
Sore hari telah tiba aku mendekam dikamar duduk di dekat jendela sambil memegang ponsel aku menunggu panggilan dari Reyhan dari kemarin tapi ia tidak kunjung menelpon. Berkali-kali telah ku coba menelponnya tapi tetap saja tidak aktiv aku mulai gerah membanting ponselku di kasur aku kembali bertopang dagu memikirkan semua hal. Terlintas di benakku bayangan seseorang yang selalu mengisi pikiranku.
Tiba-tiba lamunanku buyar saat melihat pintu di sebrang jalan terbuka tampak seseorang keluar dengan tergesa-gesa, ia sempat melayangkan pandangannya ke arah kamarku. Aku mengamati gerak-geriknya yang mencurigakan. Aku berlari mendekati jendela dan melihat di sekeliling tempat sosok itu sudah tidak ada lagi. Apa aku gak salah lihat tadi, batinku merasa bingung.
Aku turun ke bawah untuk memastikan saja apa masih ada orang tadi. Aku berkeliling ke depan dan belakang tidak satu orang pun aku temui hanya ada Nenek yang ku lihat. Dia sedang memetik cabe di pekarangan. Nenek kaget melihat kehadiranku. "Intan? kamu sedang cari siapa?"
"Aku lihat seseorang di rumah depan Nek, gerak-geriknya mencurigakan mungkin dia yang yang kulihat di sungai tadi."
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Nenek memastikan.
"Laki-laki Nek."
"Oh dia keponakannya Pak Sabari baru datang kemarin sore. Kenapa memangnya?"
"Pak Sabari? Pak Sabari yang biasa aku panjat mangga nya dulu," aku mengingat sebuah nama itu.
"Iya, ternyata masih ingat juga kamu."
"Ingatlah Nek, itu kan bagian dari kenangan di masa kecilku. Oya ngomong-ngomong, siapa nama keponakannya Nek?" tanyaku kepo.
"Kalau soal itu, Nenek tidak tau. Tapi Nenek mengenali anaknya kok. Dia anak yang ramah dan baik hati, bahkan tadi pagi dia bantu Nenek mengambil air di sumur," ujar Nenek.
"Apa? kok Nenek gak kasi tau sih! Kenapa minta bantu sama dia? Intan kan ada."
"Gimana mau minta bantu kamu, kamu ya masih ngorok," cibir Nenek sambil tertawa.
__ADS_1
"Oh iya kah, berarti masih pagi banget itu. Hehe," aku terkekeh malu.
"Dia pernah datang ke sini ya Nek, sebelum-sebelumnya?" tanya ku lagi.
"Sepertinya sudah dua atau tiga kali deh, dia kesini. Kamu kok kepo sekali sama anak laki-laki itu? apa kamu naksir sama dia?" goda Nenek menatapku.
"Apaan sih Nek, cuma nanyak doang kok bukan kepo. Kenal saja tidak, gimana mau pacaran."
"Kan boleh kenalan ... dulu, kebetulan dia dari kota juga sepertinya."
"O, begitu ya. Sudah lah Nek, Intan ke kamar dulu."
"Eh ..., bantu Nenek sini panen cabe nya. Besok pagi kita jual di pasar, kamu boleh minta apa aja Nenek belikan."
"Baik banget sih Cucu Nenek ini," puji Nenek.
"Iya dong ... siapa dulu anak ya Papa Tulus dan Mama Murni," aku terkekeh.
"Yang melahirkan Intan berlian. Hahaha ...," sambung Nenek ikutan terkekeh.
"Ehemm ...! seru juga panen cabe sambil cikikikan," ucap Pak Sabari tiba-tiba nongol.
"Anak gadis itu siapa Nek," tanya Pak Sabari.
"Dia Intan cucuku. Anaknya Tulus," jelas Nenek padanya.
__ADS_1
"Masyallah kamu sudah segede ini. Sudah gadis aja cantik banget lagi kalau gak salah namanya Intan ya?"
"Aku menunduk malu. Ia Pak saya Intan," jawabku.
"Kalau boleh jujur Bapak mau dong jadi mertuamu, kebetulan Bapak punya anak laki-laki hehehe," kelakar Pak Sabari. Pak Sabari emang lucu orangnya ia suka bercanda.
Nenek ikuatan tertawa, "Boleh juga itu Sabar, biar lebih dekat lagi. Kalau Nenek mau pergi gak perlu ongkos lagi ke rumah besan. Oya, Sabar. kemana keponakanmu tadi, yang datang kemarin sore itu. Kok gak nongol-nongol? padahal Nenek mengundang dia makan lho pagi tadi."
"Oh dia lagi ada kesibukan. Biasalah anak remaja sering bersikap aneh, sebentar pergi, sebentar datang. Entah apa keperluannya dan tujuan datang kemari yang tiba-tiba itu. Aku sendiri pun tidak tau," ujar Pak Sabari.
Sebenarnya siapa sih yang di maksud Pak Sabari?apa dia lelaki yang tadi yang mengintip aku diam-diam itu?
"Intan, sekali-kali mainlah ke rumah. Bapak mau kenalkan kamu dengan keponakan dan anak Bapak mau?"
"Hem, iya Pak. Kalau sempat Intan kesana ya."
"Jangan bilang kalau sempat dong, bilang aja iya. Biar Bapak yakin." Pak Sabari terkekeh.
"Hem. Iya deh, Tapi, kalau boleh tau siapa nama keponakan Bapak itu?" tanyaku.
Kring ...! tiba-tiba ponsel Pak Sabari berdering.
Ia langsung mengangkatnya dan menjauh dari kami. Ia memberi kode padaku akan menjawab nanti.
Aku pun menghela nafas dalam. "Tinggal sebut aja napa? bikin penasaran aja," gerutuku memalas.
__ADS_1