Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 6


__ADS_3

Rama langsung bangun mengejar Diska, dia melihat Diska telah berada di tebing, sedang berpegangan di sebuah dahan kayu yang tertanam di tebing itu.


“Rama, tolong aku!” teriak Diska ketakutan.


Dia semakin takut saat melihat ke bawah, di sana arus sungai yang deras sudah siap akan menghanyutkannya. Diska yang sama sekali tidak bisa berenang semakin takut saat membayangkan dirinya jatuh ke dalam sungai itu.


“Kamu tenang, ya.” Sambil menenangkan Diska, Rama mencoba mencari sesuatu yang bisa digunakannya untuk membantu Diska.


Rama melihat akar pohon yang biasa dipakainya buat mengikat kayu bakar yang biasa disebut masyarakat desanya dengan kata ‘andor’ (Akar phon yang biasa digunakan untuk mengikat) . Rama menarik akar tersebut, lalu melemparkan andor ke arah Diska.


“Kamu ambil akar itu, dan pegang erat-erat!” teriak Rama memberikan aba-aba.


Diska mencoba meraih akar yang diberikan Rama. Setelah dia benar-benar telah berpindah ke akar yang diberikan Rama.


“Kamu pegang akarnya, lalu tumpukan kaki kamu ke tebing, dan mulai naik ke sini.” Rama mulai menuntun Diska.


Diska berusaha sekuat tenaga untuk naik ke atas tebing dengan mendengar tuntunan yang di sampaikan oleh Rama, akhirnya Diska pun bisa naik. Dia telah berada di samping Rama, tanpa pikir panjang Diska langsung memeluk Rama.


“Aku takut,” lirih Diska menangis.


Rama kaget dengan apa yang dilakukan Diska, namun dia membiarkan gadis itu mendekap tubuh kekarnya. Rama mengelus punggung Diska, memberi kenyamanan pada gadis kota itu.


Diska melepaskan pelukannya dari pria tampan yang selalu bersikap tenang menghadapi dirinya.


“Maaf,” lirih Diska.


Ini pertama kalinya Diska mengatakan maaf pada Rama. Dia merasa bersyukur bisa selamat dari maut yang baru saja dialaminya.


“Ya udah, kita lanjutkan perjalanan.” Rama melangkah menuju sepeda motornya yang tergeletak di jalan.


Dia berusaha memberdirikan sepeda motornya. Lalu dia menaiki sepeda motor itu, “Yuk!” ajak Rama.


Diska pun kembali naik ke atas sepeda motor Rama. “Udah,” ujar Diska menyatakan dia sudah siap untuk berangkat.


Rama menarik tangan Diska, lalu melingkarkan tangan mulus itu ke pinggangnya. “Peganganlah dengan erat, perjalanan kita masih jauh.” Rama bersiap untuk melajukan sepeda motornya.


Diska hanya diam, menuruti apa yang dilakukan oleh Rama. Dia menatap pada tangannya yang sudah melingkar di pinggang Rama.


Rama melajukan sepeda motornya, dengan susah payah mengalahkan medan yang sangat mengerikan, akhirnya mereka memasuki perumahan penduduk desa Tanjung.


Diska memandang takjub pemukiman penduduk, beberapa rumah yang tertumpuk di tengah-tengah dan di kelilingi sawah yang sangat indah. Rumah penduduk di desa Tanjung masih terlihat sangat sederhana. Hanya beberapa rumah yang berdiri kokoh, dan kebanyakan rumah penduduk di desa Tanjung ini berdiri setengah batako dan setengah lagi dari papan.

__ADS_1


Rama menghentikan sepeda motornya di depan sebuah rumah sederhana, rumah yang berdiri dengan setengah papan ini sangatlah luas. Di tambah dengan taman bunga nan asri yang ada di hadapannya membuat suasana rumah besar ini terasa nyaman.


Rama dan Diska turun, mereka melangkah masuk ke dalam rumah tersebut. Di sana terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di kursi tamu rumahnya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Rama sopan pada pria paruh baya itu.


“Rama, kamu sudah sampai?” tanya bapak kepala desa pada Rama, dia menyambut ramah tamunya.


“Iya, Pak,” ujar Rama.


“Silakan masuk!” Kepala desa menyuruh tamunya masuk dan mempersilakan mereka duduk di kursi tamu yang terlihat lusuh.


Rama dan Diska duduk di kursi tamu yang tersedia di rumah sederhana itu.


“Dari tadi saya menunggu ke datangan buk dokter,” ujar pak kepala desa mengawali pembicaraannya.


“Saya mengucapkan selamat datang di desa kami ini, bagaimana perjalanannya ke sini, melelahkan?” tanya pak kepala desa dengan senyuman ramahnya.


Diska tersenyum, “Sangat melelahkan, Pak,” jawab Diska dengan senyuman manisnya.


“Saya harap, buk dokter bisa betah mengabdi di desa kami ini,” ujar pak kepala desa lagi penuh harap.


“Iya, Pak.” Diska mengangguk tersenyum.


“Silakan,” ujar sang gadis tersipu malu melirik ke arah Rama.


“Silakan, Buk dokter.”Pak kepala menyuruh Diska dan Rama mencicipi minuman dan makanan yang telah tersedia di hadapan mereka.


Rama dan Diska tersenyum sambil mengangguk.


“Oh iya, kenalkan ini putri saya, dia baru saja tamat kuliah.” Pak kepala desa memperkenalkan putrinya.


“Annisa,” ucap sang gadis mengulurkan tangannya ke arah Diska.


“Diska,” ucap Diska menyambut Ramah uluran tangan Annisa.


Annisa terus mencuri pandang ke arah Rama, di saat ayahnya masih asyik mengobrol dengan Rama dan Diska.


“Rama, mungkin buk dokter lelah. Tolong kamu antarkan dia ke rumah Uci (panggilan untuk tante) Desmi!” pinta kepala desa pada Rama saat melihat raut wajah Diska yang mulai jenuh mendengarkan obrolan Rama dan dirinya.


“Buk dokter, kami sudah menyediakan tempat tinggal untuk anda, di rumah salah satu warga. Saya harap, buk dokter bisa nyaman tinggal di rumah Uci Desmi.” Pak kepala desa menjelaskan.

__ADS_1


“Baik, Pak. Saya ikut bagaimana keputusan bapak saja,” ujar Diska sopan.


“Ya sudah, Pak. Aku antarkan Diska dulu. Kelihatannya dia benar-benar sudah lelah,” ujar Rama.


Pak kepala desa mengangguk, Rama dan Diska pun berdiri lalu melangkah keluar dari rumah kepala desa. Annisa terus memandangi Rama yang telah berlalu meninggalkan rumahnya.


Rama mengantarkan Diska ke rumah uci Desmi, seorang janda yang tidak memiliki keturunan. Dia tinggal seorang diri di rumahnya. Wanita yang masih berumur 50 tahunan itu adalah warga yang di kenal dengan keramahannya serta jiwa sosial yang tinggi.


Uci Desmi sengaja menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal untuk dokter muda yang akan mengabdi di desa mereka, dia berharap dokter muda itu akan menjadi temannya dalam sepi menjalani hidup seorang diri.


Rama dan Diska telah sampai di sebuah rumah sederhana, rumah yang memiliki halaman yang luas dan berbagai tanaman tertata dengan rapi di sana membuat setiap mata yang memandangnya merasakan ketentraman dalam jiwanya.


“Assalamu’alaikum,” ucap Rama saat mereka telah berada di depan pintu rumah uci Desmi.


“Wa’alaikumsalam,” sahut seorang wanita dari dalam rumah.


Wanita itu melangkah ke depan rumah untuk membukakan pintu untuk Rama dan Diska.


“Rama!” seru uci Desmi senang menyambut kedatangan Rama dan Diska.


“Iya, Tante. Ini dokter di desa kita ini,” ujar Rama menunjuk ke arah Diska.


Diska tersenyum ramah, lalu menyalami wanita tua yang berada di hadapannya. Jika diperhatikan dari wajahnya, uci Desmi kira-kira berumur 50 tahunan.


“Aku Diska tante,” ucap Diska ramah.


“Jangan panggil tante, panggil Uci saja. Yuk masuk!” Uci Desmi menarik Diska masuk ke dalam rumahnya.


Mereka masuk ke dalam rumah sederhana yang sangat rapi dan bersih. Diska mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah, dia kagum memandangi banyaknya lukisan yang terpajang di dinding rumah itu.


Uci Desmi mempersilakan mereka duduk, lalu menghidangkan minuman serta beberapa cemilan di atas meja.


“Silakan dicicipi!” ujar uci Desmi Ramah.


Rama dan Diska mulai mencicipi minuman dan makanan yang dihidangkan oleh uci Desmi, mereka pun mengobrol seenak sekedar memperkenalkan satu sama lainnya. Seketika Diska teringat dengan barang-barangnya.


“Hei, barang-barangku di mana?” tanya Diska sedikit berbisik pada Rama di sela-sela obrolan mereka dengan uci Desmi.


“Ya ampun, aku lupa. Tunggu sebentar!” Rama mengambil ponselnya lalu menelpon temannya yang membawa barang-barang Diska tadi.


Berkali-kali Rama menghubungi temannya, namun belum ada jawaban sama sekali. Diska mulai panik. Dia menatap tajam ke arah Rama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2