
Diska mengurai pelukan sang dokter muda nan tampan.
"Bang Rama," lirih Diska merasa bersalah.
"Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu, jaga diri baik-baik di sini," ujar Rezi sambil mengusap lembut kepala Diska.
Diska hanya diam, saat ini gadis itu tengah bingung harus berbuat apa karena dia menyadari Rama sedang bertanya-tanya dengan keberadaan Rezi bersamanya.
"Bye," seru Rezi saat dia sudah berada di dalam mobil.
Dokter tampan itu melambaikan tangannya, mengabaikan keberadaan Rama yang berdiri tak jauh dari Diska.
Diska melepas kepergian Rezi dengan senyuman yang terpaksa.
Saat itu, Rezi harus berangkat secepatnya karena dia takut ketinggalan pesawat, dia penasaran dengan keberadaan Rama, tapi dia tak sempat lagi mempertanyakannya pada Diska.
Diska buru-buru menghampiri Rama, dia langsung memeluk tubuh kekar sang pemuda desa yang sudah sangat dirindukannya.
Kegiatan Diska selama pelatihan yang padat membuat dirinya jarang berkomunikasi dengan pria yang dicintainya.
Rama melepaskan pelukan Diska secara perlahan, dia benar-benar kecewa pada gadis kota yang telah merajai hatinya saat ini.
"Bang," lirih Diska.
"Maaf, aku sudah salah mencintaimu," lirih Rama kecewa.
Rama menundukkan kepalanya lalu melangkah meninggalkan Diska yang bingung dengan sikap Rama.
"Bang," panggil Diska.
Dia berusaha menahan Rama, tapi Uci Desmi menahan Diska.
"Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu, setelah itu kamu bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya," ujar Uci Desmi.
Diska menatap dalam pada Uci Desmi, dia memelas berharap Uci Desmi percaya terhadap dirinya.
Wanita paruh baya itu mengangguk.
Diska melangkah menuju kamarnya, dia mengambil pakaian gantinya lalu dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa sangat lengket.
Selama gadis kota itu membersihkan diri, wajah Rama yang kecewa terus melintas di benaknya.
Diska mempercepat kegiatan mandinya, usai mandi Diska langsung mengambil ponselnya, dia mencoba menghubungi nomor ponsel Rama.
Satu kali panggilan tersambung, tapi Rama tak menjawab panggilan tersebut. Diska kembali mengulangi panggilan tersebut. Namun, kini ponsel Rama sudah tidak aktif.
Hati Diska semakin risau, dia merasa Rama marah besar padanya.
"Bang, apakah kamu cemburu? Apakah kamu sudah salah paham dengan apa yang terjadi antara aku dan Rezi," gumam Diska di dalam hati.
"Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Diska pada dirinya sendiri.
"Apakah aku harus menyusulnya? Tapi, aku harus menyusulnya ke mana?" Diska terus bermonolog di dalam hati.
Diska melangkah mondar mandir di dalam kamarnya sambil berpikir apa yang sebaiknya dilakukannya agar hubungannya dengan Rama bisa kembali membaik.
"Mungkin lebih baik aku minta bantuan Rudi untuk mencarinya," gumam Diska di dalam hati.
Diska pun mencoba menghubungi Rudi.
__ADS_1
"Halo, Rud," ujar Diska saat panggilannya sudah tersambung.
"Iya, Buk Dokter," jawab Rudi di seberang sana.
"Kamu di mana?" tanya Diska terus terang.
"Aku lagi di kebun, Buk Dokter, apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Rudi heran.
"Rudi, aku ingin bertemu bang Rama, tapi aku harus cari dia ke mana?" keluh Diska.
"Oh, aku sebentar lagi pulang. Setelah ashar aku akan ke sana," ujar Rudi.
"Baiklah, aku akan tunggu kamu di sini," ujar Diska.
Diska memutus panggilan dengan Rudi, setelah itu dia melempar ponselnya di atas kasur.
Diska melangkah keluar menemui Uci Desmi. Sejak dia datang dia belum mengobrol banyak dengan wanita paruh baya yang sudah dianggap Diska sebagai ibunya.
"Uci," panggil Diska pada wanita paruh baya yang kini sedang asyik dengan jahitannya.
Uci Desmi menghentikan kegiatannya sejenak, dia menoleh pada gadis kota itu.
Diska duduk di samping Uci Desmi.
"Ada apa? Kamu memikirkan Rama?" tanya Uci Desmi pada Diska.
Diska mengangguk.
"Apakah Bang Rama marah padaku?" tanya Diska pada Uci Desmi.
"Mhm, entahlah. Tapi, kamu harus bicarakan masalah ini baik-baik dengannya. Rama itu pemuda yang baik, cobalah berbicara dengannya pelan-pelan," ujar Uci Desmi.
"Oh, iya, Uci. Aku bawa oleh-oleh untuk Uci, tunggu sebentar, ya," ujar Diska.
Diska melangkah menuju ruang tamu yang mana di sana barang-barang bawaannya dari Padang masih menumpuk di sana.
"Nah, ini aku belikan untuk, Uci." Diska memberikan sebuah paper bag besar untuk Uci Desmi.
"Wah, ini apa? Kantongnya besar sekali." Uci Desmi membuka paper bag yang diberikan Diska.
Wanita paruh baya itu mengeluarkan sebuah gamis mewah berwarna hitam dengan dihiasi manik-manik indah.
"Ya ampun, gamis ini cantik sekali," ujar Uci Desmi mengagumi gamis yang ada di tangannya.
Dia berdiri lalu mencoba gamis tersebut di hadapan Diska.
"Gamis ini cocok sekali dengan ukuran Uci, kamu memang pandai memilihkannya untuk Uci," ujar Uci Desmi setelah gamis itu melekat di tubuhnya.
Diska tersenyum.
Diska mengeluarkan satu gamis borkat berwarna maroon dengan sebuah jilbab berwarna senada.
"Sekarang coba yang ini, Uci," ujar Diska mengulurkan gamis dan hijab di tangannya.
Wanita paruh baya itu pun mencoba gamis yang diberikan Diska.
"Wah, ini juga bagus dan pas dengan Uci," ujar Uci Desmi senang mendapatkan hadiah dari Diska.
"Ini juga ada beberapa daster di rumah dan longdress santai untuk pergi pengajian," ujar Diska pada Uci Desmi sambil mengangkat paper bag yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Nak. Kamu tidak perlu repot-repot memberikan semua ini buat Uci," ujar Uci Desmi.
"Enggak apa-apa, Uci. Kebetulan aku kemarin pergi ke Transmart, jadi sekalian aku belikan ini buat Uci," ujar Diska.
"Terima kasih ya, Nak." Uci Desmi memeluk tubuh.
"Sama-sama, Uci." Diska membalas pelukan wanita paruh baya itu.
Setelah itu mereka mengobrol sejenak, Diska menjelaskan lebih detail hubungannya dengan Rezi pada Uci Desmi, berharap Uci Desmi percaya dengan rasa yang ada di hatinya terhadap Rama.
"Uci paham, semoga Rama juga mengerti dengan hal ini setelah kamu menjelaskannya," ujar Uci Desmi.
Setelah ashar, Diska menunggu Rudi di teras rumah sambil mengobrol dengan Uci Desmi.
Tak berapa lama Rudi datang, dia memarkirkan sepeda motornya di pinggir jalan di depan pekarangan rumah Uci Desmi.
"Itu Rudi sudah datang," ujar Uci Desmi.
"Iya, Uci." Diska berdiri dan melangkah masuk ke rumah mengambil sebuah paper bag menengah.
"Pa kabar, Uci." Rudi menyapa Uci Desmi lalu dia pun duduk di samping Uci Desmi.
"Baik, Rud. Kamu gimana kabarnya?" tanya Uci Desmi.
"Baik, Uci," sahut Rudi.
"Rud, ini sedikit oleh-oleh untukmu," ujar Diska sambil mengulurkan sebuah paper bag pada Rudi.
"Hah, aku dapat oleh-oleh juga?" ujar Rudi basa-basi.
"Sedikit," lirih Diska sambil tersenyum.
"Terima kasih, ya. Yuk, berangkat," ajak Rudi.
Mereka pun berpamitan pada Uci Desmi, lalu berangkat menuju rumah Rama.
"Kayaknya, dia tidak di rumah," ujar Rudi saat melihat rumah Rama tertutup rapat.
"Lalu kita cari ke mana dia?" tanya Diska pada Rudi.
"Ayo, kita lihat dia ke tempat dia biasa nongkrong," ujar Rudi.
Rudi kembali melajukan sepeda motornya, dia membawa Diska ke pinggir sungai yang airnya terlihat dangkal, di pinggir sungai tersebut terdapat batu-batu besar.
Di sana terlihat Rama sedang duduk sambil melempar batu-batu kecil ke dalam sungai.
"Tuh," lirih Rudi pada Diska.
"Thanks ya, Rud," ujar Diska.
"Sama-sama, aku balik dulu, ya," ujar Rudi.
Diska melangkah menghampiri Rama yang menghadap ke sungai.
"Bang," lirih Diska memanggil Rama.
Rama menoleh ke belakang, dia melihat Diska lalu memalingkan wajahnya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rama.
__ADS_1
Bersambung...