Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Timbul masalah


__ADS_3

Dugaan ku benar ternyata Bara cemburu melihat kejadian kemarin saat ini aku melihat perubahan sikapnya yang tampak dingin terhadapku. Bara mengacuhkan ku ia sibuk dengan para fansnya. Aku di buatnya cemburu ia tampak lebih nekat main rangkul dan bisik-bisik mesra.


Aku pun pergi kebelakang halaman sekolah untuk mengalihkan pikiranku. Aku duduk melamun seorang diri merenungi nasibku. Baru kemarin jalan sama Bara "Bara kenapa bisa cemburu sih? aku sama Reyhan kan udah lama temenan...," ucapku sendiri merenungi nasibku.


Lagi eneknya melamun tiba-tiba Reyhan datang mengejutkan aku.


"Dar... lagi ngapain sih duduk sendiri sambil bengong? kemarin tampak heppy sekarang galau parah," ledek Reyhan.


"Reyhan ngagetin aja!" sontak aku menghadiahkan dia tinjuan maut.


"Auw ... sadis banget sih jadi cewek bawaan nya mau ninju mulu..." keluh Reyhan.


"Kebiasaan ya kamu ngagetin. Apa kamu mau membuatku mati jantungan ya?" cetusku emosi.


Reyhan menjerit-jerit kesakitan.


"Rasain tuh, makanya jadi orang jangan suka usil."


"Usil apa sih? orang cuma negur baik-baik, tapi kamu nya aja lebay pake kaget-kaget segala."


"Astaga Reyhan, sikap kamu tadi kamu bilang negur? itu ngagetin tau!" aku membuang muka ke arah Reyhan.

__ADS_1


Kenapa-napa sih Reyhan selalu muncul di saat yang tidak tepat!" keluhku.


Akhir-akhir ini kamu marah mulu bawaannya ada apa sih! aku kesepian nih gak ada kawan tadinya aku pengen ajak kamu ke kantin."


"Gak ah, Rey. Aku kenyang lagi gak ada napsu juga mau makan."


"Gak napsu kenapa? kamu sakit?" tanya Reyhan memperhtikan raut wajah Intan yang murung.


Aku menggelengkan kepalaku kembali manyun.


"Kok manyun lagi? Ada masalah sama Bara, ya?" tebak Reyhan.


Kok Reyhan tau sih batinku.


Aku terdiam dengan tatapan kosong ke depan menatap segerombolan anak cewek-cewek di sana. Mereka sibuk bersenda-gurau dengan teman-temannya.


Kenapa aku tidak Seperti mereka yang selalu ceria setiap saat, di kelilingi banyak teman lagi. Di samping ku cuma ada reyahan. Aku menghembuska napas dengan kasar.


Reyhan mengikuti tatapanku ia pun mendelikkan matanya ke arahku.


"Udahlah gak usah kelamaan bengong begitu, cerita aja apa masalahnya barang kali aku dapat bantu," tawar Reyhan.

__ADS_1


Setelah lama aku terdiam aku pun menceritakan semua unek-unek yang ada di hati dan pikiranku Seketika itu pun aku merasa plong.


Reyhan mendengar dengan serius tanpa berkomentar apa-apa. Setelah itu kami terdiam sampai istirahat habis kami tetap diam dan masuk kelas masing-masing.


Dua jam kemudian kelas sudah selesai anak-anak berhamburan keluar kelas, untuk pulang kerumah mereka masing-masing. Tapi tidak denganku aku masih berdiam diri dikelas karena aku tidak mau bertemu Bara. Aku membiarkan semua orang pulang setelah sepi barulah akan keluar kelas.


Tiba-tiba di luar kelas aku mendengar dua orang yang sedang bercakap-cakap seperti nya mereka sedang bertengkar. Aku mengintip dari tembok sekolah, dengan kagetnya aku melihat kedua orang itu adalah Reyhan dan Bara.


"Hah, mereka lagi bicarakan apanya? sampai berdebat gitu." bisik ku.


Intan terbelalak saat Reyhan menyebut-nyebut namanya. Kok mereka menyebut-nyebut nama aku si? Aku masih mengintip sambil menajamkan pendengaran ku. Aku tidak menyangka kalau Reyhan menceritakan semuanya pada Bara kalau aku kesal karena sikapnya.


"Aduh kenapa sih Reyhan bilang kekesalanku pada Bara? itu kan tidak perlu di omongin. Pasti bara marah besar padaku," lirihku kesal.


Semakin lama pertengkaran semakin meningkat memuncak hingga terdengar mereka saling memaki.


"Duh gawat ini aku harus bagaimana apa aku keluar aja nya buat melerai mereka atau aku diam saja di sini sampai mereka selesai berdebat?" Aku jadi bingung kenapa masalah ini jadi runyam?


Aku mendengar suara langkah mendekati tempat persembunyian ku, ternyata itu langkah kaki Bara. Aku bersembunyi membalikkan tubuhku agar tidak nampak oleh nya. Setelah Bara lewat Reyhan ikut menyusul aku melihat raut wajah Reyhan tampak garang. Belum pernah aku melihat Reyhan segarang itu, iya memukul tembok dinding sekolah sedangkan Bara juga marah-marah terdengar memaki-maki. Mereka pergi menuju jalan berlainan arah.


Aku tidak berani keluar dari tempat persembunyian sampai mereka benar-benar tidak kelihatan lagi.

__ADS_1


Aku jadi dongkol dengan sikap Reyhan seharusnya ia tidak membicarakan kekesalanku pada Bara. Aku jadi ragu dengan sikap Bara tadi sebenarnya ia suka atau tidak si padaku?


__ADS_2