
"Intan apa kita beneran mau pulang?" tanya Reyhan padaku.
"Iya aku gak tahan lagi Rey...!" ujarku sedih.
"Yah sayang banget, padahal filmnya baru aja di mulai." Reyhan keberatan namun merasa kasian padaku yang berpura-pura sakit.
"Kalau kamu masih mau nonton kamu nonton sendiri aja, gak apa-apa kok aku bisa pulang sendirian Rey... sayang juga kan karcis nya udah di beli," sahutku.
"Gak deh Tan, aku ikutan pulang aja. Gak tega aku membiarkanmu pulang sendirian," timpalnya.
"Ya udah, ayo pulang!" ajak ku tidak sabar lagi air mata yang ku bendung dari tadi hampir lolos di pipiku namun masih ku tahan-tahan aku tidak mau kelihatan lemah di hadapan Reyhan.
Reyhan terpaksa bangun dan kami pun beranjak dari tempat duduk akan segera keluar dari gedung itu.
"Tunggu Tan, itu bukannya Bara?" ternyata Reyhan baru saja melihat Bara asyik berduaan dengan cewek lain mana mesra banget lagi membuat aku tidak sanggup untuk melihatnya.
"-Kok Bara bisa sama Bella sih! apa mereka pacaran? Bara memang keterlaluan! itu kan alasannya kamu ngajakin aku pulang?" tatap Reyhan padaku merasa curiga.
Aku terdiam mataku tampak berkaca-kaca.
"Dasar cowok tidak tau malu! tidak punya perasaan, berani sekali dia bermesraan dengan cewek lain. Biar aku melabrak mereka Tan. Kamu tunggu di sini." Reyhan mulai memanas melihat kelakuan Bara.
"Reyhan! Tunggu! Jangan... biarkan saja mereka, aku gak kenapa-kenapa kok mending kita balik saja," pintaku.
"Nggak Tan, cowok seperti dia harus dikasi pelajaran biar gak kebiasaan," sahut Reyhan marah.
"Sudah lah Rey, aku gak mau bikin keributan di sini Kita balik aja yuk...!" ajakku menarik tangan Reyhan aku berusaha membujuk Reyhan agar tidak bertindak.
Untung Reyhan menurut kami pun keluar dari ruang bioskop itu. Aku menyembunyikan wajah ku dari Reyhan yang tentu saja ia iba dengan perasaanku. Sejenak kami terdiam sampai diparkiran.
"Sebelum pulang kita makan dulu yuk...," ajak Reyhan memecah keheningan.
__ADS_1
"Aku mengangguk pelan. Reyhan menghidupkan motornya dan kami pun jalan. Selama perjalanan kami membungkam. Aku tidak bisa menahan rasa sakit hatiku ingin aku menumpahkan semua kesedihanku di pundak Reyhan. Sesekali aku sandarkan kepalaku dipundaknya tapi aku merasa malu dan kuangkat lagi, takutnya Reyhan mengetahui hatiku yang sedang hancur saat itu.
"Tan, apa kamu baik-baik saja?" tanya Reyhan padaku. Mungkin ia curiga melihat bayanganku di kaca motornya tampak menyedihkan.
"Aku baik-baik saja kok Rey... jalan aja...!" pintaku.
kasian banget kamu Tan aku tidak tega melihat mu sedih seperti itu. Dasar brengsek kamu Bara aku akan memberimu pelajaran. lirih Reyhan membatin.
kami pun berhenti di sebuah rumah makan dan kami makan di sana.
Setelah makan kami lanjut jalan menuju rumah. Selama di perjalanan aku diam dan Reyhan berusaha mencairkan suasana ia mengajakku becanda tapi aku selalu diam sibuk dengan pikiran ku yang masih gabut.
Aku menulis dipundak Reyhan dengan jariku mengukir sebuah nama Bara dan ku acak-acak hingga Reyhan merasa geli.
"Kamu ngapain sih Tan, di pundakku? geli tau...!Kamu masih kesalnya soal tadi?" tanyanya.
"Jangan di bahas lagi Rey, aku muak mengingatnya," cetusku emosi
Reyhan menghela napas panjang ia berusaha menenangkan aku. Ia tau kondisiku saat itu sedang kacau.
"Gak kok Rey, aku biasa aja..." sahutku lemah.
Reyhan terseyum melihat kebohongan diriku.
"Gak usah pura-pura kuat gitu Tan, aku tau kok sekarang hatimu sedang kacau. Kalau mau nangis, nangis aja, gak usah di tahan-tahan gitu," ucap Reyhan.
"Aku gak nangis kok Rey...," ucap ku berbohong. Butiran bening yang kutahan-tahan akhirnya terjatuh juga bersama luka yang Bara tancapkan di lubuk hatiku rasanya sakit banget.
"Tu kan menangis?' ujar Reyhan mengetahui kebohonganku yang pura-pura kuat padahal remuk.
Tangisan ku pun pecah di pundak Reyhan.
__ADS_1
"Menagis lah! Intan, luapkan semua kesedihanmu dipundakku aku akan selalu ada buat mu bersandarlah!" ujar Reyhan yang membuat aku semakin tersedu-sedu.
Reyhan berhenti mengendarai motornya ia menenangkanku dipelukannya sejenak aku merasa tenang dalam pelukan Reyhan masih sugukan.
Kami membungkam entah apa yang sedang Reyhan pikirkan saat itu. Tapi yang jelas aku merasa nyaman berada di pelukan Reyhan. Segala keluh-kesah ku luapkan air mataku mengalir membasahi kaus Reyhan. Aku pun tersentak buru-buru aku melepaskan diriku dari tubuh Reyhan.
"Maaf Rey... kaus mu basah gara-gara air mataku..."
"Gak apa-apa kok Tan, kalau mau nagis lagi aku siap menampung air matamu di ember," ledek Reyhan. Dia menertawakan aku yang masih asyik menangis. dengan mengajakku bercanda dan mencibirku.
Tenyata gadis galak bisa juga menangis ya ledeknya padaku. Seketika itu aku memukuli dada Reyhan dengan pelan. Aku pun ikutan terseyum mendengar kelakarnya.
Reyhan ada-ada saja sempat-sempat nya becanda saat aku terpuruk begini dengusku.
Seketika itu aku merasa lega dan tidak sedih lagi.
"Bagaimana sekarang apa mau lanjut nagis atau jalan...!" ujar Reyhan memberikan pilihan.
"Jalan aja...!" sahutku kembali bersemangat.
"Mumpung ada turunan sekarang saat nya kamu melepaskan semua kesedihanmu itu Tan. Rentangkan kedua tanganmu dan berteriaklah sekuat mungkin hal itu akan membuatmu lega percaya deh," ujar Reyhan memberi saran.
Aku menurut arahan dari Reyhan. Seketika itu pun aku berteriak sekeras mungkin. Aku pun merasa plong dan lega.
"Makasih ya Rey... sudah memberi saran konyol ini," ucapku sambil tersenyum. Tenyata usul kamu jitu juga sekarang aku merasa plong ringan bagai tanpa beban.
"Syukurlah kalau begitu. Sebentar lagi kita akan sampai udah lupakanlah apa yang kau lihat tadi anggap aja kamu tidak melihat apa-apa. Ingat setelah sampai rumah harus langsung tidur jangan sampai larut dalam kesedihan yang tidak berguna itu," ujar Reyhan menasehati.
Baik bos! ujarku bercanda. Reyhan bukan aja baik ia juga peduli padaku. Itulah yang membuat aku suka berteman dengan nya ia tife cowok kalem tidak pernah kurang ajar pada cewek ia sangat menghargai dan menghormati cewek wajar aja ia disukai Mama dan Papa.
Bagitu kami sampai Mama dan Papa menyambut ramah kedatangan kami. Lebih lagi pada Reyhan. Papa masih menawarkan dia untuk menemani ngobrol. Namun Reyhan menolaknya secara halus katanya ia sudah ngantuk.
__ADS_1
Aku pun pamit pada Reyhan sementara Papa masih mengajak Reyhan ngobrol sebentar.
Aku menoleh sambil geleng kepala melihat Papa dan Reyhan seperti jarang ketemu aja padahal hampir tiap jam ia selalu nongkrong berdua di rumah. Sepertinya kalau mereka bertemu terdengar heboh dan mereka pasti cikikikan.