Cinta Sang Pemuda Desa

Cinta Sang Pemuda Desa
Bab 13


__ADS_3

Tiba-tiba Diska panik, pikirannya kini tertuju pada sosok Rama yang tak kunjung juga datang.


Dia menghampiri ibu-ibu yang sedang mengobrol itu.


“Maaf, Bu. Tadi ibu bilang ada kecelakaan? Di mana?” tanya Diska panik.


Kedua ibu-ibu yang sedang asyik mengobrol itu mengernyitkan dahinya heran melihat Diska yang tiba-tiba bertanya pada mereka.


“Mhm, iya, Dek. Kejadiannya di persimpangan sana,” jawab salah satu ibu-ibu itu.


“Ibu tahu ciri-ciri korbannya bagaimana?” tanya Diska penasaran.


“Kurang tahu juga sih, Dek. Kalau dilihat penampilannya, dia masih muda kira-kira umurnya sekitar 27-35 tahun,” jawab Ibu itu.


"Kalau tidak salah baju korban tadi menggunakan kaos putih," tambah wanita lainnya.


"Hah?Baju putih? Ya Allah, lindungilah Rama dari segala mara bahaya," gumam Diska di dalam hati


“Mhm, terima kasih ya, Buk,” lirih Diska.


Diska bingung memikirkan cara untuk mendapatkan informasi keadaan Rama saat ini.


Dia masih enggan untuk menghubungi nomor ponsel yang sudah dikirimkan Rudi padanya. Diska tidak tahu harus berbicara apa, jika nanti Rama yang mengangkat panggilannya.


Diska tidak mau, Rama tahu bahwa dirinya kini tengah mengkhawatirkan dirinya.


Malam sudah datang, tapi Rama belum juga sampai. Diska merawat pasiennya dengan hati yang risau memikirkan kondisi Rama saat ini.


“Dek, sepertinya kamu sudah kelelahan, kamu boleh beristirahat di ruangan kami,” ujar salah satu petugas Puskesmas yang berjaga pada malam itu.


“Mhm, terima kasih, Kak. Aku masih ingin menunggu seseorang,” ujar Diska.


“Nungguin siapa? Ini udah malam lho,” ujar petugas tersebut.


“Mhm, teman, Kak. Tadi dia janji mau datang, tapi sampai sekarang belum datang juga, aku takut terjadi apa-apa dengannya,” ujar Diska dnegan wajah yang panik.


“Teman spesial?” tanya petugas itu menebak.


“Ah, enggak juga, Kak,” lirih Diska malu.


Wajah Diska yang berubah merah, membuat si petugas tahu bahwa teman yang ditunggu Diska adalah teman yang spesial baginya.


“Ya udah, biar aku temani di sini,” tawar si petugas itu.

__ADS_1


Mereka pun duduk di bangku panjang yang ada di Puskesmas itu.


“Aku belum pernah lihat kamu di sini, apakah kamu pendatang baru di sini?” tanya si petugas pada Diska.


“Iya, Kak. Saya salah satu mahasiswa kedokteran yang ditugaskan menjadi dokter muda di desa Tanjung,” jawab Diska.


“Oh, kenalkan nama saya Gina. Saya perawat di sini,” ujar Gina sambil mengulurkan tangannya pada Diska.


“Eh, iya, Kak. Nama saya Diska,” ujar Diska menjabat tangan Gina.


Mereka pun asyik mengobrol saling mengenal satu sama lain.


Diska juga menceritakan sosok pria yang kini di tunggunya pada Gina.


“Aku mengkhawatirkannya, Kak. Dia adalah satu-satunya orang yang pertama kali aku kenal di sini,” ujar Diska.


Gina memperhatikan dengan seksama cara Diska menceritakan sosok Rama, terpancar jelas kekaguman di wajah gadis itu.


Gina yang sudah berkeluarga dapat mengerti bahwa Diska sedang jatuh cinta pada Rama.


“Apakah kamu mulai jatuh cinta padanya?” tanya Gina pada gadis yang baru saja dikenalnya.


Diska tersipu malu, entah mengapa dia tak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini di hadapan wanita yang mulai dianggapnya sebagai seorang kakak.


“Aku juga tidak tahu, Kak. Rasa itu hadir begitu saja padanya, padahal dia itu suka membuat aku kesal,” tutur Diska.


“Begitulah cinta, dia datang dan pergi tanpa kita sadari. Hanya hati kita yang bisa merasakannya.” Gina berkata bijak.


“Kak, sekarang aku sangat mengkhawatirkannya, sejak tadi siang dia belum datang. Dia sudah janji akan datang, mungkinkah dia lupa atau dia menjadi korban kecelakaan tadi siang?” ujar Diska sendu.


“Bentar ya, aku coba cari tahu lewat media sosial dulu,” ujar Gina sambil membuka faceb**k di ponselnya.


Saat Gina membuka ponselnya, jantung Diska kembali berdetak dengan kencang, dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Rama.


“Ini ada video kecelakaan tadi siang beredar di fb, tapi wajah si korban tidak jelas, Dek.” Gina memperlihatkan sebuah video yang di dapat dari akun fbnya.


Diska langsung meraih ponsel Gina lalu melihat dengan seksama korban kecelakaan yang ada di video itu.


“Kak, dari pakaiannya hampir sama dengan pakaian yang di pakai Rama tadi,” lirih Diska semakin cemas.


“Bagaimana cara aku bisa ke rumah sakit Simpang Empat ya, Kak?” tanya Diska.


"Menurutku kamu tidak perlu ke sana, nanti aku coba menghubungi temanku yang ada di rumah sakit," ujar Gina.

__ADS_1


Gina pun mulai menghubungi temannya yang bertugas di rumah sakit Simpang empat, dia menanyakan korban kecelakaan yang terjadi tadi siang.


Diska menunggu Gina yang sedang menelpon dengan hati yang risau.


Dari kejauhan seseorang tersenyum memperhatikan wajah cemas Diska terhadap dirinya.


"Apakah kamu saat ini sudah merasakan apa yang kini aku rasakan padamu," gumam Rama di dalam hati.


Rama tidak bisa mendengarkan semua yang diceritakan Diska pada Gina karena dia baru saja datang, yang didengarnya pernyataan Diska yang mengkhawatirkan dirinya.


"Diska, menurut informasi yang didapat oleh temanku. Korban kecelakaan itu bernama Roni, dia mang berasal dari Tanjung. Itu artinya teman kamu baik-baik saja, hanya saja kita tidak tahu di mana keberadaannya saat ini," ujar Gina setelah dia menghubungi salah satu temannya yang bekerja di rumah sakit Simpang Empat.


"Maaf, aku datang terlambat," ujar Rama yang tiba-tiba datang.


Diska membalikkan tubuhnya, dia melihat Rama dalam kondisi kusut dan berantakan.


Diska bergegas menghampiri Rama, tanpa pikir panjang Diska langsung memeluk tubuh kekar Rama.


"Rama," lirih Diska.


Rama terdiam, dia merasa senang melihat ekspresi dan tingkah Diska saat berjumpa dengan dirinya.


Diska pun terisak, dia tak dapat menguasai dirinya yang kini merasa bersyukur masih dapat melihat sosok pemuda desa yang beberapa hari terakhir mulai mengusik pikirannya.


"Hei, ada apa?" tanya Rama heran melihat Diska yang kini menangis.


Diska masih saja menangis, dia semakin memperat pelukannya di tubuh kekar milik pemuda desa tampan itu.


Rama pun mengelus lembut kepala Diska, dia berusaha menenangkan wanita kota yang sedang menangis di dalam pelukannya.


Gina memperhatikan dua insan yang kini ada di hadapannya. Dia hanya bisa tersenyum, ikut senang dengan keadaan Rama yang sejak tadi dikhawatirkan oleh Diska.


Beberapa menit Diska hanyut dalam hangatnya tubuh kekar si pemuda desa.


Aroma maskulin masih menyeruak dari tubuh kekar sang pemuda desa walaupun penampilannya sudah acak-acakan.


"Kamu jahat!" bentak Diska tiba-tiba.


Gadis kota itu mendorong tubuh Rama, hingga Rama terdorong mundur beberapa langkah.


Rama mengernyitkan dahinya, lalu menatap dalam pada Diska yang kini tengah menatap tajam pada dirinya.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2