
Bara tiba-tiba datang menemui ku entah dari mana arahnya aku tidak melihatnya karna sibuk dengan pikiranku.
"Apa kamu sudah selesai makan?" tanyanya langsung.
"Bara... ngagetin aja...! kemana sih kok lama banget aku sampai gerah gini lho...!" cetusku sambil menatap wajah Bara yang penuh dengan keringat.
"Maaf tadi aku di telpon sepupuku. Aku temui dia sebentar di kafe sebelah karna ada keperluan," jelas Bara padaku. 'Kamu marahnya sama aku?" tanyanya.
"Gak kok, cuma aku bosan aja sendiri." aku berbohong padanya.
"Makanan kamu tuh dimakan aja lagi, kan sayang masih banyak," ucap ku mengalihkan pembicaraan.
"Enggak deh, aku sudah kenyang. Kalau kamu udah selesai makannya kita pulang aja yuk," ajak Bara.
"Iya aku sudah selesai kok makannya," jawabku datar. Lalu kami pun pergi meninggalkan kafe itu Bara mengantarkan pulang selama perjalanan kami membungkam tidak bicara satu patah katapun, kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Jujur aku kesal banget malam ini sama Bara, gak biasanya dia seperti ini. Masa aku di biarin makan sendiri sedangkan dia temui sepupunya. Masa iya sih yang telpon tadi sepupunya, kok aku merasa gak yakin. Aku merasa kalau Bara sedang berbohong tapi aku tidak enak harus bicarakan hal itu. Aku takut menyinggung perasaan nya dan ia pasti menuduhku curiga dan cemburuan.
Gak apa deh diamin aja dulu sampai semunya baik-baik saja. Aku juga baru baikan dengan nya masa sih mau bertengkar lagi kan gak seru, batinku. Aku terus diam hingga sampai kerumah Bara pamit pulang aku pun segera masuk kerumah tanpa sapaan lagi pada Bara.
"Intan...!" panggil Papa padaku.
Aku kaget, "Kok papa belum tidur, ada apa Pa...? tanya ku sedikit gugup.
"Papa belum tidur sebab menunggu mu pulang," sahutnya.
"Oh emang ada apaan Pa...?"
__ADS_1
"Barusan Om Chandra datang kesini dia bercerita banyak tentang kamu, katanya kamu sering berantem sama Reyhan apa iya? dan kamu juga sering pacaran di sekolah apa semua itu banar? Om Chandra juga memberikan selembar kertas ini pada papa dan papa sangat kecewa padamu Intan," cetus sang Papa.
Duh tamat riwayatku kok Om Chandra bisa tau sih tentang aku dia kan jarang ketemu aku... Bikin ribet aja punya Om kepsek aku jadi target utama yang di soroti setiap saat, kalau Papa sudah tau begini bakal bikin repot pasti hubungan ku dan Bara ikut terancam...
Aku terdiam sejenak mencerna pertanyaan Papa. Jujur aku bingung mau jawab apaan. karna ucapan Om Chandra semuanya benar.
"Intan, kenapa diam? ayo jawab benar atau tidak!" ujar Papa tampak ngegas.
"A- tidak kok Pa, biasa aja. Intan juga tidak pernah pacaran di sekolah kok Om Chandra mengada-ngada saja dan hubungan aku sama Reyhan juga baik-baik saja kok..." ucapku berbohong.
"Jangan bohong Intan! papa gak suka kamu bohong. Selama ini papa juga jarang lihat Reyhan ke sini. mulai dari sekarang kamu harus pergi dan pulang di jemput supir papa sudah menyiapkan kamu supir untuk kamu. Dan satu hal lagi Papa ingatkan papa gak ijinkan kami keluar lagi sama Bara!" cetus papa.
"Jangan dong Pa... lalu bagaimana hubunganku dengan Bara? apa aku harus putusin dia?" keluhku.
"Lebih bagus kamu putuskan saja dia. Karena Kamu tidak bisa tepati janjimu Intan, Papa kecewa padamu. Kamu lihat ini! daftar nilai mu selama ini." Papa memberikan aku kertas hasil ulanganku minggu lalu dan hasilnya merah semua aku menutup mataku. Tidak ku sangka Om Chandra datang kesini dan memberitahu Papa tentang itu semua.
Papa beranjak meninggalkan aku dengan rasa kesalnya. Aku segera berlari ke arahnya untuk meminta maaf tapi papa tidak mau menghiraukan aku dia marah besar padaku karena melihat semua nilai ku jelek semua gak ada yang bagus. Papa merasa malu punya anak seperti aku. Aku jadi kesal dan beranjak dari tempat itu. Aku menuju kamarku menghempaskan tubuhku di ranjang pikiranku semakin kusut dan semakin kacau balau. Aku tidak sanggup menahan semua rasa itu yang kian bergejolak dalam hati hingga aku terisak menangis.
"Bara... haruskah aku putus kamu? aku sangat mencintai mu Bara...!" lirihku sambil menangis.
Malam semakin larut tanpa ku sadari aku sudah berada di alam mimpi aku tertidur dengan pulas membawa kesedihanku. Aku berharap di hari esok tidak ada lagi kesedihan dan tidak ada lagi kemarahan Papa yang tidak aku sukai itu.
💞💞💞
Pagi telah tiba, seperti biasa aku bangun pagi bersiap akan berangkat ke sekolah dan menunggu mama bikin sarapan untukku di meja makan. Aku diam seribu bahasa mama mengajakku bicara aku tetep diam yang ku mau saat itu menyelesaikan sarapan dan pergi secepatnya di sekolah sebelum Papa bangun, aku takut berhadapan dengan Papa.
"Ma cepetan dong, sarapannya... intan sudah mau pergi nih," ujarku panik sambil celangak-celiguk melihat arah kamar Papa takut dia keburu bangun.
__ADS_1
"Belum Tan sedikit lagi, mama masih potong sayuran ini. Maksud mama akan membuat nasi goreng untukku. "Ini kan masih pagi kenapa buru-buru sih, biasa juga kamu masih ngorok jam segini." cibir mama sambil ngebut potong sayurannya.
"Hari ini intan mau pergi awal Ma, ada piket dikelas."
"Oh tunggu bentar nya. Mama bangunin Papa dulu."
"Ma... biarin intan aja yang bangunin Papa." aku beranjak dari meja makan mendahului mama pergi ke kamar.
"Ya sudah, sana bangunin...! Makasih ya Sayang sudah bantuin," teriak Mama padaku.
Aku tersenyum sendiri ke arah mama.
Mama melanjutkan pekerjaan nya sedangkan aku pura-pura pergi ke kamar Mama dan Papa aku tidak berani mengetuk pintu kamar itu. Aku berpikir kalau Papa bangun di saat aku masih ada, pasti ia akan lanjut memarahi aku lagi. Nggak! Papa gak boleh bangun dulu, sebelum aku pergi! Aku tidak jadi mengetuk pintu kamar Papa. Aku kembali ke meja makan.
Nasi goreng mama sudah siap di meja aku langsung menghampirinya.
"Lho Tan, mana Papanya?" tanya mama.
"Kata Papa, bentar lagi dia nyusul Ma...," ujarku berbohong lagi.
"Oh ya sudah, kamu makan aja dulu... mama mau mandi dulu."
'iya Ma... Ma hari ini intan langsung pergi aja ya, gak perlu kasi uang saku lagi, karna uang kemarin masih ada," seru ku pada mama yang hampir masuk kamar mandi. Aku sengaja bicara begitu karna takut memintanya pada Papa selama ini Papa yang selalu memberi uang saku kalau mama kadang-kadang saja.
"Tumben hari ini Intan bersikap kalem," cibir mama sambil nyosor pergi ke kamar mandi.
Sebelum papa bangun aku harus pergi secepatnya. Aku ngebut menyelasaikan sarapanku aku sengaja ambil nasi sedikit biar cepat selesainya.
__ADS_1
Diam-diam aku pergi ke kamar Bibik aku meminjam uang padanya. Bagaimana bisa aku pergi tanpa uang saku bisa-bisa mati kelaparan aku. Aku telah berbohong pada mama bilang uangku masih ada padahal satu sen pun tiada sisa. Tidak lupa aku berpesan pada bibik untuk tidak memberitahu Mama dan Papa aku janji akan membayar nya besok. Bibik pun mengiyakan permintaan ku.
Tanpa menunggu supir lagi aku sudah ngacir pergi ke halte menyetop angkot.