Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 14


__ADS_3

"Hei, ada apa?" tanya Rama heran melihat sikap Diska.


"Kamu jahat sama aku." Diska memukul-mukul dada bidang milik Rama dengan kuat.


Pemuda desa itu hanya diam membiarkan Diska meluapkan kekesalan yang ada di hatinya. Rama tahu saat ini Diska merasa kesal terhadap dirinya.


"Udah?" tanya Rama setelah Diska menghentikan perbuatannya.


Diska tersengal-sengal karena lelah memukul-mukul dada Rama, sementara itu Rama hanya diam tidak berbuat apa-apa.


"Kamu benar-benar jahat padaku," ujar Diska dengan suara yang tinggi.


"Aku jahat sama kamu?" tanya Rama pelan.


"Iya, kamu jahat!" ujar Diska kesal.


Kini suaranya pun mulai pelan.


"Aku jahat kenapa?" tanya Rama sambil mengusap air mata yang telah membasahi pipi sang gadis kota.


"Kamu jahat karena sudah membuatku menunggu lama," lirih Diska.


Hati Diska yang tadi cemas, kesal, kini bersyukur bahwa pria yan disukainya telah berada di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja.


Rama tersenyum, dia tahu bahwa Diska kini mulai menyukai dirinya.


"Apakah kamu mengkhawatirkan diriku?" tanya Rama menguji kejujuran Diska.


Diska menatap dalam pada Rama, dia tak tahu harus menjawab apa. Diska masih enggan untuk mengungkap rasa yang ada di hatinya terhadap sang pemuda desa.


"Aku, tidak. Aku hanya kesal padamu, karena kamu sudah berjanji akan kembali secepatnya," ujar Diska sambil membalikkan tubuhnya.


Dia tidak ingin Rama dapat melihat gelagat dirinya yang tengah berbohong.


Rama tersenyum, dia sangat mengerti dengan tingkah Diska.


"Ya sudah, kalau begitu aku mohon maaf sudah membuatmu menunggu," ujar Rama dengan senyuman khas di wajahnya.


"Iya," lirih Diska.


"Ternyata ini teman yang kamu tunggu-tunggu?" ujar Gina menghampiri keduanya.

__ADS_1


Suara Gina membuat keduanya sadar bahwa masih ada orang di sekitar mereka.


"Hei, Gin. Apa kabar?" tanya Rama ramah pada wanita yang menjadi teman curhat Diska tadi.


"Alhamdulillah, baik. Kamu apa kabar?" tanya Gina balik.


Diska menautkan kedua alisnya melihat keakraban Gina dan Rama.


"Alhamdulillah, baik juga. Tugas malam?" tanya Rama.


"Iya, nih." Gina tersenyum.


"Ya sudah, berhubung yang kamu tunggu sudah datang, aku lanjut kerjain tugasku dulu, ya," ujar Gina pada Diska.


"Mhm, iya. Terima kasih ya, Kak. Senang berkenalan denganmu," ujar Diska.


"Sama-sama, aku juga senang bisa kenal gadis kota nan cantik dan ramah," puji Gina.


Gina dan Diska saling tersenyum, Gina baru saja berjalan beberapa langkah.


"Eh, Kak." Diska berlari menghampiri Gina.


Dia takut semua isi hatinya pada Rama terbongkar dari mulut Gina yang terlihat sangat akrab dengan Rama.


Gina tersenyum.


"Kamu tenang saja, rahasia aman dan terkendali," sahut Gina sambil mengacungkan jempolnya.


"Terima kasih," lirih Diska.


Rama hanya bisa mengernyitkan dahinya melihat tingkah Diska dan Gina.


"Bye," lirih Gina sambil melambaikan tangannya.


Setelah Gina pergi meninggalkan mereka, Rama menghampiri Diska.


Rama menarik tangan Diska untuk duduk di sebuah kursi panjang yang tak jauh di tempat mereka berdiri.


"Bagaimana dengan pasien kamu?" tanya Rama.


"Alhamdulillah, Baik." Diska mengangguk.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu," ujar Rama.


"Oh, iya. Kamu dari mana saja?" tanya Diska mulai penasaran Rama sejak tadi menghilang.


"Tadi ada kecelakaan di persimpangan sebelum pasar, kebetulan korban kecelakaan itu teman aku. Jadi, aku ikut mengantarkannya ke rumah sakit," jawab Rama menjelaskan alasan keterlambatannya.


"Ke rumah sakit Simpang Empat?" tanya Diska penasaran.


"Iya," jawab Rama.


"Lalu bagaimana keadaan temanmu sekarang?" tanya Deska pada Rama.


"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah terlewat cuma kemungkinan besar dia akan mengalami lumpuh," jawab Rama.


"Ya ampun, kasihan dia," lirih Diska.


"Ya, semoga saja dia bisa pulih dan sehat seperti semula." Rama mengingat jelas kejadian tadi siang.


Flash back On.


"Rama, Awas!" teriak kak Siti keras membuat Rama menginjak pedal rem secara mendadak.


Rama menoleh pada Kakak sepupunya yang berdiri di pinggir jalan tak jauh dari posisi Rama saat ini.


Tak berapa lama setelah itu terdengar bunyi hantaman yang sangat keras.


Rama melihat di depan matanya, sepeda motor temannya yang sejak tadi beriringan dengannya dari kamu ditabrak sebuah mobil L300 pembawa sawit yang hilang kendali karena rem blong.


Bersyukur Rama berhenti mendadak, jika tidak dia pun akan ikut ditabrak oleh mobil tersebut karena kejadian tepat di depan sepeda motornya yang berjarak 2 meter darinya.


Siti langsung menghampiri adik sepupunya dan langsung memeluk tubuh kekar sang adik.


"Alhamdulillah, kamu baik-baik saja, Dek," lirih Siti menangis shock melihat kejadian di depan matanya.


Siti merupakan putri dari kakak ibu Rama, saat ini hanya Siti lah yang dimiliki oleh Rama di dunia ini. Siti sangat menyayangi Rama seperti adik kandungnya sendiri, dia berteriak saat melihat laju mobil L300 tersebut sudah tidak terkendali dari kejauhan.


Bersyukur ramah sempat mendengar teriakan Kakak sepupunya dan menghentikan sepeda motornya.


Flash back off


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2