
Diska telah berlalu masuk ke dalam rumah, diiringi oleh uci Desmi.
“Diska, uci berangkat ke mesjid duluan ya, kamu di rumah aja!” teriak uci Desmi sebelum berangkat ke mesjid.
“Iya,” teriak Diska dari dalam kamarnya menanggapi ucapan uci Desmi.
Diska meletakkan semua barang-barangnya di atas rak yang tersedia, dia mengambil handuk lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.
Setelah selesai mandi, Diska menunaikan ibadah shalat maghrib, dengan bantuan uci Desmi, Diska telah sanggup mengamalkan kewajibannya sebagai seorang muslim di setiap lima waktu.
Setelah shalat maghrib, Diska bersantai di ruang tamu sambil asyik membuka ponselnya. Diska sengaja menunggu uci Desmi untuk makan malam, saat dia sedang asyik bersantai, terdengar seseorang mengetuk pintu.
Diska mengernyitkan dahinya heran, “Siapa yang bertamu malam-malam begini,” bathin Diska sambil melangkah menuju pintu.
Ceklek (Diska memegang tuas pintu)
Diska mendapati Rudi dan Rama tengah berdiri di depan rumah uci Desmi.
“Ngapain mereka ke sini?” tanya Diska di dalam hati.
“Buk dokter,” ujar Rudi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Diska yang terdiam saat melihat kedatangannya dan Rama.
“Eh, ada apa, Rud?” tanya Diska pada Rudi.
Diska sengaja mengabaikan keberadaan Rama yang berdiri di samping Rudi. Mendapat pertanyaan dari Diska, Rudi hanya bisa menggaruk kepalanya.
Dia sendiri bingung harus menjawab apa, Rudi terpaksa menghampiri Diska di rumah uci Desmi karena paksaan Rama yang merasa khawatir dengan keadaan Diska.
Diska menautkan kedua alisnya melihat ekspresi Rudi yang kebingungan.
“Oh, kalian mau cari uci Desmi?” tanya Diska menerka tujuan mereka.
“Iya.” Rama dan Rudi mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan Diska.
“Uci Desmi sedang ke mesjid,” ujar Diska.
“Kalau gitu kami tunggu di sini saja,” usul Rama membuat Diska merasa risih.
“Ya udah, kalian tunggu di sini aja,” ucap Diska menunjuk ke arah bangku panjang yang ada di teras rumah uci Desmi.
Rudi dan Rama pun melangkah menuju bangku panjang itu, lalu mendaratkan pantat mereka di kursi bangku bambu sambil tersenyum kaku pada Diska.
Diska menaikkan sebelah alisnya heran, “Ya udah, aku tinggal dulu ya,” ujar Diska hendak meninggalkan dua pria modus itu duduk di teras rumah.
“Eh, buk dokter. Bolehkah kami minta secangkir kopi?” pinta Rama datar.
__ADS_1
Diska mendengus kesal masuk ke dalam rumah, dia melangkah menuju dapur untuk membuatkan kopi yang diminta oleh Rama tadi.
“Kamu udah liat kan, Diska baik-baik saja,” gerutu Rudi kesal melihat tingkah sahabatnya yang sangat mengkhawatirkan dokter muda nan cantik itu.
“Iya, aku tahu dia baik-baik saja, lalu ngapain lagi kita di sini?” tanya Rudi bingung.
“Buat ngejagain dia lah, kamu kan tahu uci Desmi sedang di mesjid. Kalau terjadi apa-apa dengannya bagaimana?” Rama terlihat mengkhawatirkan gadis kota yang sejak pertemuan pertama telah menarik hatinya.
“Segitunya,” gerutu Rudi.
Rudi adalah sahabat terdekat Rama, selama ini dia tidak pernah melihat sahabatnya menyukai seorang gadis, walaupun hampir semua gadis di desa Tanjung menginginkan Rama menjadi pendamping hidup mereka.
Tidak hanya pemuda yang tampan, namun dia merupakan pemuda yang sangat cerdas. Ketampanan dan kecerdasannya menjadi sempurna dengan perilaku dan sifatnya yang sangat baik.
Rama di kagumi oleh semua kalangan di desa Tanjung, tak hanya para gadis saja yang mengaguminya mulai dari anak-anak hingga orang tua, semua orang menyayanginya karena sifat ramahnya serta rasa kasihan mereka dengan nasib yang menimpanya.
“Nih,” ujar Diska sambil meletakkan dua cangkir kopi yang dibuatnya di atas meja.
“Buk dokter, saya mau ke belakang boleh?” bisik Rudi pada Diska.
Diska mengangguk pelan, Rudi pun masuk ke dalam rumah lalu mencari letak kamar mandi di rumah itu. Kini tinggallah Diska dan Rama di teras rumah.
Diska masih saja berdiri canggung di depan Rama, dia bingung.
“Kamu mau berdiri aja di sana?” tanya Rama memulai pembicaraan.
“Kamu masih kesal ya sama aku?” tanya Rama mencoba mencairkan suasana hening di antara mereka berdua.
Diska menoleh ke arah Rama, “Kamu kenapa baik banget sih sama aku?” gumam Diska di dalam hati menyadari kesalahannya bersikap dingin pada Rama.
“Kok ngeliatin ku kayak gitu sih? Salah ya pertanyaan aku?” tanya Rama lagi, dia merasa canggung memulai pembicaraan.
“Nggak apa-apa, kalian ngapain cari uci Desmi?” tanya Diska mengalihkan pembicaraan.
“Nggak ada, Cuma mau ngobrol aja sih sama uci Desmi,” jawab Rama santai.
“Oh,” ujar Diska.
Mereka pun kembali hening, tak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Mereka menatap jauh ke depan sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Aku kenapa sih?” bathin Diska tiba-tiba merasa gugup.
“Diska, semakin hari aku semakin jatuh cinta padamu, kenapa hati ini harus memilih dirimu?” gumam Rama di dalam hati.
Rama menoleh ke arah Diska yang mana pada saat bersamaan Diska juga menoleh ke arah Rama. Mereka pun saling beradu pandang, menelusuri setiap inci paras yang mulai mereka kagumi.
__ADS_1
Tatapan mereka mulai mengungkapkan rasa yang tersimpan di hati mereka. Namun, tak seorang pun mau mengakui rasa yang mulai tumbuh di hati mereka.
“Hem.” Rudi berdehem memberi kode kehadirannya pada dua insan yang kini sibuk menenangkan jantungnya yang mulai berdetak tak keruan.
Diska dan Rama menundukkan pandangan mereka, suasana canggung pun kembali tercipta hingga uci Desmi datang.
“Rudi! Rama!” panggil uci Desmi.
Pandangan mereka mulai tertuju pada uci Desmi yang melangkah masuk ke pekarangan rumah.
“Kalian, ngapain di sini?” tanya uci Desmi heran.
“Nggak ada, Uci. Kami Cuma pengen ngobrol aja sama uci, sudah lama kita tidak mengobrol,” jawab Rama.
“Oh, ya udah. Yuk, masuk!” ajak uci Desmi membukakan pintu rumahnya.
Uci Desmi masuk ke dalam rumah, diikuti oleh tiga generasi muda itu. Uci Desmi meletakkan sajadahnya, dan mengganti mukenanya dengan sebuah songkok sebagai penutup kepalanya.
Uci Desmi pun duduk di bangku ruang tamu ikut nimbrung dengan para generasi muda.
“Uci, Diska istirahat dulu ya, Diska capek,” ujar Diska pamit beranjak tidur.
Diska tak ingin berlama-lama berada di dekat Rama, dia takut tak dapat mengendalikan getaran hatinya yang mulai tidak bisa diajak kompromi.
“Oh, ya udah kamu istirahat aja, biar uci yang menemani Rudi dan Rama.” Uci Desmi tersenyum pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai putrinya.
Diska beranjak meninggalkan tamu yang telah mengusik waktu istirahatnya, dia pun masuk ke dalam kamarnya yang diikuti oleh sorotan mata Rama.
“Ram, kamu suka sama dia?” tebak uci Desmi saat mendapati Rama memperhatikan Diska.
“Hah?” Rama bingung tak tahu harus menjawab apa.
“Kalau memang kamu suka sama dia, perjuangkan!” seru uci Desmi memberi restu hubungan mereka.
Rama hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rudi menepuk pundak Rama sebagi tanda dia juga mendukung rasa yang dipendam oleh sahabatnya.
“Tidak, Uci. Aku sadar diri, bahwa aku tak pantas mendapatkan cintanya,” lirih Rama menyesali rasa yang semakin tumbuh di hatinya untuk wanita kota itu.
“Jika menurutmu, kamu tak pantas untuknya, maka pantaskanlah dirimu untuk bisa bersanding dengannya.”
Uci Desmi terus memberikan motivasi pada Rama yang juga sudah dianggapnya sebagai putranya.
Semenjak Rama kehilangan kedua orang tuanya, uci Desmi selalu ada untuk membantu Rama dalam berbagai hal, karena saat ini hanya uci Desmi yang mengetahui perjalanan hidup Rama.
Hanya saja hingga saat ini dia belum bisa menemukan teka-teki tewasnya kedua orang tua Rama.
__ADS_1
Bersambung...