusulnya keluar tapi pakai apa? oh iya aku kan udah baikan dengan Reyhan pasti dia mau mengantarku keluar aku benar-benar penasaran apa yang dilakukan Bara di luar aku menyelinap keluar dari rumah menjumpai Reyhan.
Tiba-tiba Mama sudah di depan ku entah dari mana datangnya dia mengagetkan aku.
"Mau kemana kamu malam-malam begini? bukan kah Papa sudah melarang kamu keluar rumah?" mama memandangiku dengan curiga.
"Em intan cuma mau kerumah Reyhan kok Ma... mau minta ajarin kerjain tugas," ucapku beralasan.
"Tumben kerumahnya malam-malam begini?emangnya tadi siang ngapain aja sehingga lupa tugas!" mama mencetus.
"Maaf Ma, intan lupa gak lama kok Ma, habis kerjain langsung pulang," sahutku merayu mama.
"Yah sudah sana...! Intan...!" panggil mama.
"Ya, ada apa lagi Ma?
"Kamu mau kerjakan tugas kok gak bawa buku?" tanya mama menyelidiki aku.
"Oh iya, untung mama ingatin lupa... Ma," jawabku cengengesan. Huh hampir aja ketahuan bohongnya.
Mama geleng kepala melihatku. Aku pun pura-pura balik ke kamar bawa tas berisi buku-buku sebagai bukti kalau aku benaran mau belajar.
Hah ada-ada saja pake ketahuan segala lagi mama kok selalu ada dimana-mana. Sepertinya ia sengaja mengawasi aku deh, padahal kan di jam segini dia asik dengan Drakor nya. Aku menghembuskan nafas dengan kasar ribet juga dibuatnya cinta memang membuat gila. Aku berpura-pura membawa tas padahal mau menyelidiki Bara.
__ADS_1
Beruntung Bara ada di rumahnya. Ia pun tidak menolak saat ku ajak keluar, maklumlah kami kan baru saja baikan pasti Reyhan tidak akan tega menolak ajakan ku.
"Intan kamu pake tas sekolah mau belajar ya...?" tanya Reyhan tertawa.
"Astaga aku lupa menyimpannya!" aku melempar tas tersebut ke teras rumah Reyhan.
"Lho kok di lempar sih?" Reyhan keheranan.
"Itu cuma bahan bukti aja, buat Mama karna aku beralasan mau belajar dengan mu tadi," jelas ku.
"Ya ampun, Intan! kamu bohongi Mama kamu?" Reyhan ngegas tidak suka dengan sikapku.
"Sttts jangan kencang-kencang bicaranya, ntar Mama dengar. Gak ada cara lain lagi, agar mama mengijinkan aku keluar terpaksa aku bohongi dia," ucapku.
"Emang apa sih yang membuat kamu begitu nekat. banget pengen keluar malam ini? sampai harus bohong segala, lagian besok kan kita sekolah gak takut kesiangan?" ujar Reyhan.
"Iya, iya... Ayok...!" sahut Reyhan langsung menghidupkan motor. Aku pun langsung naik di boncengan Reyhan kami pun segera jalan. Reyhan tampak bingung mau pergi ke arah mana "Sebenarnya kita mau kemana sih Tan...?" tanyanya.
"Jalan saja Rey, kalau sudah sampai pasar ntar aku kasi tau arahnya," ujarku.
"Oke kalau begitu," Reyhan kembali mengebut aku berpegang yang kuat pada Reyhan.
Intan aku bahagia banget bisa baikan dengan kamu lagi jujur aku kangen celotehmu Tan... batin Reyhan sambil senyum-senyum sendiri.
"Reyhan kok kamu dari tadi diam sih? gak seperti biasanya?" ucapku memecah keheningan.
"Hem aku gak tau mau bicara apaan, hihihi...," ucapnya sambil tertawa.
"Ada-ada saja, bisa kekurangan bahan gitu kamu. biasanya juga jago bicara dan heboh tidak mau kalah!" cibirku.
__ADS_1
Reyhan terdiam sibuk dengan pikirannya. Aku pun juga diam sejenak memikirkan kemana mau cari Bara. "Rey kita ke bioskop ya...!" tiba-tiba aku kepikiran kesana setahuku Bara kan paling hobby nonton di bioskop kali aja dia ada sana.
"Emang kamu mau nonton ya...?" tanya Reyhan./ mendelik.
"Ya iyalah mau nonton, masa mau mancing sih!"
"Siapa tau saja mau ketemu seseorang!" tebak Reyhan.
Hah kok Reyhan tau ya... aku menghela nafas.
"Tan, tumben ngak jalan sama Bara?"
"Gak deh, aku gak mau ganggu dia aja dia kan lagi sibuk bantuin mamanya di kafe selama ini."
Oh ya? bukan sibuk cari pacar...?" Reyhan meledekku. Memang ucapan Reyhan mungkin ada benarnya. Aku terdiam memikirkan mau jawab apa.
"Kalau pun dia mau cari pacar biarin aja deh, aku tidak masalah. Toh kita cuma pacaran bukan menikah. Putus nyambung itu kan biasa...," ucapku seolah-olah kuat.
"Beneran gak kan nangis kalau Bara ya terbukti pacaran? kayak yang waktu itu sampe mewek-mewek nangis hahaha... Reyhan meledekku sambil tertawa mengingat kejadian waktu itu yang mendapati Bara jalan sama Bella.
"Candaan mu gak lucu Rey...! berhenti bicara! kita hampir sampai. Ayo kita turun di sini saja...," ucapku menghentikan Reyhan.
"Lho kok di sini? kan masih jauh tempatnya...," ucap Reyhan.
"Gak pa-pa, kita jalan aja dari sini jalannya sempit kalau pake motor."
"Iya juga sih," Reyhan membenarkan ucapan ku.
Kami pun jalan berdua. Reyhan mengandeng tangan ku karena di jalan sangat ramai takut berpencar.
__ADS_1