Cinta Sahabatku

Cinta Sahabatku
Pagi yang mengesankan


__ADS_3

Pagi itu masih tampak sepi pukul 6 kurang lima menit. Aku sudah siap akan berangkat sekolah. Di dapur Mama sibuk mempersiapkan sarapan untuk kami.


"Pagi Ma...!" ucap ku sambil mencium tangan nya.


"Pagi Sayang,.. lho sekarang bukan nya sudah pukul 7 ya?" tanya Mama.


"Iya," jawabku iseng.


"Waduh mama belum siap bikin sarapan nya bagaimana ini?" mama tampak panik.


Aku tertawa geli melihat mama pontang-panting menyiapkan ini itu dalam waktu bersamaan.


Bibik saat itu tidak ada di dapur biasa jam segini ia sibuk mencuci baju di belakang. Selama ini kalau urusan bikin sarapan mama lah yang bertugas karna menurut nya membuat sarapan adalah bentuk pengabdian seorang ibu bagi keluarga nya.


Mama sibuk menggoreng telur ceplok untuk sarapan ku dengan Ayah.


"Duh telur nya kok lama banget masak ya sih!" keluhnya. Sepintas aku melirik jam di dinding ternyata jam itu mati jarum nya menunjuk kan pukul 7 tepat.


"Mama...!" panggil ku.


"Iya ada apa Sayang?"


"Kayaknya Mama melupakan sesuatu deh," ujar ku iseng.


"Kelupaan? kelupaan apa ya...?" tanya Mama bingung.


"Masa Mama nggak sadar kelupaan apa?" ucap ku penuh teka-teki.


"Apaan sih! jangan buat mama berpikir Intan, mama lagi sibuk nih sarapan nya belum juga siap mana sudah jam 7 lagi," ujar mama.

__ADS_1


Mama asik membolak-balikk telur di atas kuali.


"Mama kelupaan apa sih?" tanya nya.


Aku pun mulai membuka suara karena kasian juga liat mama tampak bingung.


"Mama lupa bangunin ayah!" jawab ku datar.


Mama pun melirik jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 7 tepat.


"Ya ampun Ayah kok belum bangun sih! Mama lupa bangunin Ayah mu Intan. Tolong lihat telur mama nya?" pinta Mama.


"Mama, aku juga udah telat nih Ma!" ucap ku sambil berteriak


"Ya ampun bagaimana ini?" mama tidak jadi bangunin Ayah ia kembali melihat telur yang sudah hampir gosong.


"Sayang, telur nya sedikit gosong, gak apa-apa ya," ucap mama sambil memberikan nya padaku.


"Iya Ma, gak apa-apa kok," jawabku.


"Kamu cepetan sarapan nya, nanti kamu terlambat lho," ucap mama.


"Gak mungkin terlambat kok Mam," sahutku santai.


"Oya, Mama belum bangunin ayah lho...!" ucap ku kembali mengingatkan. Aku mengisengi Mama lagi ia tampak panik.


"Ayah? ya ampun mama lupa lagi." Mama menepuk jidatnya.


"Ayah...! teriak Mama ngacir pergi ke kamar untuk membangunkannya.

__ADS_1


Aku terkekeh tertawa melihat tingkah mama di pagi itu tampak pikun. Mama tidak tau padahal saat itu masih pukul 6 aku sengaja mengisengi Mama abis seru sih ucap ku nakal.


Sekejap mata sarapan di piring ku sudah ludes aku kembali tertawa melihat Mama menarik tangan Ayah untuk segera ikut sarapan dengan ku. Mama menyeret Ayah pergi mendekati meja makan.


Sepertinya Ayah hanya bisa pasrah aku melihat raut wajahnya yang selalu tulus menurut namanya itu juga Tulus.


Ayah orang nya penyabar ia tidak pernah memarahi Mama apapun yang terjadi pada nya. Ia selalu berusaha menahan rasa kesalnya walaupun sudah diperlakukan tidak adil.


"Mama sebenarnya ada apa ini kenapa Ayah di tarik-tarik begini?" ucap nya kebingungan.


"Ayah harus segera serapan! kenapa tidak bangun awal," cetus Mama kesal. "kalau Ayah tidak sarapan pagi nanti bisa sakit. Ayah tidak tau kalau saat ini sudah pukul tujuh noh lihat!" tunjuk mama dengan gayanya.


"Ya ampun Mama itu kan jam nya mati. Ini tu masih awal Ma...," ujar Ayah menjelaskan dengan lembut.


"Hah... yang benar saja!" Mama tidak percaya ia menajamkan penglihatan nya ke arah jam dan memang benar jam nya mati.


Mama memukul jidatnya, "Astaga ternyata aku sudah gagal pokus hari ini ujar nya."


Mama melirikku dengan pandangan tajam, "Intan?"


"Iya Ma." perasaan ku mulai aneh.


Saat mama menghampiri ku dan mama menjewer telinga ku.


"Ampun Ma... gak sengaja intan juga tidak tau jam nya mati!" seru ku beralasan. Aku meringis kesakitan.


"Anak kur*ng aj*r! sudah berani mengisengi orang tua," ucap mama kesal.


Ayah hanya geleng-geleng kepala melihat perilaku mama dan diriku yang selalu membuat onar.

__ADS_1


__ADS_2