
Aku sampai di kampung Nenek, berjalan menyusuri jalan rumah Nenek tidak lama kemudian aku pun sampai di jalan rumahnya aku menatap bangunan tua di kejauhan. Sejenak aku memperhatikan rumah Nenek yang masih seperti yang dulu. Rumah nampak sepi hanya ada suara burung. Pepohonan masih ada berdiri kokoh di depan dan belakang rumah Nenek.
Aku memasuki halaman depan rumah Nenek terasa sejuk sama seperti dulu, sejenak aku terdiam memandangi sebuah pohon mangga, yang pada saat kecil dulu aku dan Bara sering manjat pohon itu. Kami selalu berlomba-lomba siapa yang duluan dapat yang paling tinggi. Lalu saat perlombaan itu terjadi Mama dan Nenek teriak-teriak menyuruh kami segera turun. Alangkah lucunya bila teringat di masa lalu kenakalan kami berdua.
Tidak ada yang berubah. Semuanya masih seperti dulu, saat terakhir aku meninggalkan rumah itu semuanya masih tetap sama.
"Intan...! apa itu kamu?" ucap seorang perempuan setengah baya padaku. Ia menajamkan penglihatannya tampak senyumnya mengembang di wajahnya. Dia adalah Nenekku ibu dari Ayahku. Aku sangat merindukannya. Sontak aku tersenyum saat melihatnya dia langsung mendekatiku seakan tidak percaya melihat kedatanganku.
"Nenek ...!" aku memeluknya.
Duh, aku kangen banget sama Nenek hampir 3 tahun tidak bertemunya. Ia pun membalas pelukanku dan mengelus ku dengan lembut.
"Wah, cucu Nenek sudah sebesar ini?" ujar nya seakan tidak percaya ia memandangi seluruh tubuhku. Aku pun tertawa melihat reaksi Nenek.
Nenek mengajak ku masuk ia menyiapkan aku kue buatannya sendiri Nenek paling jago buat kue. Semua kue buatan Nenek aku suka. Kami saling mengobrol Nenek bercerita banyak hal menayakan kabar Mama dan Papa dan lain-lain nya.
__ADS_1
Tidak terasa sudah siang. Nenek buru-buru ke dapur menyiapkan makan siang. Aku sengaja pergi ke depan ingin melihat-lihat pemandangan di sekitar rumah Nenek. Angin sepoi-sepoi yang berhembus terasa segar dan sejuk aku teringat masa kecil dulu. Di saat angin berhembus kami suka main kincir angin dari dedaunan lalu kami berlari-lari sehingga kincir angin kami berputar dan kami pun tertawa. Ah terlalu banyak kenangan di masa kecilku di rumah Nenek, tidak terasa air mataku mengalir apalagi teringat saat bermain dengan Bara di bukit rumah Nenek.
Aku melangkahkan kakiku di belakang rumah Nenek. Aku memandangi bukit itu penuh dengan kenangan kami berdua. Rasa sakit kembali mengisi hatiku. Raut wajahku kembali murung.
Terlalu banyak kenangan indah di sini, aku tidak kuasa menahan air mata yang terus mengalir.
Sepanjang siang itu aku nongkrong di teras rumah Nenek sambil duduk-duduk menikmati suasana rumah Nenek. Kenangan demi kenangan muncul dalam ingatanku. Setiap tempat itu punya kenangan tersendiri bagiku. Semua kenangan tentang Bara. Aku menghela nafas panjang.
Kalau begini kapan aku melupakan Bara terlalu banyak kenangan indah di sini aku mendesah menepis kenangan indah bersama nya.
Nenek memanggilku dan aku pun masuk dalam rumah ternyata Nenek mengajakku makan Wah masakan Nenek sungguh tampak lezat semua kami pun makan bersama.
Menjelang sore aku pergi ke depan rumah Nenek sambil melihat-lihat disekitar rumah Nenek ternyata ada dua tiga rumah yang baru di sini aku melihat asa yang memperhatikan aku dari kejauhan di sebuah rumah depan rumah Nenek. Seorang itu menutup tirai nya saat aku balik menatapnya. Mungkin ia malu kedapatan memperhtikan aku.
Nenek datang mengejutkan aku. "Intan, apa kamu mau kue lagi?" tanyanya.
__ADS_1
"Kue? boleh Nek," ujarku aku pun mengambil satu kue di piring yang di bawa Nenek di hadapanku.
Aku bertanya pada Nenek tentang tetangga depan rumahnya. Nenek pun bercerita padaku tentang tetangga barunya itu. Setelah bercerita Nenek mengajakku masuk karna hari mulai gelap.
Nenek mengantarkan aku ke kamar atas. Di loteng rumah Nenek, aku menengadah menatap langit gelap nampak bintang satu per satu bermunculan mengelilingi bulan yang tampak bulat.
"Sungguh malam yang sempurna," ucapku sendiri sambil menatap langit. Aku kagum malam ini langit sangat bersih di penuhi pijaran bintang-bintang.
Sekilas muncul kembali di benakku bayangan Bara yang selalu hadir di kesendirianku. Satu persatu kenangan kembali bermunculan dalam pikiranku.
Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Tidak aku tidak mau mengingat Bara lagi.
Ku tepis semua pikiranku dan ku alihkan. Aku tidak boleh memikirkan Bara terus. Jika itu ku kulakukan kapan aku lupa sama dia? Semuanya sudah berakhir. Bara bukan lagi pangeran yang ku impikan sejak dulu itu, dia tidak pantas untuk ku karena dia telah mengkhianati ku.
Aku menerawang. Tiba-tiba muncul di pikiranku.
__ADS_1
"Reyhan kemana ya, kok dari kemarin dia tidak menghubungi ku sih?" tanyaku penasaran.