Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 51


__ADS_3

"Mhm, saya mau mengulangi permintaan saya tempo hari," ujar Pak Didin jujur.


Pak Didin harus bisa memaksa Rama menerima lamaran dari putrinya karena Annisa terus-menerus memaksa pak Didin untuk menikahkan dirinya dengan Rama.


"Permintaan apa, Pak?" tanya Rama pada Pak Didin.


Rama berpura-pura tidak ingat, dia sudah mengetahui ujung dari pembicaraan Pak Didin.


"Masalah Annisa, Rama. Umurnya sudah cukup untuk menikah, dan saya hanya ingin kamu yang menjadi menantu saya," ujar pak Didin jujur.


Rama menghela napas, dia tersenyum getir mendengar ucapan pak Didin.


Dia tak menyangka Pak Didin akan melakukan apa saja demi putrinya itu.


"Mhm, saya belum berpikir ke arah itu, Pak," jawab Rama.


Kali ini Rama bisa berbicara tegas, karena dia tidak lagi pegawai dari Pak Didin.


"Jangan bicara seperti itu, Rama. Saya tahu saat ini kamu tidak menyukai Annisa, tapi jika sudah hidup bersama cinta itu akan ngalir begitu saja, bapak sudah berjanji dengan ayahmu akan menjadikanmu sebagai menantu," ujar Pak Didin mulai mendesak Rama untuk menerima tawarannya.


"Mhm, beri saya waktu untuk berpikir," pinta Rama tak langsung menjawab permintaan Pak Didin.


Lagi-lagi Pak Didin memaksa dirinya untuk mau menerima putrinya sebagai istri Rama.


Kebaikan Pak Didin selama ini pada dirinya membuat Rama tidak mudah untuk menolak begitu saja.


"Baiklah, kalau begitu. Bapak harap kamu memberi jawaban yang tidak mengecewakan saya," ujar Pak Didin.


Setelah itu, Pak Didin mengajak Rama mengobrol membahas hal lain.


"Oh iya, kabarnya Buk dokter akan menyelesaikan masa pengabdiannya dalam dua bulan ini, dia akan melanjutkan pendidikan kedokterannya di kota asalnya," ujar Pak Didin memberi informasi.


Rama kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Pak Kepala Desa. Sejak Diska meminta untuk tidak menghubunginya, Rama tidak lagi mencari tahu bagaimana kabar Diska.


Dia takut, gadis yang dicintainya itu akan semakin marah dan membenci dirinya.


"Oh," lirih Rama.


Hanya itu yang dapat diucapkan Rama.


Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Jika Diska pergi, itu artinya harapannya untuk mendapatkan Rama takkan pernah terwujud.

__ADS_1


Diska akan meninggalkan dirinya, Diska akan bahagia kembali menjalani hidupnya dengan segala kelebihan yang diberikan orang tuanya.


"Ya sudah, Ram. Kalau begitu, saya akan pulang. Minggu depan saya harap kamu sudah memberikan jawaban atas permintaan ini," pinta Pak Didin penuh harap.


Rama hanya diam, pak Didin pun berdiri dia mulai melangkah meninggalkan Rama yang kini termenung memikirkan apa yang sudah terjadi dalam hidupnya.


Selama ini dia tidak pernah mencintai gadis mana pun, di saat hatinya sudah terbuka untuk seorang gadis ternyata ujian datang menghampiri mereka, sehingga cintanya kandas di tengah jalan.


Saat adzan dzuhur berkumandang, Rama tertegun.


"Astagfirullah, sudah dzuhur," lirih Rama.


Rama bangkit dan dia melangkah menuju anak sungai yang terdapat di pinggir kebunnya.


Dia mulai mengambil wudhu dan bersiap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu shalat dzuhur.


Usai dia melaksanakan salat zuhur, Rama menunaikan ibadah sunat. setelah itu Rama mengangkat tangannya dan berdoa memohon petunjuk pada Tuhan untuk jalan yang harus dipilihnya.


Rama mulai menitikkan air mata dalam do'a- do'a yang diucapkannya.


Di sana dia berdo'a, kenangan pahitnya kehidupan yang harus dilewatinya semenjak dia masih kecil terlintas dengan jelas.


Dalam kesendirian yang ditemani sepi, Rama semakin larut dalam lukanya.


Hatinya hancur dan bimbang, dia mulai putus asa dalam menghadapi kejamnya kehidupan.


Rama mulai beristighfar untuk memperkuat hatinya yang kini mulai rapuh.


Dalam istighfarnya, Rama membaringkan tubuhnya di atas sajadah hingga akhirnya dia terlelap dalam kelelahan jiwa dan raga.


Sejak Rama bermalam di kebun, dia kembali ke kampung hanya setiap hari Jumat, itupun dia lakukan hanya sebentar, dia akan berhenti sejenak di rumah peninggalan kedua orang tuanya setelah itu dia pun menunaikan shalat Jum'at.


Hari ini usai shalat Jum'at, Rama memilih untuk duduk di warung sejenak melepas rindu dengan teman-temannya. Seperti biasa Rudi juga ikut nimbrung bersama dirinya.


"Hei, Rama. Ternyata diam-diam kamu mau menikah?" ujar Hamdan salah satu teman Yang ikut minum kopi di warung itu.


"Hehe." Rama hanya menjawab dengan senyuman.


"Dengar-dengar kamu akan menjadi menantu pak kepala desa," celetuk Syamsul menimpali.


"Ya, bisa jadi," jawab Rama menggubris ucapan teman-temannya.

__ADS_1


Di saat itu, Diska sedang melintasi warung tersebut dengan Uci Desmi. Dia baru saja pulang dari rumah salah satu warga.


Diska dapat mendengar dengan jelas ocehan Rama. Hati Diska merasa sakit mendengarkan apa yang dikatakan oleh Rama.


Diska semakin kecewa, dia terluka karena Rama.


Dia dengan mudahnya melupakan apa yang sudah terjadi di antara mereka sehingga Rama berani mengumbar berita yang sangat sensitif.


Uci Desmi melihat reaksi Diska, dia juga kaget mendengar apa yang baru saja didengarnya.


Uci Desmi langsung menarik tangan Diska, dia mempercepat langkah mereka.


Di saat itu, Rama melihat Diska. Dia yakin Diska pasti mendengar apa yang baru saja dikatakannya.


"Ya Allah, apakah Diska mendengar apa yang baru saja aku katakan?" gumam Rama di dalam hati.


"Rama, sepertinya Diska mendengar apa yang baru saja kalian bicarakan," ujar Rudi sambil menunjuk Diska yang sudah jauh dari warung tempat Rama berada.


"Entahlah, Rud. Mungkin memang saatnya aku melupakan cintaku padanya, karena aku memang tidak pantas untuknya. Aku hanyalah pemuda miskin yang tidak memiliki hati nurani, aku takut dia akan menderita jika hidup bersamaku," lirih Rama mengungkap beban yang dipikulnya pada sang sahabat.


Rudi hanya menghela napas panjang, dia tidak tahu harus berbuat apa karena setiap kali dia mulai mengajak Diska berbicara tentang Rama, gadis kota itu langsung menolak dan marah padanya.


Sesampai di rumah Uci Desmi, Diska langsung melangkah menuju kamarnya.


Diska menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Diska menutup wajahnya dengan bantal.


Kali ini Diska menangisi apa yang sudah dijalani.


Setelah sekian lama mereka tak bertemu, di saat mereka bertemu, Rama justru mengumumkan pertunangannya dengan putri sang kepala desa.


Entah mengapa kali ini hati Diska semakin hancur, dia seakan tidak rela untuk melepaskan pria yang dicintainya.


Dia tak rela saat mendengar Rama akan bertunangan dengan Annisa, hati Diska benar-benar kacau.


Setelah puas meluapkan rasa sedihnya, Diska membalikkan tubuhnya, dia menatap langit-langit kamarnya.


Diska mulai mengenang semua yang sudah mereka lewati. Dia kembali mengenang awal perkenalan mereka, serta berbagai hal yang sudah terjadi.


Diska menangis lagi, dia sesenggukan menutup wajahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2