Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 29


__ADS_3

"Mhm, itu teman aku, Bang. Oh, iya nanti aku telpon lagi ya, Bang." Diska memutuskan panggilan telpon dengan Rama saat Rezi datang.


Diska berpikir, dia bisa menghabiskan waktunya nanti bersama Rama saat dia berada di desa sedangkan bersama Rezi hanya satu Minggu ini dia bisa bersama Rezi setelah itu mereka akan kembali berpisah melaksanakan tugas masing-masing.


Rama menatap ponsel bututnya dengan nanar saat sambungan dengan Diska sudah terputus.


Hatinya mulai kacau mempertanyakan sosok pria yang tadi sempat mengajak Diska pergi jalan, berbagai pikiran-pikiran negatif kini mulai menghantuinya.


Rama membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menatap langit-langit kamarnya.


"Diska, siapa pria itu. Kamu rela memutuskan panggilan dariku demi pria lain, apakah ada pria lain yang lebih berarti dalam hidupmu selain aku," gumam Rama di dalam hati.


Dengan susah payah Rama mencoba memejamkan matanya berharap dengan tidur dia bisa melupakan kegundahan hatinya.


Sementara itu, Diska dan Rezi pergi ke jembatan Siti Nurbaya menikmati indahnya malam dengan pria yang sudah sejak lama dirindukannya.



Rezi mengajak Diska ke sebuah kafe yang terletak di bawah kaki jembatan, menikmati keindahan lampu-lampu kapal yang berkilauan.


"Mau minum apa?" tanya Rezi pada Diska.


"Mhm, seperti biasa," jawab Diska.


"Bang, pesan capuccino late 2, pisang bakar kejunya 2 porsi," ujar Rezi memesan makanan kesukaan Diska.


"Baik, Bang. Tunggu sebentar, ya," sahut si pelayan.


"Bagaimana, kamu senang tinggal di sini?" tanya Rezi pada Diska.


"Mhm, sangat menyenangkan," jawab Diska dengan ekspresi bahagia.


"Wah, benarkah? Saking senangnya kamu tinggal di sini, kamu melupakan kedua orang tuamu dan aku?" tanya Rezi.


"Bukan begitu, di desa banyak hal baru yang aku temui, sehingga aku merasa nyaman dan menikmati hari-hariku di desa, terlebih saat ini aku tinggal dengan seorang wanita yang sangat baik hati. Dia sudah menganggapku sebagai putrinya." Diska menceritakan keadaannya selama tinggal di desa.


Hanya saja Diska tidak menceritakan perihal sosok Rama yang kini sudah mengisi relung hatinya.


Diska belum siap mengungkapkan hubungan dengan Rama pada Rezi karena Diska takut kedua orang tuanya akan menghalangi hubungan mereka.

__ADS_1


"Kelihatannya kamu sudah betah berada di sini, apakah ada niat untuk menetap di sini?" tanya Rezi.


"Entahlah, yang pasti saat ini aku mengikuti alur program yang kini sedang aku jalani, jika suatu saat nanti aku memang ditugaskan mengabdi di daerah tersebut, dengan senang hati aku kembali ke sini," ujar Diska jujur.


Rezi terdiam mendengar ucapan Diska, seolah-olah hati Diska sudah terpaut di desa tempat dia mengabdikan diri.


"Apakah kamu tidak akan melanjutkan kuliah spesialis setelah ini?" tanya Rezi pada Diska mempertanyakan tentang masa depan dan angan-angan yang pernah dikatakannya pada Rezi.


"Mhm, entahlah. Aku sendiri tidak tahu," ujar Diska bimbang.


"Baiklah, kalau begitu. Aku akan selalu mendukung keputusanmu apa pun itu," ujar Rezi.


"Makasih, Kak. Kamu memang kakakku yang paling mengerti diriku, best brother yang tidak akan pernah digantikan," ujar Diska.


Rezi tersenyum sambil mengelus lembut kepala Diska yang tertutup dengan hijab modisnya.


Sebelum pukul 22.00 malam, Rezi dan Diska kembali ke hotel. Rezi mengantarkan Diska langsung ke depan pintu kamarnya.


"Makasih ya, Kak. Malam ini menyenangkan," ujar Diska sebelum dia masuk ke dalam kamar.


"Sama-sama, met istirahat, ya.Sampai jumpa besok," ujar Rezi mengelus lembut kepala Diska.


Rezi pun melangkah menuju kamar miliknya di hotel yang sama dengan Diska.


"Kamu baru pulang, Dis? Ke mana aja?" tanya Gina penasaran.


Gina belum tidur karena masih ada yang dikerjakannya.


"Iya, Kak. Kak Rezi mengajak aku ke jembatan Siti Nurbaya dan ngobrol sambil makan," jawab Diska jujur tanpa ada satu hal pun yang disembunyikannya.


"Seru dong, ya, dalam tugas sekalian bisa jalan," ujar Gina.


"Tenang, Kak. Besok kalau Kak Rezi ajakin jalan lagi, aku ajakin kamu. Tadi mau ajakin Kak Gina, tapi lagi asyik ngobrol sama ayahnya anak-anak," ujar Diska.


"Iya, enggak apa-apa, aku cuma bercanda, kok," ujar Gina.


"Sepertinya kamu dan Rezi sangat dekat, Apakah kamu tahu bagaimana perasaan Rezi terhadap kamu?" tanya Gina pada Diska mengkhawatirkan perasaan yang tersimpan di hati dokter muda yang tampan itu.


"Entahlah, yang pasti aku hanya menganggap dia sebagai seorang kakak tidak lebih daripada itu," jawab Diska sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Tapi, Dis, kamu juga harus memikirkan perasaan dia. Kalau seandainya dia memiliki perasaan lebih sama kami gimana?" tanya Gina.


"Mhm, pelan-pelan aku akan menceritakan perasaanku terhadap Rama padanya, tapi aku butuh waktu yang tepat untuk menceritakan semua ini, aku belum siap kedua orang tuaku tahu." Diska membayangkan Mama dan papanya marah besar.


"Mhm, syukurlah kalau begitu, kamu harus tegas pada Rezi, takutnya nanti dia semakin berharap," ujar Gina mengingatkan.


Gina sangat mengenal sosok Rama, dia tidak ingin Rama kecewa di kemudian hari.


Dua wanita itu pun mengobrol sejenak. Setelah itu mereka pun tertidur dengan lelap.


7 hari telah berlalu, hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan pelatihan yang diadakan oleh dinas kesehatan.


Rezi sebagai pemateri pun akan kembali ke kota asalnya nanti sore setelah acara penutupan pelatihan dinyatakan selesai.


"Kapan kamu akan kembali ke desa?" tanya Rezi pada Diska setelah acara pelatihan usai.


"Mhm, rencananya kami akan berangkat malam ini, tapi mendadak Gina akan berbelanja terlebih dahulu di sini, maka kami memutuskan untuk kembali ke desa esok hari," jawab Diska.


" Mhm, begitu. Sebenarnya aku ingin mengantarkanmu ke desa. Aku juga ingin mengetahui bagaimana kondisi desa tempat kamu mengabdi," ujar Rezi.


"Hah? Benarkah?" tanya Diska.


"Iya, aku sudah memesan mobil dan sopir, aku ingin memastikan kamu sampai di desa dengan selamat," ujar Rezi.


"Ih, so sweet banget," ujar Diska.


"Tapi, aku tidak mau merepotkanmu," ujar Diska lagi.


"Lain kali kamu bisa main ke desa tempat aku mengabdi," ujar Diska.


"Kebetulan aku sudah berada di sini, sekalian aku ingin tahu lingkungan yang telah membuatmu betah menetap di sana," ujar Rezi membujuk Diska agar gadis itu mengizinkannya untuk mengantarkannya kembali ke desa.


"Terserah kamu." Akhirnya Diska pun mengizinkan Rezi untuk mengantarkan dirinya dan Gina ke desa esok hari.


Hari ini, dia mengajak Diska dan Gina jalan-jalan di daerah kota Padang. Dia ingin menghabiskan waktu yang tersisa untuk membahagiakan Diska.


Tempat yang pertama kali mereka kunjungi adalah Transmart kota Padang.


Sang dokter tampan ingin mengajak 2 wanita itu shoping berbelanja apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2