Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 21


__ADS_3

Usai shalat isya mereka keluar dari masjid lalu melangkah menuju rumah duka.


Semenjak Diska berada di Desa Tanjung baru kali ini dia ikut pergi takziah karena baru kali ini terjadi kematian di desa tersebut.


Sesampai di rumah duka sudah banyak pelayat yang datang menunjukkan bela sungkawa atas kemalangan yang ditimpa oleh ahli duka.


Diska dan Uci desmi masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang, ini juga merupakan kebiasaan masyarakat di desa bagi para wanita akan masuk rumah melalui pintu belakang sementara itu para pria akan masuk ke rumah melalui pintu depan.


Penduduk desa memang sengaja membangun sebuah rumah dengan dua pintu di depan dan di belakang, pintu belakang akan digunakan saat datang kemalangan atau ada acara-acara tertentu di rumah tersebut.


Uci Desmi masuk ke dalam rumah dengan menyalami semua tamu yang ada di dalam rumah duka, Diska mengikuti apa yang dilakukan oleh Uci Desmi.


Setelah itu mereka pun duduk sejenak di dalam rumah tersebut, para pelayat berbincang-bincang pelan mengenai penyebab meninggalnya almarhum.


Diska hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh Uci Desmi dan pelayat lainnya.


Pada pukul 21.30 malam, Uci Desmi mengajak Diska untuk pulang, mereka berdiri dan bersiap-siap untuk keluar dari rumah duka. Beberapa pelayat lainnya juga ikut keluar dari rumah tersebut.


Saat mereka sudah melangkah pulang, Rama menghampiri mereka.


"Sudah malam, Uci. Aku antar pulang ya takutnya terjadi apa-apa karena sudah malam," tawar Rama.


"Iya, Uci. Biar kami yang mengantar Uci dan Diska," tambah Rudi yang juga ikut menghampiri mereka.


"Oh, boleh juga," ujar Uci Desmi.


"Ya udah, tunggu sebentar ya, Uci kami mengambil sepeda motor kami terlebih dahulu," ujar Rama.


Uci Desmi dan Diska pun menunggu dua pemuda tersebut mengambil sepeda motornya di parkiran, tak berapa lama mereka pun kembali datang menghampiri dua wanita tersebut.


Uci desmi inisiatif untuk menaiki sepeda motor Rudi terlebih dahulu agar Diska dapat berboncengan dengan Rama.


Diska yang masih kesal pada ramah terlihat malas menaiki sepeda motor pemuda itu.


"Jangan lupa pegangan nanti jatuh," ujar Rama sebelum melajukan sepeda motornya.


Diska memegang ujung jok sepeda motor, dia enggan memegang pinggang pemuda desa nan tampan itu, mengingat sikap Rama tadi sore terhadap dirinya.


Rama belum juga melajukan sepeda motornya sebelum Diska memegangi pinggangnya.


"Ayo, aku udah siap," ujar Diska.

__ADS_1


"Kamu pegangan dulu sama aku kalau tidak aku tidak akan melajukan sepeda motornya," ujar Rama membeli alasan.


Akhirnya Diska pun mengalah dan dia memegangi baju Rama untuk berpegangan.


Rama tersenyum lalu dia pun melajukan sepeda motornya mengikuti Rudi yang terlebih dahulu melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah duka menuju kediaman Uci Desmi.


Pemuda Desa itu sengaja melajukan sepeda motornya dengan pelan agar dia dapat berlama-lama bersama dengan si gadis kota.


Mereka sampai di depan pekarangan rumah Uci Desmi setelah wanita paruh baya itu telah masuk ke dalam rumahnya sementara itu Rudi pun juga sudah tidak ada di sana.


Diska turun dari sepeda motor sang pemuda desa.


"Terima kasih," lirih Diska.


Setelah itu dia pun hendak melangkah masuk ke dalam rumah.


"Diska," panggil Rama.


Riska menghentikan langkahnya lalu membalikkan tubuhnya menatap si pemuda desa.


"Mhm," gumam Diska menanggapi panggilan Rama.


"Aku aku minta maaf jika sikapku tadi sore membuatmu tersinggung," udah Rama menyadari bahwa dia sudah melakukan kesalahan terhadap Diska.


"Apakah kamu marah padaku?" tanya Rama semakin merasa bersalah.


"Tidak," jawab Diska singkat.


"Baiklah sebagai permintaan maafku hari Minggu depan aku akan membawamu keliling Ranah Batahan," ujar Rama berusaha mengambil hati si gadis kota.


"Tidak bisa hari Minggu aku akan berangkat ke kota Padang," jawab Diska.


"Ke Padang? Ngapain kamu ke Padang?" tanya Rama heran.


"Senin depan ada pelatihan di kota Padang, aku diutus dari klinik desa untuk mengikuti pelatihan tersebut," jawab Diska.


"Ya sudah kalau begitu, hari Sabtu aku akan mengajakmu jalan, kamu mau, kan?" ujar Rama.


"Baiklah," lirih Diska.


Rama tersenyum sambil menatap dalam paras anggun si gadis kota. Diska pun tertipu malu menerima tatapan sang Pemuda desa.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, masuklah sudah malam. Kamu harus istirahat," ujar Rama.


"Mhm," lirih Diska.


"Maafkan aku," ujar Rama lagi.


Diska pun tersenyum lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Lho, kenapa lama?" tanya Uci Desmi saat Diska sudah masuk ke dalam rumah.


"Itu, Ci. Rama melajukan sepeda motornya pelan banget," jawab Diska.


Diska pun langsung duduk di samping Uci Desmi yang kini sudah memegang al-qur'an di tangannya bersiap hendak mengaji.


"Uci ngomong apa sama Rama tadi?" tanya Diska penasaran.


Entah mengapa Diska yakin Uci Desmi tadi sempat membahas tentang dirinya dengan Rama saat mereka berbicara dengan bahasa daerah.


"Uci enggak ngomong apa-apa, tapi Uci cuma menasehati dia untuk bisa membedakan situasi dalam bersikap apalagi bersama kamu. Itu aja, kok," ujar Uci Desmi menceritakan apa yang dibicarakannya tadi dengan Rama.


"Mhm, Uci Bing nggak bilang kan kalau aku suka dia?" tanya Diska.


Gadis itu tidak mau Rama tahu perasaannya sebelum sang pemuda desa itu yang menyatakan cintanya terlebih dahulu.


"Tidak, Nak. Uci hanya bilang sama dia, kalau dia benar-benar sayang dan cinta sama kamu, dia harus berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkanmu," jawab Uci Desmi.


Diska tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Uci Desmi. Diska berharap Rama mau memperjuangkan cintanya, karena Diska tahu cintanya pada Rama akan jelas-jelas ditolak oleh kedua orang tuanya.


"Diska, asal kamu tahu. Rama itu adalah pemuda yang paling baik Uci kenal dalam hidup Uci. Dia anak yang sopan, Santun, ramah serta bertanggung jawab." Uci Desmi memberitahukan kebaikan Rama selama ini.


"Iya, Uci. Aku tahu, tapi di desa ini pasti banyak gadis-gadis yang menyukainya." Diska memberi pendapat.


"Memang benar, dia adalah Incara para gadis di desa ini jangankan gadis janda pun banyak yang mau sama dia," ujar Uci Desmi lagi.


"Hihi, iya," lirih Diska terkekeh.


"Semoga saja aku dan dia berjodoh, Uci. Aamiin," ujar Diska penuh harap.


"Mhm, aku tidur duluan ya, Ci. Udah ngantuk," ujar Diska sambil menutup mulutnya yang sudah menguap.


"Iya, sana. Besok kamu harus kerja," ujar Uci Desmi.

__ADS_1


Diska berdiri dari duduknya lalu dia pun melangkah menuju kamarnya, dia pun bersiap-siap untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu meraih mimpi nan indah dalam hangatnya malam.


Bersambung…


__ADS_2