Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Tiba-tiba kangen Reyhan.( Penelpon misterius)


__ADS_3

-Aku melihat gawai yang dari tadi sepi ku raih di atas kepalaku. "Hem pantas saja sepi, ternyata dia mati." Aku beranjak bangun mencari changer di dalam tas ku dan ku colokin dan langsung menyala. Aku menunggu hingga setengah jam kemudian aku menghidupkannya kembali. Aku kaget melihat banyak panggilan tak terjawab dari Mama dan dari Reyhan juga yang paling mengagetkanku ada panggilan tak terjawab dari Bara.


Aku membaca ulang nama itu memang benar dari Bara. Masa sih ia menelponku ada perlu apa dia sama ku lagi? bukankah hubungan kami sudah selesai disaat itu. Aku mengabaikannya dan menelpon balik Mama. Mama tidak mengangkatnya, mungkin ia sudah tidur.


Aku pun menggeser nama-nama kontak di gawai ku, aku melihat satu nama yang tidak asing bagiku, ingin menelpon tapi malu. Satu nama buatan kusendiri Si Kampret. Yah, itu nama Reyhan yang kunamai pada kontak ku. Aku tertawa sedikit mengingat nama itu. Tapi, tiba-tiba aku sedih, jujur aku kangen sama dia entah apa artinya aku pun tidak tau dari tadi seakan-akan dia ada juga di desa Nenek. Tapi aku berpikir itu tidak mungkin.


Ngapain juga ia menyusulku sampai sejauh ini. Sepertinya tidak mungkin juga Reyhan gak gitu orang nya ia rada cuek padaku apalagi semenjak aku kenal Bara ia menjaga jarak denganku.


Tiba-tiba gawai yang kumainkan dari tadi berdering, secepatnya aku menekan tombol hijau di layarnya.


📞"Halo ini dengan siapa?" ucapku bertanya. Memang nomor itu baru di kontak ku. Penelpon itu tidak menjawab dan setelah mendengar suaraku seketika itu ia mematikannya.


Beberapa kali ia menelpon namun tidak ada suara aku pun mulai bosan dengan hal itu aku mengirim pesan dan ia cuma membacanya tapi tidak mau membalasnya. Aku terdiam kebingungan mungkin saja itu nomor nyasar aku pun menghapusnya.


Setelah ku menghapusnya nomor itu menelpon ku lagi. "Siapa sih, yang iseng malam-malam gini? gak ada kerjaan banget sih!" gerutuku sambil menghapus nomor baru itu lagi. Setelah aku mengirim emoji marah barulah ia menghentikan panggilannya. Aku pun merasa lega dan tenang. Aku berusaha memejamkan mataku dan tanpa aku sadari aku pun terlelap di buai mimpi.


Kurasakan angin membelai wajahku dengan nyamannya aku menarik kembali selimutku, aku pun terlelap kembali. Tapi tidak lama kemudian aku merasakan kehadiran seseorang sepertinya ia membuka jendela kamarku itu pasti Nenek, pikirku.


"Ayo bangun ini sudah pagi Intan!" ucapnya sambil menepuk pantatku.


Aku menguap melihat Nenek berdiri di depanku. Aku masih enggan bangun terasa masih ngantuk dan berat untuk ku membuka mata.

__ADS_1


"Masih ngantuk Nek," ucapku.


"Dasar pemalas!" timpalnya. Nenek menarik selimutku dan menggelitikku agar aku segera bangun.


"Nenek geli ...!" ucapku tidak tahan. Nenek menertawai ku, aku pun jadi tidak napsu lagi untuk tidur. Aku bangun menyusul Nenek di dapur katanya pagi ini dia membuatkanku sarapan spesial yang pasti enaklah. Aku semangat mengikuti Nenek.


Saat aku mengambil cangkir untuk minum Nenek langsung merebutnya dari tangaku. "Nek kenapa di rebut cangkirnya aku mau minum," ucapku parau.


"Hem ... basuh muka dulu, dan sikat gigi baru boleh minum," ujarnya.


Astaga Nenek kayak Mama saja, sama-sama cerewet gerutuku sambil pergi ke kamar mandi. Sekejap saja aku kembali lagi di meja makan.


"Intan udah belum sikatnya?" tanya Nenek kaget melihatku tidak lama sudah nongol lagi di hadapannya.


"Kok cuma sebentar si?"


"Ngebut Nek. Tapi, udah bersih kok," ucapku sambil menunjukan gigiku.


'Intan-intan, kebiasaan persis seperti ayahmu kalau sikat gigi pakai hitungan detik udah selesai," ujar Nenek menyamakanku dengan Papa.


"Iya dong Nek, aku kan anak Papa. Abisnya gak tahan rasa pastanya pedas Nek,.mual juga kalau lama-lama," ucap Intan beralasan.

__ADS_1


"Yah terserah kamu saja lah. Kalau udah sikat gigi baru boleh minum," ucap Nenek terseyum.


Aku pun meraih cangkir yang barusan Nenek rebut tadi dan minum aku merasa lega kerongkonganku terasa basah dan segar air Nenek sangat segar karna dekat dengan pegunungan.


"Uhg, segarnya air ini," ucapku.


Aku pun membuka tudung saji dan aku melotot melihat isi dalam tudung saji tersebut. Ada makanan kesukaanku dan kue kesukaanku juga.


"Wah ...!" ucapku semangat menatap lauk kesukaanku juga ada yaitu ayam krispi.


Sepertinya Nenek begitu suka dengan kehadiranku hingga pagi-pagi ia sudah menyiapkan aneka macam lauk dan kue untuk ku.


"Lauknya kelihatan sedap-sedap Nek, makasih yah sudah menjamu Intan."


"Iya sama-sama. Nenek senang sekali kamu datang ke sini. Nenek rindu pada cucu Nenek sudah lama tidak makan sama-sama."


"Iya ya Nek, sudah lama banget terakhir masih pake putih biru. Intan juga rindu Nek," Intan memeluk Neneknya.


"Sudahlah pelukannya di sambung nanti aja, kita makan lagi yuk," ucap Nenek melepaskan pelukanku.


"Iya ayo Nek, Intan juga sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi masakan Nenek," ujarku sudah siap mengambil nasi beserta lauknya.

__ADS_1


Keduanya mulai makan dan menikmati makanan yang di hidangkan.


__ADS_2