Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Dinner


__ADS_3

Aku jadi bingung sendiri memikirkan ucapan Mala dan Reyhan apa benar Bara seorang penipu? ah rasanya sulit di percaya saat ini aku sangat mencintai Bara jelas aku tidak mau temakan pembicaraan mereka mereka yang sudah keterlaluan menjelekan-jelekan Bara. Tapi bagaimana jika ucapan mereka benar, aku jadi serba salah yang mana yang harus ku percaya akupun jadi dilema.


Hari ini Bara janji akan ngajak aku jalan aku bingung menginjakan nya atau menolaknya jujur aku sangat rindu pada Bara. Tapi ucapan Mala dan Reyhan selalu saja muncul di benakku. Aku jadi pusing tujuh keliling mondar-mandir di kamarku.


Mama sudah beberapa kali meneriaki aku untuk makan malam bersama aku enggan untuk menjawab mama karena pikiranku lagi suntuk banget memikirkan masalah hati ku.


Antara hati dan pikiranku saat ini sedang mengalami peperangan. Di satu sisi aku ingin sekali jalan dengan Bara tapi di sisi lainnya aku juga takut di kecewakan Bara lagi.


"Kenapa sih aku mengalami cinta yang rumit seperti ini kenapa juga harus ada Mala dan Reyhan yang selalu menggangguku urusan percintaan ku dengan Bara?" pikirku. Setelah berpikir sejenak akhirnya aku memutuskan akan menerima tawaran Bara saja.


Aku tidak peduli lagi dengan ucapan Mala dan Reyhan paling mereka berdua iri melihat aku pacaran dengan Reyhan secara Mala kan awal nya juga ngepans sama Bara, mungkin saja ia juga tertarik ingin jadi pacar Bara itu sebabnya ia mencoba menghasut aku. Kalau Reyhan... Reyhan kan memang selalu usil padaku, buat apa nurutin ucapan dia, toh selama ini Bara baik-baik saja ia selalu bisa buat aku bahagia.


Semoga saja malam ini tidak mengecewakan dan aku bisa menikmati dinner ku sama Bara.


Aku keluar dari kamarku sudah siap dandan dan berpakaian rapi tampak perpeck di pandang mata.


Mama terpukau melihat penampilanku.


"Wah Intan kamu kelihatan cantik malam ini mau kemana sih?" tanya Mama.


"Biasa Ma intan ada makan malam spesial malam ini. Bara mengajakku makan malam di luar, boleh ya Ma, Pa...?" aku meminta ijin pada kedua orang tuaku.


Mama dan Papaku saling berpandangan dan saling lirik satu sama lain aku jadi bingung melihat mereka. Sepertinya mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Ma... Pa... bagaimana? boleh tidak??" tanyaku tidak sabar.


"Tidak boleh Intan!" keduanya menjawab bersamaan.


Waduh kok kompak banget sih mereka, hadeh mana jawabannya mengecewakan lagi. Aku menepuk jidatku.

__ADS_1


Kenapa tidak boleh Ma, Pa? tanyaku kesal.


Udah cantik begini masa sih gagal jalan-jalan nya ayo dong Ma, Pa ijinkan intan kali ini aja...? pliss... sebentar lagi Bara menjemput aku kalau tidak jadi Bara pasti kecewa... aku mewek di hadapan Mama dan Papaku sambil berharap semoga mereka luluh mau mengijinkan aku jalan sama Bara.


"Intan ini kan bukan hari libur, kenapa mau keluar rumah makan malam nya? kenapa gak ajak Baranya makan malam di rumah kita aja..." ujar Papa keberatan.


"Hem...gak mau! intan mau nya di luar Pa, bukan di rumah. Apaan di rumah, gak ada apa-apanya," cetusku cemberut.


Mama dan Papa menarik napas panjang mereka sangat kuatir padaku makanya gak mau ijinkan aku jalan.


"Mama dan Papa gak usah kuatir, intan bisa kok jaga diri dengan baik kami juga jalannya gak lama kok Ma, Pa boleh ya... plis, plis...!" ujarku memohon.


Mama dan Papa tidak sanggup mendengar permohonanku akhirnya mereka menginjinkan aku. Aku pun merasa senang langsung memeluk Mama.


Bara sudah datang menjemputku terdengar dia mengucap salam pada kami. Papa langsung pergi ke depan menemui Bara aku dan Mama ikut menyusul di belakang.


Mama dan Papa pun mengijinkan kami pergi.


"Kami pergi dulu ya Ma, Pa!" pamit ku.


"Hati-hati ya... ingat pulang nya jangan malam-malam!" pesan Mama.


"Iya Ma," sahutku sambil berjalan menuju motor Bara. Mama dan Papa masih memandangi kami berdua sampai kami tidak kelihatan lagi.


Bara membawaku mengebut karna waktu kami cuma sebentar. Ia menyuruhku untuk berpegangan di pinggangnya aku merasa sungkan tapi mau.


Kami terus melaju hingga berhenti di sebuah kafe.


Bara mengandeng tanganku memasuki kafe tersebut. Setelah sampai di tempat duduk kami di samperin oleh pelayan untuk memilih daftar menu makanan dan minuman yang akan di pesan.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa?" tanya Bara padaku.


"Terserah kamu aja. Aku ngikut kamu aja apapun boleh," ucapku pasrah aku gak terlalu pemilih makanan, aku makan semua makanan. Apalagi di kafe makanannya pasti enak-enak semua. Aku yakin pilihan Bara pasti yang terbaik.


Tidak lama kemudian pelayan datang mengantarkan makanan yang kami pesan terbukti pilihan barat memang terbaik dia memesan Stik dan Snack yang ku suka dan Sate ayam bumbu pedas yang pastinya menggugah selera plus minuman segar. Kami pun makan bersama.


"Tau aja sih kamu aku suka pedas," ucapku sambil memulai makan.


"Tau dong selera kita kan sama...," ucap Bara sambil tersenyum menatapku.


Tiba-tiba ponsel Bara berdering kami tersentak dan berhenti makan.


"Kamu makan aja ya, aku angkat telpon dulu," ucap Bara meminta ijin padaku. Dia pun pergi menjauh dariku. Aku hanya memandangi kepergiannya.


"Siapa sih yang menelpon Bara ganggu aja," cetusku merasa kesal.


Bara bicara dengan penelpon aku memperhatikan dari jauh gerak-geriknya sepertinya Bara senang banget bicara dengan penelpon itu.


Setelah beberapa saat, makanan ku hampir ludes di piring Bara tak kunjung datang. Malah ia pergi ke arah toilet semakin menjauh dariku. Aku pun jadi gusar. Kenapa sih, jauh banget angkat telpon nya bikin curiga aja! batinku.


Aku celingukan melihat-lihat Bara tidak muncul-muncul. Timbul di benakku ingin menyusul Bara untuk memastikan dia masih telpon atau lagi ngapain di sana tapi rasanya itu terlalu memalukan akhirnya aku menunggu saja dengan pikiran yang tak tentu. Bara kok lama banget sih telponan nya siapa yang menelpon nya sepertinya asik benget.


Setelah menunggu beberapa saat aku tidak sabar lagi perasaanku sudah bercampur aduk antara jengkel dan penasaran. Aku pun mutuskan pergi menyusul Bara ke arah toilet.


Aku berjalan mengendap-endap dengan maksud hendak memastikan Bara lagi ngapain di toilet apa masih menelpon atau sedang BAB abis nya lama amat sih, makanan aku aja udah habis masa dia belum kembali juga. Aku melihat di sekeliling tidak ada Bara. "Hah, Bara kemana aja?" tanyaku sendiri.


Di toilet tidak ada di manapun tidak ada aku pun jadi kesal. "Kok bara menghilang sih, gak ada ijin padaku mau kemana." Aku kembali ke tempat duduk dengan hati yang gusar sambil celangak-celiguk melihat di semua sudut ruangan tersebut namun tetap aku tidak melihat sosok Bara. "Duh Bara kemana aja sih!" ujarku merasa resah.


Hampir setengah jam Bara menghilang aku jadi panik ditinggal sendirian di kafe itu.

__ADS_1


__ADS_2