Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 41


__ADS_3

"Maaf, Nona. Tenanglah!" teriak Sang pria sambil mengangkat tangannya.


pria itu berharap Diska bisa tenang, dan menurunkan pisau yang ada di tangannya.


"Ka-kamu si-siapa?" tanya Diska dengan gugup.


Air matanya mulai membasahi pipinya. Pasalnya setelah 2 hari bertahan hidup di hutan belantara kini dia sudah bertemu dengan seorang manusia.


Dia berharap pria yang kini berada di hadapannya adalah orang baik yang akan menolongnya keluar dari hutan yang sangat asing baginya.


"Aku Husein, aku seorang petani." Pria itu memperkenalkan dirinya pada Diska.


"Aku menemukanmu pingsan di pinggir anak sungai saat ingin mengambil air," ujar Husein menjelaskan alasan keberadaan gadis itu di pondoknya.


Perlahan Diska menurunkan pisau yang ada di tangannya, dia menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di dinding pondok.


"Istirahatlah, saya akan ambilkan makan untukmu, kamu pasti lapar. Saya sudah siapkan makanan untukmu."


Sang pria mengambil sebuah piring, lalu mengisi piring itu dengan makanan. Dia mengulurkan piring yang sudah berisi makanan pada Diska.


"Kebetulan saya mendapatkan anak-anak ikan, jadi saya goreng saja untuk lauk kamu," ujar Husein ramah.


Penampilan Husein yang acak-acakan, kulitnya yang putih telah berubah kecoklatan karena bekerja di bawah terik matahari.


Diska mengambil piring itu, saat ini dia hanya berharap bahwa Husein benar-benar orang baik yang tulus membantu dirinya.


Husein menatap Diska yang kini tengah melahap makanan di piringnya. Meskipun nasi itu hanya berteman lauk sederhana, Diska melahapnya sampai habis tak bersisa.


Dua hari tidak makan membuat dia merasa sangat lapar dan tak peduli apa pun lauknya.


"Alhamdulillah," ujar Husein setelah Diska menghabiskan makanannya.


Diska tersenyum malu mendengar ucapan Husein.


Gadis itu mengambil gelas yang berisi air minum, dia pun menenggak air minum itu hingga habis tak bersisa.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa, padahal aku menemukanmu tak jauh dari bangkai seekor ular besar yang mati karena menelan landak hidup-hidup," ujar Husein.

__ADS_1


Ingatan Diska kembali pada detik-detik dia akan dimakan oleh ular besar yang dilihatnya tadi pagi.


"Ya Allah Alhamdulillah Engkau masih menjaga dan melindungiku," lirih Diska.


"Setelah ini beristirahatlah kembali, sebentar lagi malam, kamu harus istirahat yang cukup agar stamina kamu kembali pulih," ujar Husein.


Diska masih diam mendengar perintah dari Husein.


"Aku akan tidur di luar, kalau ada apa-apa kamu bisa panggil aku," ujar Husein.


Pria itu langsung keluar dari pondok, lalu diapun duduk di teras pondok. Dia akan bermalam di luar pondok malam ini karena tempat tidurnya diberikannya pada sang gadis kota.


Diska pun kembali membaringkan tubuhnya di atas tempatnya tadi. Matanya menerawang menatap langit-langit pondok.


"Rama, kamu benar-benar jahat padaku. Aku tak menyangka kamu akan melakukan hal ini padaku, aku sudah salah mencintaimu. Aku sudah salah menyerahkan hatiku padamu. Kamu sudah mengingkari janji-janjimu padaku, mulai hari ini aku akan berusaha melupakan dirimu," lirih Diska yang kini tengah teringat pada sosok pria yang dia cintai.


"Aku benar-benar kecewa padamu," lirih Diska lagi.


Tanpa disadarinya air matanya mulai membasahi pipinya, rasa kecewa yang mendalam kini menyelimuti hatinya.


Rama merupakan pria pertama yang telah menarik hatinya. Namun, Rama jugalah orang pertama yang telah membuatnya kecewa.


****


"Rama, ada yang harus bapak bicarakan padamu malam ini," ujar Pak Didin memulai pembicaraan malam itu dengan Rama.


"Apa, Pak?" tanya Rama sudah tidak sabar ingin mengetahui hal penting apa yang membuat Pak Didin memaksa Rama datang sehingga Rama tidak bisa mencari Diska malam ini.


"Mhm, begini Rama. Saya ingin meminta tolong padamu," ujar Didin masih menggantung pembicaraan.


Dia sengaja membuat Rama penasaran.


"Minta tolong apa?" tanya Rama terus terang dia sudah tak sabar lagi mendengar lanjutan ucapan Pak Didin.


"Rama, sebagaimana yang kamu ketahui, Putri saya Annisa kini sudah beranjak dewasa, umurnya pun sudah 24 tahun. Saya ingin mencarikan jodoh untuknya, tapi,--" Lagi-lagi Didin menggantung ucapannya agar Rama semakin penasaran.


Kali ini Rama memilih diam menunggu Didin kembali berbicara.

__ADS_1


"Saya hanya ingin kamu menjadi menantu saya," ujar Pak Didin sambil memohon menatap Rama.


Rama kaget mendengar penuturan dari sang kepala desa. Dia tak menyangka sang kepala desa akan berani minta dirinya untuk menikahi putrinya.


Rama diam membisu, dia tengah berpikir harus menjawab apa. Dia sendiri enggan untuk menerima permintaan pak Didin, tapi dia merasa tidak enak hati untuk menolak secara langsung.


"Bagaimana, Rama? Apakah kamu setuju dengan permintaan saya?" tanya pak Didin mendesak Rama untuk menerima permintaan pak Didin saat itu juga.


"Hhufft." Rama menghela napas panjang.


"Sebelumnya saya minta maaf pada bapak, bukan saya tidak mau menerima, tapi,--"


"Rama, saya mohon jangan tolak permintaan ini, karena saya sudah berjanji pada almarhum kedua orang tuamu akan menjadikanmu menantuku," ujar Pak Didin memotong ucapan Rama yang ingin menolak dengan halus.


"Apa?" lirih Rama tak percaya.


"Iya, Rama. Saat kedua orang tuamu dikuburkan saya sudah berjanji akan merawatmu hingga dewasa dan menjadikanmu sebagai menantuku. Saya mohon bantu saya mewujudkan janji yang pernah saya ucapkan," ujar Pak Didin memohon.


Pak Didin mengatupkan kedua telapak tangannya sebagai bentuk permohonan yang mendalam pada pria yang sama sekali tidak mencintai putrinya.


"Maaf, Pak. Saya butuh waktu untuk berpikir. Saya harap bapak bisa mengerti," pinta Rama merasa kesal, tapi dia masih berusaha untuk bersikap ramah pada Pak Didin agar pria yang selama ini banyak membantunya tidak tersinggung.


"Baiklah, Rama. Saya mengerti posisi kamu saat ini. Saya akan memberi waktu untukmu berpikir, tapi saya harap kamu tidak mengecewakan saya," ujar Pak Didin.


"Iya, Pak." Rama mengangguk.


Tak berapa lama mereka terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Pak, kalau tidak ada lagi yang akan bapak bicarakan bisakah saya izin pulang?" tanya Rama memilih pamit pada Pak Didin dari pada mereka duduk diam di sana.


"Oh, iya. Tidak apa-apa, saya benar-benar berharap padamu Rama, dan saya tidak ingin kamu mengecewakan saya," ujar Pak Didin memaksa Rama untuk menerima permintaannya.


"Saya pamit, Pak," ujar Rama.


Rama sengaja tidak mengiyakan karena dia tak ingin terikat dengan permintaan Pak Didin yang sudah jelas hatinya menolak hal itu.


Setelah itu Rama kembali ke rumah, di sepanjang perjalanan dia terus memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh pak Didin.

__ADS_1


Sesampai di rumah, Rama langsung masuk ke dalam kamar dia membaringkan tubuhnya lalu menatap nanar pada langit-langit kamarnya.


Bersambung...


__ADS_2