Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Hilang kendali


__ADS_3

Di perjalanan pulang menuju rumah Reyhan mendapatiku tengah menagis aku menghapus air mataku.


"Intan ayo kita pulang sama-sama," ajak Reyhan.


Tanpa menunggu lama lagi aku langsung naik di boncengannya. Reyhan menghidupkan motor nya Kami pun jalan.


"Intan kamu kok telat pulangnya ngapain aja?" tanya nya.


"Gak ngapa-ngapain kok, aku sengaja pulang belakangan. Kalau kamu?" aku balik bertanya pada Reyhan.


"Aku tadi latihan piano karna minggu depan sekolah kita mau adakan lomba apa kamu ikut?" tanyanya.


"Tidak, aku tak tertarik untuk ikut lomba."


"Oh begitu ya... kamu kok kelihatannya kusut banget ada apaan lagi?" tanya Reyhan.


"Tidak ada apa-apa kok, ayo jalan saja jangan banyak tanya Rey, aku pusing banget nih!" keluhku.


"Hem... ya sudah. Oya nanti malam jalan yuk ada festival jajanan Nusantara di pasar, kota kita terpilih dan masuk rekomendasi jajanan paling enak lho," ucap Reyhan terus mengajakku ngobrol. Padahal aku telah memperingatkannya tapi ia tetap berbicara tidak mau diam, membuat ku merasa dongkol.


"Ada apa sih Tan, biasanya kalau masalah makanan kamu selalu semangat, katakan intan kamu masih kesal sama Bara ya...?" tanya Reyhan.

__ADS_1


"Iya Rey, aku masih kesal dan jika kamu bicara terus terpaksa aku akan melampiaskan kekesalanku ini ke kamu lho..!" aku sudah tidak tahan mendengar Reyhan terus saja bawel mulutnya tidak mau diam.


"Maksudnya?" Reyhan bingung.


"Maksudnya ini lho...!" aku menancapkan tinjuan ke arah perut Reyhan hingga motor kami berjalan tidak karuan. "Intan kenapa tiba-tiba mukul sih!" cetusnya. Reyhan hilang kendali, bruk... motor kami pun nabrak pohon Untung tidak kenapa-kenapa motornya tapi kami terluka. Reyhan mencium aspal kena di jidatnya dan kaki ku juga mencium aspal jadi lecet. Jidat Reyhan berdarah aku pun panik kakiku juga berdarah.


"Aww sakit, ini semua karna kamu Intan!" gerutu Reyhan bicara dengan ketusnya menyalahkan aku.


"Lo, kok aku... kamu tuh nyerocos terus, bikin nyesek aja tau!" hardikku.


"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Reyhan.


"Kaki ku saja sih, sudah lah aku masih kuat kok kita lanjut lagi jalan," ucapku berpura-pura kuat.


"Kayaknya gak bisa deh Tan," ucap Reyhan tiba-tiba.


"Kenapa?"


"Tali Remnya putus," jawabnya. Reyhan membuat ku panik.


"Hah, jadi?"

__ADS_1


"Terpaksa kita dorong ni motor!" ujar Reyhan lemah.


"Maksudmu kita akan jalan kaki sampai rumah?" ucapku kaget.


"Yah terpaksa, mau gimana lagi..."


"Aduh aku capek gak mau jalan kaki Rey...!" keluhku.


"Kalau gak mau yah terbang aja, sana... malam-malam gini kan gak ada angkot mau naik apaan?"


"Aku mau ngojek aja!" sahutku.


"Coba aja tunggu, kalau ada. Aku jalan dulu," pamit Reyhan.


"lho kok ninggalin sih Rey...!" cetusku.


"Katanya mau naik Ojek!"


"Ojek ya kan belum datang Rey, Ayo tungguin aku dulu sampai ojeknya datang plis...," aku memohon.


"Enak saja kalau ojeknya datang, aku sendirian dong...!" ucap Reyhan menolak. Reyhan terus berjalan menyeret motor nya. Aku menyusul di belakangnya.

__ADS_1


"Sudah lah bantu dorong aja sini! ini semua juga gara-gara kamu tau!" cetus Reyhan tak mau tau apapun ucapanku.


Terpaksa aku mengikutinya dari belakang karna dari tadi tidak ada satu kendaraan yang lewat aku pun terpaksa harus berjalan kaki sampai rumah. Reyhan terseyum mencibirku.


__ADS_2