
Lama aku menunggu jawaban dari Pak Sabari tentang nama keponakannya itu ia belum selesai menelpon aku pun bosan. Aku pamit pada Nenek untuk pergi ke arah sungai sebentar. Rasa penasaranku kian memuncak deringan ponsel tiba-tiba mengejutkan aku pandanganku beralih aku meraih ponsel di sakuku.
"Bara? ini tidak mungkin kenapa ia menelponku lagi?" Aku cuma melirik nama itu jujur aku ingin banget mengangkat panggilan darinya. Tapi, rasa di hatiku sangat berat untuk berbicara dengannya. Aku mengabaikan panggilannya setelah beberapa kali menelpon ia pun mengirim pesan padaku.
📩 Pliss angkat Tan, aku ingin bicara Penting ...!
Aku enggan membalasnya tulisannya cuma ku baca saja. Aku memasukkan ponselku kembali.
Aku mengalihkan pikiranku, Aku berdiri di belakang rumah Nenek sambil memandangi l pemandangannya sungguh indah. Sejenak aku terlena melihat lukisan alam yang tampak mempesona itu. Aku duduk di rerumputan sambil melayangkan pandangan jauh ke depan ke puncak bukit.
Di sana aku dan Bara selalu bermain bersama terlintas bayangan Bara yang mengisi pikiranku lagi. Mataku mulai berkaca-kaca. Kenangan demi kenangan satu persatu muncul saat melihat beberapa sudut tempat itu. Semua tentang Bara aku mengambil ponselku yang berdering lagi. Ternyata itu dari Bara lagi aku tidak kuasa menahan butiran bening yangku bendung seketika tumpah di pipiku.
Aku pun memutuskan untuk mengangkatnya untuk yang terakhir kalinya.
📞"Untuk apa lagi kamu menghubungiku Bara? untuk apa lagi? hubungan kita sudah selesai Bara dan aku akan membuang semuanya di tempat ini. Tempat dimana kita pertama kali bertemu. Di tempat ini pula kamu telah meninggalkanku tanpa pesan. Bertahun-tahun aku berharap kita akan bertemu lagi di tempat ini tapi itu semua tidak terwujud. Tapi Penantianku tidak sia-sia aku bertemu denganmu lagi. Sayang, kebahagiaan tidak kudapatkan kembali Kamu telah menyakiti hatiku lagi," ucapku melirih.
📞"Maafkan aku Intan, aku menyesal," lirihnya.
📞"Penyesalanmu tidak ada artinya lagi. Bara ... Sudah lah berhenti menghubungiku lagi, aku ingin tenang tanpamu." ucapku mengakhiri pembicaraan. Aku mematikan ponselku dan menyimpannya kembali.
"Aku benci Bara ...!" jeritku.
Emosiku memuncak jika teringat perbuatan Bara yang membuatku sesak. Hari ini, ditempat ini aku akan mengakhirinya semua kenangan semua kekecewaan, sakit hati dan emosi. Aku tumpahkan di tempat ini. Aku mengambil foto kenanganku bersama Bara. Aku menatapnya tajam ke arah foto itu, lalu aku meremas nya dan mencabik-cabiknya. Kebencianku kian memuncak saat aku memandangi foto itu aku membuangnya di arus sungai di depanku.
"Selamat tinggal Bara, selamat tinggal semuanya ...," Aku menandangi sobekan-sobekan foto itu, seketika itu pula aku merasakan kehilangan dan kelegaan.
Tiba-tiba aku dikejutkan deringan ponsel lagi, aku menatap layarnya aku lebih terkejut lagi melihat sebuah nama di layar itu panggilan itu dari Rayhan.
Secepatnya aku mengangkatnya tanpa basa-basi lagi aku langsung berbicara padanya.
📞"Reyhan? kamu dimana aku menghubungi kami sejak kemarin-kemarin. kenapa gak angkat Rey, aku butuh kamu saat ini ...!" lirihku sambil merengek.
📞"Kamu tidak usah kuatir tentang kehadiranku, karena aku akan selalu ada di sisimu Intan, Putri kesayanganku."
Desiran darah mengalir saat Reyhan mengatakan hal itu.
📞"Reyhan apa maksudmu?"
__ADS_1
📞"Kamu lihat di samping mu Intan!"
Aku pun menoleh, aku melihat tulisan dari bunga-bunga yang bertulisan I love You Intan berlian. Aku pun kaget.
📞"Reyhan ...!" teriakku.
Seketika itu panggilan di putuskan Reyhan. Aku melihat di sekeliling tempat. "Reyhan apa kamu ada di sini? aku merasakan kehadiranmu Reyhan. Reyhan kamu dimana?" aku memutari tulisan dari bunga-bunga itu. Tiba-tiba sebuah kecupan mampir di pipi kiriku. Aku memekik kaget. Ternyata Reyhan diam-diam telah mencium aku. Aku memerah tersipu malu.
"Reyhan ...! aku benci kamu ...!" ucap ku sambiln memukulinya. Tapi, ia tidak membalasnya malah ia tertawa senang. Seketika itu juga ia mendekapku sangat erat. Aku tenggelam di pelukannya aku terdiam kaku.
"Aku kangen sama kamu Intan," bisik Reyhan.
"Kangen banget."
Aku tak mampu berkata-kata, hanya tanganku yang bergerak perlahan melingkar di pinggang Reyhan. Aku pun memeluknya kembali sambil berkata "Aku juga kangen sama kamu Reyhan."
"Mulai saat ini kamu jangan pergi lagi dari sisiku Tan, aku tidak bisa jalani hari-hari tanpamu. Besok kita pulang sama-sama ya ...!" pinta Reyhan.
"Iya Rey, aku bahagia banget kamu ada di sini. Kehadiran merubah semuanya."
Tidak lama kemudian Reyhan mendekati aku lagi. Ia meraih tanganku dan ia menyematkan sebuah cincin dari rumput di jari maniaku.n
"Reyhan ini?" desahku bingung.
"Kamu adalah Putri pilihanku Intan ...," sahutnya mantap.
"Tapi. Rey ...."
"Sejak dulu aku suka sama kamu Intan. Tapi, aku memendamnya kerena aku tau selama ini kamu masih menaruh harapan pada masa lalumu."
Mataku berkaca-kaca.
"Tapi sekarang, setelah apa yang terjadi pada dirimu. Aku tidak bisa menutupi perasaanku lagi. Tan," ucap Reyhan sambil menatapku dengan penuh perasaan.
Butiran bening lolos di pipiku. Reyhan menggenggam tanganku dan meletakkan di dadanya.
"Percayakan harimu padaku Intan, aku akan menjaganya hingga akhirnya dan ijinkan aku jadi pangeran terbaikmu dan kamu akan selalu jadi Putri kesayanganku."
__ADS_1
Aku terharu dalam diam. Reyhan tau aku meragukan kata-katanya. Ia memelukku kembali.
"Aku tidak akan membiarkan mu terluka lagi Intan, aku ingin kamu bahagia."
Aku tidak bisa menahan tangisku. Reyhan menghapusnya.
"Jangan menangis Putri kesayanganku, aku akan selalu ada di sisimu selamanya," ucap Reyhan mendekapku. Aku merasa nyaman di pelukannya. Kami terdiam. Aku melepaskan pelukan Reyhan dan mengajaknya duduk di bebatuan sambil menikmati matahari terbenam. Karya Tuhan sungguh luar biasa tergambar sungguh indahnya.
"Rey," panggilku sambil menoleh ke arah Reyhan.
"Apa?" sahutnya.
"Terimakasih ya," ucapku lirih.
"Buat?" Reyhan mengerutkan keningnya.
"Buat semuanya kamu sudah menyadarkan aku. Ternyata menjalani kehidupan di masa lalu itu adalah kesalahan terbesar. Nyatanya masih banyak hal yang menarik di depanku, masih banyak impian yang harus aku raih. kebahagiaanku, masa depanku dan cintaku."
Reyhan menatapku. Ku peluk pinggangnya. "Aku sayang kamu Rey, sekarang telah ku temukan Pangeranku. Pangeran yang selama ini ku impi-impikan. Pangeran yang sudah membebaskan aku dari kisah masa laluku. Pangeran yang mencintai aku tanpa pamrih dan membuatnya aku bahagia dan memberikan rasa nyaman di hatiku. Dialah Reyhan pangeran Reyhan yang ku cintai."
Reyhan terdiam sambil memandangi raut ku ia terharu mendengar semua ucapanku. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mengecup puncakku. Aku pun bahagia.
"Makasih Putri kesayanganku, sudah menjadikan aku pangeran dalam hidupmu," ucap Reyhan.
"Kalian sedang apa?" ucap Pak Sabari tiba-tiba. Suara itu membuat kami kaget setengah mati. Seketika itu aku melepaskan diri dari pelukan Reyhan. Aku menunduk malu dan menoleh melihat Nenek dan Pak Sabari yang mamandang kami sambil tersenyum.
"Cie ... ada yang jadian ternyata di sini Nek," ucap Pak Sabari pada Nenekku.
"Tenyata kalian sudah saling mengenalnya?" ujar Pak Sabari.
"Iya Paman, dan sebanarnya dia lah Putri kesayanganku yang aku ceritakan ke paman itu. Aku ke sini hanya ingin menyusulnya."
Pak sabari terkekeh, "Ternyata Teguh sudah di dahului kamu Rey, ya sudah lah tidak apa-apa. Gagal jadi menantu gak apa-apa lah, jadi keponakan saja juga bolehlah," ujarnya sambil tertawa. Teguh adalah Nama anak Pak Sabari.
Kami tertawa bersamaan. Aku mendekati Nenek dan memeluk Nenek. Di saksikan Pak Sabari dan Reyhan mereka memandang haru ke arah kami.
Sekian dan terimakasih. 🙏 Maaf jika endingnya tidak memuaskan seluruh Reader. Makasih pada Reader yang sudah mampir di karya remahan ku yang satu ini sudah memberi dukungan selama ini.
__ADS_1