
Diska terdiam mendengar ucapan Gina. Dia terlihat berpikir, akankah kedua orang tuanya akan merestui hubungannya dengan Rama.
Diska sendiri masih bingung akan membawa ke mana hubungannya dengan Rama, dia tahu Rama merupakan cinta pertama yang hadir di hatinya. Dia ingin mempertahankan hubungannya dengan Rama tapi dia harus menunjukkan pada kedua orang tuanya bahwa Rama pantas untuk dirinya.
Untuk saat ini, Diska hanya bisa berharap dan berdo'a, perlahan dia akan memberitahukan pada Rama masalah yang akan mereka hadapi nanti.
"Dis, Diska, kamu kenapa?" tanya Gina pada gadis kota itu saat melihat dia terdiam.
"Mhm, enggak apa-apa, Kak. Aku hanya berpikir bagaimana cara memberitahukan hubunganku dengan Rama pada kedua orang tuaku," jawab Diska.
"Mhm, aku tahu itu. Kamu pasti kesulitan untuk menghadapi orang tuamu nantinya, tapi selagi kalian memang ingin memperjuangkan cinta kalian pasti ada jalannya," ujar Gina.
"Benar, Kak. Tapi, aku sendiri belum tahu bagaimana caranya," ungkap Diska jujur.
"Tenanglah, untuk saat ini jalani saja terlebih dahulu, jika nanti ada masalah kalian harus memperjuangkannya cinta kalian bersama," nasehat Gina.
"Aku juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu," ujar Gina mengingat masa lalunya.
"Maksud, Kakak?" tanya Diska.
"Dulu, aku pernah memiliki kekasih. Kedua orang tuaku menentang hubungan kami, di saat itu aku ingin mempertahankan hubungan kami tapi sayang dia tidak ingin mempertahankan cinta kami. Dia memilih untuk melepaskan diriku daripada berjuang mempertahankan cinta kami," ujar Gina menceritakan kisahnya beberapa tahun yang lalu.
"Apa alasan dia tidak ingin mempertahankan cinta kalian, Kak?" tanya Diska mulai tertarik dengan kisah Gina.
"Dia sudah tidak percaya diri terlebih dahulu, karena dia berasal dari keluarga yang kurang mampu, ditambah dia tidak memiliki pendidikan seperti aku, seandainya kekasihku dulu berjuang mungkin kedua orang tuaku akan memberikan kesempatan untuk dia bersamaku," jawab Gina.
"Berarti kisah kita bisa dibilang sama ya, Kak?" ujar Diska berpendapat.
"Ya seperti itulah, tapi jika Rama bisa bertahan begitu juga dengan kamu, insya Allah kalian bisa bersatu," ujar Gina.
"Mhm, entahlah, Kak." Diska menghela napas panjang.
"Lalu, bagaimana kakak bisa menikah dengan suami kakak yang sekarang?" tanya Diska lagi.
Ternyata Diska tertarik dengan kisah cinta Gina.
"Mhm, aku dan suamiku dijodohkan. Sama sekali aku tidak mencintainya, tapi dengan kesabaran dan keteguhan hatinya mencintaiku membuatku luluh dan tak tega untuk menyakitinya lebih dalam lagi. Aku mencoba membuka hatiku untuknya, hingga akhirnya kami memiliki anak-anak," cerita Gina.
"Lalu bagaimana dengan mantan kekasih kakak itu?" tanya Diska.
"Setelah aku dan suami bahagia dia sempat meminta aku untuk kembali padanya tapi aku sangat menghargai perjuangan suamiku atas cintanya terhadapku, hingga aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya," cerita Gina.
__ADS_1
"Lalu di mana dia sekarang, Kak?" tanya Diska.
"entahlah aku tidak tahu di mana keberadaannya saat ini yang aku tahu dia pergi meninggalkan kampung ini karena dia tidak sanggup melihat kebahagiaan yang sudah aku dapatkan bersama suamiku," ujar Gina lagi.
"Rumit ya, Kak. Di saat kakak meminta dia berjuang dia sama sekali tidak ingin berjuang, tapi setelah kakak bisa melupakannya, dia justru kecewa," ujar Diska.
"Begitulah, kita akan merasakan arti orang yang kita cintai setelah kehilangannya," ujar Gina.
"Benar, Kak. Aku setuju dengan pendapat kakak," ujar Diska.
Gina hanya ingin memberi semangat pada Diska untuk memperjuangkan cintanya pada Rama apa pun hadangannya nanti di kemudian hari.
"Semoga saja kedua orang tuaku menerima Rama, aamiin," lirih Diska.
Tak berapa lama dua wanita itu mengobrol, mereka pun mulai mengantuk dan mengambil posisi untuk beristirahat. Walaupun di bus, mereka mencoba memejamkan mata mereka.
Sebelum pukul 04.00, bus memasuki kawasan kota Padang. Sopir bus menanyakan semua penumpang tujuan mereka karena si sopir akan mengantarkan penumpangnya langsung ke tujuan mereka masing-masing.
Hal ini merupakan kelebihan pelayanan dari bus Bintang Pasaman, karena mereka masuk kota di waktu subuh sang supir akan mengantarkan penumpangnya ke alamat masing-masing.
"Kakak mau ke mana?" tanya si sopir pada Gina.
Para penumpang terbangun saat supir bus berhenti sejenak di pinggir jalan.
Pelatihan kesehatan itu akan dilaksanakan di hotel Daima, para peserta yang berasal dari luar kota akan disediakan penginapan di hotel tersebut.
"Baiklah," ujar si sopir.
Setelah mengetahui alamat tujuan penumpangnya, si sopir kembali melajukan busnya, dia mengantarkan penumpang yang tujuan paling dekat terlebih dahulu.
Tak berapa lama, sopir pun menghentikan busnya.
"Sudah sampai hotel Daima, Kak," ujar si sopir.
"Terima kasih," ucap Gina dan Diska.
Mereka turun dari bus tersebut lalu melangkah masuk ke dalam hotel bintang 3 itu.
Hotel sederhana yang memiliki fasilitas cukup memuaskan.
__ADS_1
Sesuai arahan dari seniornya, Gina langsung chek in dan melaporkan diri bahwa mereka merupakan peserta pelatihan utusan dari kecamatan Ranah Batahan kabupaten Pasaman Barat.
Resepsionis yang sudah tahu dengan kesepakatan kerjasama pihak hotel dan Dinas kesehatan langsung memberikan kunci kamar pada dua wanita tersebut.
"Terima kasih," ucap Gina sebelum mereka melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
"Sama-sama," balas si resepsionis.
Mereka melangkah menuju kamar yang sudah ditentukan untuk mereka.
Mereka mendapatkan sebuah kamar dengan double bed di dalamnya.
Fasilitas kamar yang mereka dapatkan sudah sangat memuaskan, mereka pun beristirahat sejenak meluruskan pinggang yang sejak tadi hanya tidur dengan posisi duduk.
Saat adzan subuh berkumandang, Gina terbangun dari tidurnya. Dia turun dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. dia membiarkan Diska yang masih terlelap di atas tempat tidur karena dia merasa kasihan pada gadis kota itu.
Setelah Gina selesai membersihkan diri dia pun membangunkan Diska secara perlahan.
"Diska, bangun udah subuh," ujar Gina sambil menggoyangkan tubuh Riska secara perlahan.
Diska mengerjapkan kedua matanya, dia berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih berserakan.
"Mhm," gumam Diska.
"Udah subuh, Kak?" tanya Diska berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.
"Iya, yuk bangun. Siap-siap untuk shalat," ajak Gina.
"Iya, Kak." Riska turun dari ranjang lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim mereka bersiap-siap untuk mengikuti acara pelatihan setelah itu mereka keluar dari kamar untuk mencari sarapan di resto hotel.
****
Pada pukul 08.00 acara pelatihan pun dimulai, Diska dan Gina sengaja memilih tempat duduk di bagian depan agar mereka dapat mendengarkan penjelasan dengan baik.
Acara dimulai, Diska kaget saat melihat pria tampan yang baru saja dipanggil sebagai pemateri di acara tersebut.
"Ya ampun, kamu semakin keren dan tampan saja," gumam Diska di dalam hati.
__ADS_1
bersambung...