Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 36


__ADS_3

"Maaf, Bang. Kami mengganggu," ujar Rama menyapa seorang pria yang bisa ditaksir berumur lebih tua darinya.


"Iya, ada apa?" tanya Si pria.


"Saya belum pernah melihat Abang di kampung, kalau boleh tahu Abang orang mana?" tanya Rama sekadar berbasa-basi.


"Oh, Saya dari desa Lubuk Gobing," jawab Si pria.


"Itu, Bang. Kami sedang mencari seseorang di hutan ini, sejak semalam kami belum menemukannya. Sejak kemarin malam kami belum mengisi perut kami. Kalau ada sesuatu yang bisa kami makan, bolehkah kami memintanya, Bang?" pinta Rama jujur bahwa mereka saat ini sudah kelaparan.


"Oh, ayo ikut ke pondokku. Aku baru saja memasak nasi, untuk lauknya kita bisa rebus daun singkong," ujar si pria itu dengan ramah.


Pria itu melangkah menuju pondok miliknya, posisi mereka saat ini memang sudah jauh dari perumahan penduduk. Mereka sudah melewati perkebunan milik warga desa Tanjung.


"Bang, sudah lama berkebun di sini?" tanya Rudi.


"Sekitar 4 bulan ini," jawab si pria.


"Oh, sebelumnya berkebun di mana?" tanya Rudi lagi.


"Sebelumnya saya berkebun di daerah Angkola selatan Sumatera Utara," jawab si pria itu.


"Lho? Orang baru di Lubuk Gobing, Bang?" tanya Rudi memastikan bahwa si pria itu bukan pribumi desa Lubuk Gobing.


"Iya, saya merantau ke sini. Kebetulan ada teman yang menikah dengan orang sini," jelas si pria jujur.


"Ayo, silakan masuk," ajak Si pria.


Dia menaiki sebuah pondok panggung, pondok itu terlihat seperti rumah sederhana yang hanya memilik satu ruang serta pintu.


Rama memperhatikan dengan seksama pondok milik si pria itu.


"Abang bermalam di sini?" tanya Rama penasaran.


Pria itu tersenyum.


"Iya, saya tidak memiliki keluarga di sini. Kebetulan ada lahan kosong untuk usaha, jadi saya berkebun di sini," cerita si pria pada dua pemuda yang baru saja dikenalnya.


"Oh," lirih Rama dan Rudi bersamaan.

__ADS_1


Hanya itu yang dapat mereka katakan.


"Rebus daun singkongnya sudah matang, ayo kita makan. Kebetulan saya juga belum makan," ujar Si pria mengajak Rudi dan Rama makan dengan menu seadanya.


"Ini ada cabe giling dan ikan asin, mana tahu kalian mau," tawar si pria sambil membuka toples kecil.


"Iya, Bang. Terima kasih, Bang," ujar Rama dan Rudi.


Mereka pun makan dengan lahapnya, terlihat Periuk nasi yang sudah kosong, Rama pun menyudahi makannya, walaupun dia belum kenyang.


Rama dan Rudi merasa tidak enak hati sudah menghabiskan nasi si pria yang baru saja dikenalnya.


"Maaf, Bang. Kamu sudah merepotkan Abang," ujar Rama setelah mereka selesai makan.


"Tidak apa-apa, begitulah kita hidup di dunia ini harus saling tolong menolong, saya bersyukur di saat saya tinggal menyendiri di hutan ini, saya masih bisa berbuat baik dengan sesama," ujar si pria dengan bijak.


Mereka mengobrol sejenak, setelah itu Rama dan Rudi pamit pada si pria, mereka pun melanjutkan pencarian Diska di dalam hutan tersebut.


Meskipun mereka sudah berjalan sangat jauh, mereka belum juga menemukan tanda-tanda keberadaan Diska.


"Ram, sudah dzuhur. Apa kita lebih baik mencari Diska ke arah kampung saja, mana tahu Dia sudah mengarah ke jalan perkampungan," usul Rudi.


"Baiklah, kalau begitu. Lagian pak kepala desa sudah mengutus beberapa orang warga untuk mencari Diska, semoga saja hari ini Diska dapat ditemukan," ujar Rama menyetujui usulan Rudi


Saat shalat dzuhur masuk, dua pemuda itu sampai di perkebunan milik Rama.


Perkebunan yang kini di tanami pohon karet yang sudah tidak terurus sama sekali.


Tanah perkebunan ini satu-satunya warisan yang ditinggalkan kedua orang tua Rama selain rumah.


"Kita istirahat dulu, sambil shalat," ajak Rama pada Rudi sambil duduk di pondok buruk yang terlihat sudah lapuk.


"Iya, aku juga lelah," ujar Rudi.


Mereka beristirahat sejenak di sana, sambil menunggu Rama berwudhu di aliran anak sungai, Rudi merebahkan tubuhnya di atas lantai papan pondok buruk milik Rama.


"Ram, kenapa kebun ini tidak kamu rawat? Paling tidak sekali satu Minggu kamu bisa panen karetnya dan uangnya bisa kamu tabungkan untuk membuka usaha apa gitu untuk memperjuangkan Diska," tanya Rudi pada sahabatnya.


Rudi ingin melihat Rama bertindak dan melakukan sesuatu untuk memperjuangkan cintamu pada Diska," ujar Rudi menasehati Rama.

__ADS_1


"Huhft." Rama menghela napas panjang.


Dia yang baru saja berwudhu tidak langsung melaksanakan shalat tapi dia malah duduk di samping sahabatnya.


"Rud, setiap kali aku berada di kebun ini, aku selalu mengingat tubuh kedua orang tuaku yang bersimbah darah di sana," ujar Rama sambil menunjuk posisi beberapa meter dari tempat mereka duduk.


"Ram, peristiwa itu kan sudah lama," ujar Rudi.


"Walaupun sudah lama, Rud. Tapi, kejadian itu terjadi di depan mataku..Aku tak sanggup mengenang rasa pahit itu," ujar Rama.


Tanpa disadarinya, kini buliran bening mulai membasahi pipinya.


"Ram, kamu harus kuat, demi orang kamu cintai. Sekarang kalau kita tidak bisa menemukan Diska, kamu akan menyesal seumur hidup," ujar Rudi sambil menepuk pundak Rama.


Rama kembali mengingat kisah cintanya dengan Diska yang kandas sebelum dimulai.


"Bro, kamu harus berjanji padaku, jika Diska kembali, kamu akan membuat dia bahagia atau aku yang akan merebut Diska darimu," ujar Rudi.


Rudi pun bangun, lalu dia melangkah menuju anak sungai untuk berwudhu. Rudi tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya itu.


Setahunya selama ini, Rama merupakan pria yang pintar dan jenius. Bisa menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada di desa, tapi untuk masalah percintaan dia tidak tahu apa-apa.


"Memang benar apa yang dikatakan Rudi, aku harus berjuang mempertahankan cintaku pada gadis yang sudah menguasai hatiku saat ini. Diska ... aku berjanji akan memperjuangkan cinta kita semampuku, selagi kamu masih mencintaiku," gumam Rama di dalam hati.


Usai shalat dzuhur, mereka kembali melanjutkan perjalanan mencari Diska.


"Rama! Rudi!" seru salah seorang warga yang sudah dipercaya untuk mencari Diska saat mereka berjumpa di tengah hutan.


"Eh, Mamak Rustam," ujar Rudi dan Rama.


"Bagaimana? Apakah kalian sudah menemukan buk dokter itu?" tanya pria yang di panggil dengan mamak (panggilan untuk seorang paman di daerah Minang) oleh Rama dan Rudi.


Dua pemuda itu pun menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepala.


"Satu malam ini kami sudah berkeliling hutan, tapi kami tidak menemukannya." Rudi menjawab pertanyaan Rustam dengan nada sedih.


"Ya ampun, kemana gadis itu? Seharian ini kami sudah berpencar, dan kami juga belum menemukannya," ujar Rustam.


Dia sudah terlihat lelah berkeliling di hutan tersebut.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan, gadis itu sudah itu dimakan ular," ujar Rustam.


Bersambung...


__ADS_2