Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 16


__ADS_3

"Mhm, sepertinya sate ini enak," ujar Diska melihat tampilan sepiring sate yang ada dihadapannya.


"Mhm, kamu coba saja," ujar Rama dengan senyuman khas di wajahnya.


Senyuman yang membuat jiwa Diska terbang melayang ke awan yang tinggi.


Diska pun mulai mencoba sate yang ada di hadapannya.


"Mhm, enak," ujar Diska jujur setelah dia mencicipi sate tersebut.


"Lumayanlah dari pada sate yang lain," ujar Rama.


"Kamu sering makan di sini?" tanya Diska.


"Mhm, sering sih enggak, kalau lagi ada kesempatan saja. Kamu kan tahu pekerjaanku membuatku sulit ke luar dari desa, aku keluar desa hanya saat mengurus berbagai hal yang berkaitan dengan urusan pemerintahan desa," ujar Rama.


"Iya juga, sih." Diska mengangguk.


Setelah itu Diska pun kini menikmati cita rasa sate Balok yang ada di piringnya.


Sate Balok ini merupakan satu-satunya sate ternama di daerah Silaping, sate ini hampir sama dengan sate Padang biasanya, yang berbeda hanyalah tusukan satenya serta taburan kacang tumbuk di atasnya.


Terlihat Diska menghabiskan sepiring sate dengan lahapnya. Dia tak lagi malu-malu di depan Rama karena saking laparnya.


Sementara itu Rama menikmati sate yang ada di piringnya dengan pelan sambil menatap wajah cantik gadis kota yang sudah mengisi hatinya.


"Kamu ngapain liatin aku?" tanya Diska saat dia menyadari bahwa Rama menatapnya.


"Hah? Enggak apa-apa, kok," ujar Rama.


"Yakin nggak ngeliatin aku? Nanti naksir loh," ujar Diska cuek.


"Kalau aku naksir emangnya kenapa?" tanya Rama menggoda gadis kota itu.


"Hah?" Diska Diska bengong.


Dia terdiam tak tahu apa yang akan dikatakannya, seketika jantungnya berdegup kencang tak beraturan.


"Ya ampun apa sih yang udah aku bilang, seharusnya aku nggak ngomong gitu sama dia, ujung-ujungnya malah aku deh yang malu," gumam Diska di dalam hati.


Wajah Diska mulai memerah menahan rasa malu.


Rama tersenyum melihat wajah Diska yang sudah memerah.


"Aku cuma bercanda," ujar Rama.


"Mhm, aku udah kenyang, yuk kita balik ke puskesmas," ajak Diska.


Gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan untuk menghilangkan rasa malunya.


"Ya udah, yuk," sahut Rama.

__ADS_1


Rama pun berdiri dan melangkah menuju kasir untuk membayar tagihan pesanan mereka.


"Ram, aku aja yang bayar, ya," ujar Diska.


Diska merasa tidak enak Rama membayar makanannya mengingat pemuda itu bekerja keras untuk mendapatkan uang. Dia tidak mau menjadi beban si pemuda desa itu.


Rama menatap Diska.


"Kamu tidak perlu sungkan, selagi aku masih ada uang aku tidak akan menyusahkanmu," ujar Rama.


Rama tidak ingin terlihat lemah di hadapan Diska, dia ingin menunjukkan bahwa dia bukanlah pria yang tidak bertanggung jawab.


"Tapi," lirih Diska.


Rama menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan membuat gadis itu terdiam.


"Yuk," ajak Rama setelah dia membayar tagihannya di kasir.


Rama kembali menggenggam erat tangan Diska.


Dia menarik tangan itu dan membawanya keluar dari kawasan pondok sate.


Mereka pun melangkah meninggalkan pondok sate tersebut dan kembali menuju Puskesmas.


Di saat mereka baru saja melangkah setengah jalan, tiba-tiba Rama teringat sesuatu yang tertinggal di pondok sate.


"Aduh," ujar Rama sambil menepuk jidatnya.


"Aku sudah melupakan sesuatu," jawab Rama.


"Apa?" tanya Diska penasaran.


"Kunci motorku, kalau tidak salah aku meletakkannya di atas meja," jawab Rama.


"Hah? Kok bisa?" tanya Diska.


"Mhm, iya aku sempat mengeluarkan kunci itu tadi saat mengeluarkan ponselku dari saku, dan aku lupa memasukkannya kembali ke dalam sakuku," jawab Rama.


"Lalu? Gimana, dong?" tanya Diska.


Diska terlihat sudah kelelahan berjalan, dia sudah mulai memijit kakinya yang sudah lelah berjalan.


"Mhm, aku harus mengambilnya. Aku harus kembali ke pondok sate tadi," ujar Rama.


Diska pun duduk di sebuah batu yang ada di depan rumah salah satu penduduk.


"Ram, aku lelah. Kamu pergi mengambilnya sendiri bagaimana?" tanya Diska.


Dia merasa kakinya benar-benar sudah lelah berjalan kaki.


"Tapi, Dis." Rama ragu meninggalkan Diska seorang diri di sana.

__ADS_1


"Aku tunggu di sini saja, kamu pergilah." Diska pun menyuruh Rama pergi.


"Aku khawatir denganmu," ujar Rama.


"Kamu tenang saja, tempat ini tidak sepi. Banyak rumah penduduk di sini, aku akan berteriak jika terjadi sesuatu," ujar Diska masih memaksa Rama untuk meninggalkan dirinya.


"Ya sudah, aku pergi sebentar. Kamu harus janji tetap tunggu aku di sini," ujar Rama.


Akhirnya Rama pun meninggalkan Diska seorang diri duduk di depan rumah yang lampu depannya bersinar dengan terang, Rama berusaha yakin tidak akan terjadi apa-apa pada Diska karena posisi mereka saat ini bukan tempat yang sepi.


Rama pun berbalik melangkah menuju pondok sate tadi, dia melangkah cepat karena takut meninggalkan Diska sendirian. Dia terpaksa setuju dengan usul Diska karena dia juga kasihan melihat Diska yang sudah kelelahan berjalan sejak tadi.


Tak berapa lama Rama melangkah, dia sampai di pondok sate. Dia masuk ke dalam pondok sate dan langsung menuju pondok yang ditempati mereka tadi.


"Hah? Ke mana kunci motorku?" gumam Rama di dalam hati saat melihat meja itu kosong.


Tak ada satu benda pun yang ada di atas meja tersebut.


"Maaf, Bang. Ada apa?" tanya salah seorang pelayan datang menghampiri Rama.


"Eh, maaf, Bang. Apakah ada melihat kunci motor di atas meja itu?" tanya Rama.


"Oh, iya, Bang. Tunggu sebentar, ya. Tadi saya menemukan kunci motor di atas meja itu saat membersihkannya," ujar si pelayan.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu," ujar Rama.


"Tunggu sebentar ya, Bang. Saya ambilkan dulu," ujar si pelayan.


Pelayan pun melangkah mendekati meja kasir, lalu mengambil kunci motor yang tadi disimpannya di dalam laci meja kasir.


"Ini, Bang," ujar si pelayan sambil mengulurkan sebuah kunci motor pada Rama.


"Oh, iya. Ini kunci motorku, terima kasih, Bang," ujar Rama.


"Sama-sama, Bang." Si pelayan tersenyum ramah pada Rama.


Setelah itu Rama bergegas melangkah menuju Puskesmas. Pikirannya saat ini tertuju pada Diska.


Meskipun selama ini tidak ada kejahatan yang fatal terjadi di daerah itu, tapi Rama tetap merasa khawatir dengan gadis yang kini sudah menguasai hatinya.


"Aku harus cepat sampai di tempat Diska, entah mengapa perasaanku tidak enak," gumam Rama di dalam hati.


Saking cepatnya dia melangkah, sesekali Rama pun berlari agar dia cepat sampai di tempat Diska kini berada.


Semakin ingin cepat sampai semakin jauh rasanya dia berjalan.


Saat Rama hampir saja sampai di tempat Diska berada, terlihat dari kejauhan gadis itu sedang berdiri dikelilingi 4 orang pria.


"Diska," lirih Rama.


Dia pun berlari menghampiri Diska.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2